ADVERTISEMENT
Kamis, Agustus 27, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Hukrim Info Terkini

Sikap Politik PDIP Papua, Tolak Pilkada oleh DPRD, Sistemnya yang Perlu Dirubah

“Kalau ada kandidat yang membeli suara, tangkap. Kalau ada yang bermain uang, tindak tegas. Jangan sistemnya yang salah, lalu rakyat yang dihukum”.

18 Januari 2026
0
Sikap Politik PDIP Papua, Tolak Pilkada oleh DPRD, Sistemnya yang Perlu Dirubah

Benhur Tomi Mano (BTM), Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Papua (foto: istimewa/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

JAYAPURA, Koranpapua.id- Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) harus tetap dilaksanakan secara langsung sebagai wujud kedaulatan rakyat.

Karena alasan itu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Papua secara tegas menolak wacana Pilkada dilakukan melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

ADVERTISEMENT

Sikap politik itu disampaikan oleh Benhur Tomi Mano (BTM), Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Papua di Jayapura, Minggu 18 Januari 2026.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Menurut BTM, yang perlu dirubah dalam Pilkada adalah sistem dan pengawasan yang perlu dirubah.

Baca Juga

Polres Mimika Gelar Konser Amal untuk Korban Gempa Flores, 1.000 Lilin Jadi Simbol Solidaritas

Tindak Lanjuti Edaran Bupati, Dishub Mimika Tertibkan Truk Pengangkut Material

Ia mengakui bahwa Pilkada langsung banyak terdapat kelemahan, seperti tingginya biaya politik, praktik politik uang, potensi konflik sosial, hingga ketegangan di tengah masyarakat.

Meski demikian, kelemahan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk mencabut hak rakyat dalam menentukan pemimpin di daerah.

BTM menegaskan bahwa demokrasi tidak boleh disederhanakan hanya demi kenyamanan elite atau efisiensi kekuasaan.

Karena menurutnya, Pilkada langsung bukan persoalan siapa yang paling nyaman mengatur, melainkan menyangkut hak fundamental rakyat untuk memilih pemimpinnya sendiri.

“Bukan soal mau enak di siapa, bukan soal siapa yang paling nyaman mengatur, tetapi soal hak rakyat yang tidak boleh dipangkas,” tegasnya.

“Demokrasi lahir dari kedaulatan rakyat, bukan dari keputusan segelintir orang di ruang tertutup,” tandas BTM.

Dikatakan, sikap politik ini sejalan dengan hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDI Perjuangan yang secara tegas menyatakan bahwa sistem pilkada langsung harus tetap dipertahankan.

Bagi PDI Perjuangan, isu ini bukan persoalan kecil atau sekadar polemik musiman, melainkan menyangkut prinsip dasar demokrasi.

“Kalau hari ini hak rakyat memilih pemimpin daerah dicabut, maka besok lusa hak rakyat yang lain bisa ikut dicabut”.

“Ini adalah langkah mundur, dan kami tidak akan ikut mendorong Papua berjalan mundur dalam demokrasi,” ujarnya.

BTM menekankan bahwa pelaksanaan Pilkada di Papua tidak hanya sekadar kontestasi menang dan kalah, tetapi juga menyangkut harga diri masyarakat.

Termasuk relasi sosial antar kampung, antar keluarga, dan antar kelompok. Sebab Papua membutuhkan pemimpin yang memiliki legitimasi kuat dari rakyat, bukan pemimpin yang lahir dari kompromi elite politik.

“Papua tidak bisa dipimpin dengan legitimasi yang setengah-setengah. Pemimpin daerah harus berdiri di atas mandat rakyat, bukan mandat hasil lobi-lobi politik,” pungkasnya.

PDI Perjuangan Papua juga menilai bahwa apabila pemilihan kepala daerah dialihkan ke DPRD, maka persoalan tidak akan selesai, melainkan hanya berpindah tempat.

Konflik yang semula terjadi di lapangan berpotensi bergeser ke ruang-ruang tertutup di gedung DPRD, dengan tingkat transparansi yang lebih rendah.

PDI Perjuangan tidak menginginkan Papua dipimpin oleh kepala daerah yang lahir dari kesepakatan di belakang meja, sementara rakyat hanya menjadi penonton dan lima tahun sekali diminta diam menerima keputusan.

“Kalau rakyat tidak diberi ruang memilih, maka rakyat akan merasa tidak punya pemimpin. Ini berbahaya karena kepercayaan publik terhadap pemerintahan bisa runtuh,” tambahnya.

Terkait alasan mahalnya biaya pilkada langsung, PDI Perjuangan Papua menilai bahwa negara seharusnya hadir untuk memperbaiki sistem, bukan justru memangkas hak rakyat.

Pemerintah didorong untuk memperketat regulasi, memperkuat pengawasan, menindak tegas politik uang, merapikan data pemilih, memperkuat peran KPU dan Bawaslu, serta memastikan netralitas aparat.

“Kalau ada kandidat yang membeli suara, tangkap. Kalau ada yang bermain uang, tindak tegas. Jangan sistemnya yang salah, lalu rakyat yang dihukum,” tegas Benhur.

Ia juga menolak anggapan bahwa pemilihan kepala daerah oleh DPRD otomatis akan lebih bersih.

Menurutnya, tidak ada jaminan sistem tersebut bebas dari praktik kotor, bahkan bisa lebih rawan karena minim pengawasan publik. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Tim Gabungan Padamkan Karhutla di Tanah Merah Baru, 75 Personel Dikerahkan

Tim Gabungan Padamkan Karhutla di Tanah Merah Baru, 75 Personel Dikerahkan

26 Agustus 2026
Satgas Pasgat Pos Koroway Batu Hadir Menjaga dan Mengabdi: Semboko untuk Rakyat, Kasih untuk Papua

Satgas Pasgat Pos Koroway Batu Hadir Menjaga dan Mengabdi: Semboko untuk Rakyat, Kasih untuk Papua

26 Agustus 2026
Rangkul Pemuda Moskona, Kapolres Teluk Bintuni Dorong Kamtibmas Lewat Dialog dan Kepedulian

Rangkul Pemuda Moskona, Kapolres Teluk Bintuni Dorong Kamtibmas Lewat Dialog dan Kepedulian

26 Agustus 2026
Polres Mimika Gelar Konser Amal untuk Korban Gempa Flores, 1.000 Lilin Jadi Simbol Solidaritas

Polres Mimika Gelar Konser Amal untuk Korban Gempa Flores, 1.000 Lilin Jadi Simbol Solidaritas

26 Agustus 2026
Cegah Bentrok Susulan, Polres Mimika Evakuasi 200 Pendulang di Kawasan Mile 21

Cegah Bentrok Susulan, Polres Mimika Evakuasi 200 Pendulang di Kawasan Mile 21

26 Agustus 2026
Satpol PP Mulai Bongkar Bangunan Liar di Fasilitas Umum Timika

Satpol PP Mulai Bongkar Bangunan Liar di Fasilitas Umum Timika

26 Agustus 2026

POPULER

  • Bupati Mimika Soroti P3K “Kepala Batu”, Kinerja Buruk Bisa Berujung Pemberhentian

    Bupati Mimika Soroti P3K “Kepala Batu”, Kinerja Buruk Bisa Berujung Pemberhentian

    643 shares
    Bagikan 257 Tweet 161
  • 26 Pejabat Polres Mimika Dimutasi, Wakapolres hingga Kapolsek Berganti, Ini Daftarnya

    613 shares
    Bagikan 245 Tweet 153
  • 500 Hektare Perkebunan Kopi Arabika akan Dikembangkan di Papua Tengah

    543 shares
    Bagikan 217 Tweet 136
  • Terima Paket dari Jayapura, IRT di Timika Ditangkap Bawa 10 Paket Ganja

    527 shares
    Bagikan 211 Tweet 132
  • Lima Sekolah di Mimika Bersiap Rebut Predikat Adiwiyata Nasional

    525 shares
    Bagikan 210 Tweet 131
  • Tindak Lanjuti Edaran Bupati, Dishub Mimika Tertibkan Truk Pengangkut Material

    523 shares
    Bagikan 209 Tweet 131
  • Air Bersih Macet, Warga Manoware Mimika Kembali Berburu Mata Air

    521 shares
    Bagikan 208 Tweet 130
Next Post
Polisi Bekuk Pelaku Perkelahian Maut yang Tewaskan Mahasiswa Papua Tengah di Bantul

Polisi Bekuk Pelaku Perkelahian Maut yang Tewaskan Mahasiswa Papua Tengah di Bantul

Kasus Dugaan Korupsi Aero Sport di Mimika: Empat Tersangka Diserahkan ke Lapas Abepura

Kasus Dugaan Korupsi Aero Sport di Mimika: Empat Tersangka Diserahkan ke Lapas Abepura

Piala Dankodaeral X 2026 Resmi Diperebutkan, Mayjen Werijon: Satukan Masyarakat Papua Lewat Sepak Bola

Piala Dankodaeral X 2026 Resmi Diperebutkan, Mayjen Werijon: Satukan Masyarakat Papua Lewat Sepak Bola

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id