TIMIKA, Koranpapua.id – Warga Kampung Manoware, Distrik Amar, Kabupaten Mimika, kembali mengandalkan mata air di luar kampung setelah fasilitas pengolahan air minum yang dibangun pemerintah tak lagi berfungsi optimal.
Satu mesin dilaporkan rusak, sementara mesin lainnya bekerja lambat hingga membutuhkan empat sampai lima hari untuk mengisi tangki.
Kepala Kampung Manoware, Amandus Timakupe, mengatakan kondisi fasilitas tersebut mulai bermasalah sejak Desember 2025 dan semakin parah sejak Januari 2026.
“Panel sero itu satunya mati, sementara yang berfungsi hanya satu saja. Jadi, pengisian di tangki ini tidak bisa penuh satu hari, jadi empat atau lima hari baru bisa penuh,” kata Amandus kepada koranpapua.id, Senin, 24 Agustus 2026.
Kondisi itu membuat warga tak bisa mengandalkan fasilitas air minum di kampung. Mereka terpaksa mencari sumber air di Kepala Air Ore dan Kepala Air Iqua.
Untuk mencapai lokasi tersebut, warga menggunakan perahu bermesin Johnson. Perjalanan pulang-pergi memakan waktu sekitar satu jam dan membutuhkan sedikitnya 20 liter bahan bakar.
“Masalah kondisi masyarakat di sini susah air minum. Akhirnya kembali ke awal lagi mereka timba, cari minyak sekitar 20 liter, baru pergi timba air di kali, di kepala air sana,” ujarnya.
Amandus mengatakan persoalan tersebut bukan hanya menyangkut kerusakan mesin. Fasilitas air minum juga tidak mendapat pemeliharaan yang berjalan secara rutin dan belum memiliki operator khusus.
Selama ini, pemerintah kampung hanya membantu pemeliharaan secara sukarela. Menurut Amandus, fasilitas tersebut juga belum diserahkan secara resmi kepada pemerintah kampung sehingga pengelolaannya masih menjadi tanggung jawab dinas terkait.
Karena itu, Ia meminta pemerintah daerah turun langsung ke Manoware untuk memeriksa kondisi fasilitas, memperbaiki mesin yang rusak, serta memastikan sistem pemeliharaan berjalan.
“Yang kami mau, agar pemerintah terkait datang kontrol lagi supaya aktifkan mesin air minum ini dengan kekurangannya. Datang lihat supaya bisa diaktifkan dan air normal kembali, masyarakat bisa timba minum di situ lagi,” katanya.
Amandus juga meminta pemerintah melibatkan warga lokal sebagai operator sekaligus memberikan pelatihan pemeliharaan. Dengan begitu, fasilitas dapat dirawat secara rutin dan tidak kembali terbengkalai ketika mengalami kerusakan.
“Dari kampung mau itu supaya dinas datang langsung, datang ambil data di masyarakat supaya kepala kampung kasih masuk anak-anak lokal, anak-anak di situ, supaya mereka bisa jaga,” ujarnya.
Kesulitan air di Manoware terjadi ketika Indonesia menghadapi periode El Niño. Berdasarkan perkiraan BMKG, fenomena El Nino tahun ini diprediksi berlangsung sejak pertengahan 2026 hingga awal kuartal pertama 2027. Puncak intensitasnya diperkirakan terjadi pada akhir 2026.
Dampak kering di Indonesia diproyeksikan mulai mereda saat memasuki masa transisi menuju musim hujan pada Oktober 2026. Namun bagi warga Manoware, persoalan air bersih sudah terasa sekarang.
Ketika fasilitas air minum tak mampu bekerja normal, warga kembali mengeluarkan biaya dan menempuh perjalanan dengan perahu hanya untuk mengambil air dari mata air di luar kampung. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










