FAKFAK, Koranpapua.id- Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA menyerukan untuk melawan semua tindakan ketidakadilan yang terjadi di Tanah Papua.
Seruan ini disampaikan Uskup Bernadus dalam khotbahnya ketika memimpin perayaan syukur 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua yang berlangsung di Pulau Bonyom, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, Sabtu 23 Mei 2026.
Perayaan tersebut juga dirangkaikan dengan ungkapan syukur satu tahun tahbisan episkopal Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA.
Uskup Bernardus menyampaikan pesan mengenai pentingnya keberanian moral, perjuangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan serta tanggung jawab menjaga alam dan martabat masyarakat Papua di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi saat ini.
Momentum tersebut menjadi bagian dari napak tilas sejarah masuknya Gereja Katolik di Tanah Papua melalui misionaris pertama, Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville, SJ, yang tiba di Kampung Sekru, Fakfak, pada 22 Mei 1894.
Dari wilayah tersebut, ajaran Katolik kemudian berkembang ke berbagai daerah di Papua.
Mengawali khotbahnya, Uskup Bernardus mengajak umat merenungkan keteladanan Rasul Petrus dan Rasul Paulus sebagai fondasi Gereja serta teladan iman bagi umat Kristiani.
Menurutnya, Rasul Petrus menunjukkan keberanian dan kesetiaan dalam menjalankan panggilan iman meski pernah mengalami kegagalan.
“Petrus memiliki semangat keberanian dan pengorbanan. Walaupun pernah jatuh, ia bangkit kembali dan memberikan hidupnya bagi Kristus. Spiritualitas Petrus harus menjadi kekuatan Gereja saat ini,” ujarnya.
Sementara Rasul Paulus, lanjutnya, menjadi teladan pengabdian dan pengorbanan melalui pelayanan yang dilakukan dengan penuh kesungguhan.
“Paulus menunjukkan semangat perjuangan, pengorbanan, dan keberanian menghadapi tantangan demi pewartaan Injil,” katanya.
Di hadapan ribuan umat yang hadir, Uskup Bernardus juga menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Papua.
Ia mengatakan perbedaan budaya, bahasa, maupun latar belakang sosial seharusnya dipandang sebagai kekayaan yang memperkuat persaudaraan, bukan menjadi pemicu konflik.
“Perbedaan bukan masalah untuk dijadikan konflik. Perbedaan adalah kekayaan yang harus diselesaikan dengan iman, harapan, dan cinta kasih,” tegasnya.
Dalam bagian khotbahnya, Uskup Bernardus juga menyoroti kondisi sosial Papua dan mengajak seluruh umat, tokoh masyarakat, serta para pemangku kebijakan agar memiliki keberanian menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan keadilan.
Menurut dia, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan, keutuhan ciptaan, dan keberlanjutan lingkungan.
“Kita harus memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, keutuhan ciptaan, dan keindahan alam Papua,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam kepentingan yang dapat merusak lingkungan dan mengabaikan martabat manusia.
Pesan tersebut secara khusus disampaikan kepada para pemimpin daerah, unsur pemerintahan, serta tokoh masyarakat yang hadir dalam perayaan itu.
Uskup juga menegaskan bahwa peringatan 132 Tahun Misi Katolik tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan.
Tetapi juga menjadi momentum menghidupkan kembali semangat para misionaris yang datang ke Papua dengan pengorbanan besar.
Ia mengenang perjalanan para misionaris yang meninggalkan tanah kelahiran mereka demi melayani masyarakat Papua dalam berbagai keterbatasan.
“Mereka datang dengan semangat pengabdian dan pelayanan karena panggilan iman,” ujarnya.
Menutup khotbahnya, Uskup Bernardus mengajak seluruh umat untuk menjaga tanah Papua, melindungi hutan, tanah adat, budaya, serta martabat masyarakat Papua sebagai warisan yang harus dipertahankan.
Suasana haru menyelimuti Pulau Bonyom ketika ribuan umat berdiri dan bersama-sama menyanyikan lagu Hai Tanahku Papua.
Lagu tersebut menandai simbol kecintaan terhadap Papua dan komitmen menjaga warisan iman yang telah tumbuh selama 132 tahun di Bumi Cenderawasih. (Redaksi)







