TIMIKA, Koranpapua.id– Kunjungan ke Jakarta atau kota-kota di luar Papua tampaknya tak lagi menjadi prioritas.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika kini mendorong Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk lebih sering turun langsung menjalankan tugas do wilayah pedalaman.
Dorongan ini sejalan dengan visi dan misi Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong, yaitu pembangunan dari kampung ke kota.
Untuk mendukung kebijakan itu, Bupati Johannes Rettob, menetapkan peraturan yang menaikkan uang perjalanan dinas dalam daerah secara signifikan.
Dari sebelumnya sekitar Rp1 juta per hari, kini angkanya meningkat menjadi Rp3,5 juta per hari. Kebijakan ini diumumkan saat pembukaan Forum Perangkat Daerah 2026 di Kantor Bappeda, Kamis 26 Maret 2026
“Sekarang kita berikan sampai Rp3,5 juta per hari. Dari yang sebelumnya hanya Rp1 juta,” kata Bupati.
Namun, kenaikan ini bukan tanpa tujuan. Pemerintah ingin agar ASN benar-benar hadir di tengah masyarakat, terutama di daerah-daerah yang selama ini jarang tersentuh.
“Bapak Ibu harus turun ke daerah. Bertemu dan lihat langsung apa yang dibutuhkan masyarakat,” tegasnya.
Tak hanya soal uang harian, pemerintah juga mempertimbangkan kondisi riil di lapangan. Di banyak wilayah pedalaman Mimika, fasilitas penginapan seperti hotel masih belum tersedia.
Sebagai solusi, ASN tetap mendapatkan tambahan biaya sebesar 30 persen dari standar hotel, meski tidak benar-benar menginap di hotel.
“Uang penginapan tetap ada, kita berikan 30 persen dari standar hotel di luar uang harian,” jelasnya.
Di sisi lain, Bupati juga mengingatkan agar kebijakan ini tidak disalahgunakan.
Ia bahkan memberikan peringatan keras kepada jajarannya. “Awas kalau tidak turun ke daerah,” ujarnya mengingatkan.
Harapannya, bukan hanya pelayanan publik yang meningkat, tetapi juga perputaran ekonomi di wilayah pedalaman ikut bergerak.
Jika sebelumnya perjalanan dinas lebih banyak terserap ke luar daerah, kini arah kebijakan diubah.
“Nanti perjalanan ke Jakarta mungkin berkurang, tapi ke daerah harus lebih banyak. Kita ingin ekonomi masyarakat pedalaman hidup,” pungkasnya. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru







