TIMIKA, Koranpapua.id- Tim SAR gabungan akhirnya menuntaskan operasi penyelamatan dengan mengevakuasi empat jenazah korban kecelakaan helikopter milik PT Intan Angkasa yang jatuh dalam penerbangan Ilaga–Mimika, Kamis 11 September 2025.
Empat jenasah dievakuasi ke Timika menggunakan dua helikopter sekitar pukul 13.40 WIT. Saat ini seluruh korban telah berada di RSUD Mimika untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut.
Dalam konferensi pers usai evakuasi, Charles Y. Batlajery Kasubsie Operasi SAR Timika, menegaskan bahwa keberhasilan operasi ini merupakan hasil kerja sama lintas sektor.
“Alhamdulillah semua yang kita rencanakan dari awal, mulai dari survei hingga pelaksanaan keamanan, dapat dilaksanakan dengan aman dan lancar,” ujarnya.
Dalam operasi ini pihaknya juga melibatkan pesawat Karakal untuk air cover, serta menyiagakan personel TNI AD dan Polres di wilayah Jila.
Ia menuturkan, proses evakuasi dimulai sejak pagi dengan dukungan penuh 2 helikopter milik PT Intan Angkasa, serta 2 Karakal milik TNI AU yang mengawal dari udara.
“Tim diturunkan menggunakan teknik one skate landing, kemudian melaksanakan evakuasi terhadap keempat korban yang seluruhnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia,” katanya.
Kepala Kantor UPBU Mozes Kilangin Timika, Muhammad Nafiek, memberikan apresiasi atas sinergi seluruh pihak.
“Dalam waktu kurang dari 24 jam, seluruh korban berhasil dievakuasi. Tentunya kita semua berduka atas kehilangan empat rekan kita,” ungkapnya.
“Keberhasilan operasi ini menunjukkan kerja sama yang efektif antara seluruh stakeholder,” tambahnya.
Dukungan serupa juga datang dari Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman, yang menegaskan kesiapan aparat keamanan di lapangan.
“Polres Mimika berkoordinasi dengan Satgas TNI–Polri untuk memastikan proses evakuasi berjalan tanpa gangguan. Alhamdulillah semua dapat terlaksana dengan aman dan lancar,” katanya.
Sementara itu, Komandan Lanud Yohanis Kapiyau Timika, Kolonel Pnb Asri Efendi Rangkuti, menguraikan kondisi medan yang menyulitkan tim.
“Helikopter jatuh di jurang dengan vegetasi hutan yang lebat. Tidak ada area pendaratan sehingga tim harus menggunakan metode one skate landing”.
Disampaikan, saat tiba di lokasi, kondisi helikopter sudah terbakar. Dua korban pertama yang ditemukan adalah pilot dan teknisi (HLO), disusul dua penumpang lainnya.
Setelah proses identifikasi di RSUD, seluruh jenazah akan segera diserahkan kepada pihak keluarga.
Tragedi ini menambah daftar panjang kecelakaan penerbangan di Papua, wilayah yang dikenal memiliki medan berat dan cuaca ekstrem.
Meski demikian, keberhasilan evakuasi ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi semua unsur dalam menghadapi situasi darurat. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










