Ditulis Oleh Yudas Degei, Mahasiswa Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa Deiyai
OPINI – Setiap anak yang lahir ke dunia merupakan titipan paling berharga dari Tuhan kepada orang tua. Anak bukan sekadar rezeki, melainkan amanah suci yang harus dijaga dan dididik dengan penuh tanggung jawab.
Sering kali kita berpikir, tugas mendidik adalah urusan sekolah. Bahwa ketika anak sudah memakai seragam dan duduk di bangku kelas, maka beban itu sudah beralih ke pundak guru. Padahal, tidak demikian.
Sekolah menumbuhkan ilmu, tetapi rumah menumbuhkan jiwa. Guru membuka wawasan pikiran, tetapi kita, orang tua, yang membentuk isi hati.
Anak tidak belajar dari apa yang kita katakan. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat. Ketika kita menghormati orang lain, mereka belajar sopan santun. Ketika kita sabar, mereka belajar pengertian. Ketika kita jujur meski sulit, mereka belajar keberanian.
Sebaliknya, jika di rumah teriakan menggantikan nasihat dan ketidakpedulian menggantikan perhatian, maka itulah yang tertanam paling dalam.
Waktu yang kita luangkan untuk mendengarkan cerita mereka, pelukan yang menguatkan saat mereka jatuh, nasihat lembut yang mengingatkan saat mereka salah, semua itu jauh lebih berharga daripada harta yang ditabungkan.
Ilmu bisa dicari di mana saja, tetapi rasa dicintai, rasa aman, dan rasa berharga hanya tumbuh di samping ayah dan ibunya.
Tidak ada siapa pun yang dapat menggantikan peran orang tua. Masa depan anak tidak ditentukan sepenuhnya oleh nilai di atas kertas, melainkan oleh akhlak yang tumbuh di rumah sejak hari pertama.
Maka, marilah kita sadari sepenuhnya: mendidik anak bukan kewajiban yang bisa diserahkan kepada orang lain. Itu adalah tanggung jawab pertama, terbesar, dan paling mulia yang kita emban.
Jangan biarkan kesibukan melupakan hal ini. Harta bisa habis, kedudukan bisa hilang, tetapi kebaikan yang kita tanamkan ke dalam diri anak akan terus hidup, menjadi amal baik yang tak terputus.
Anak adalah cermin kita. Jika kita ingin mereka tumbuh menjadi orang yang baik, bijaksana, dan berguna, mulailah dari diri kita sendiri.
Di tangan kita, masa depan mereka mulai terbentuk. Di rumah kita, fondasi kehidupan mereka diletakkan.
Semoga kita semua diberi kekuatan, kesabaran, dan kebijaksanaan untuk menjaga amanah ini sebaik-baiknya. Karena tak ada kebahagiaan yang lebih indah daripada melihat anak-anak tumbuh menjadi kebanggaan, bukan hanya bagi keluarga, melainkan bagi sesama dan bagi Tuhan.
Demikian tulisan ini saya sampaikan sebagai pengingat bersama. (*









