BOVEN DIGOEL- Sebagian besar generasi yang lahir tahun 2000 atau dikenal dengan Gen Z, mungkin belum mengetahui tentang sejarah Penjara Tua yang berada di Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan.
Karena itu sudah menjadi kewajiban semua pihak termasuk pemerintah untuk kembali membuka sejarah itu.
Ini bertujuan agar generasi Papua juga memiliki rasa bangga bahwa Papua sejak tempo dulu, sudah masuk dalam proses menuju kemerdekaan Republik Indonesia.
Bertepatan dengan momentum 1 Mei 2026 atau yang dikenal dengan Hari Integrasi Papua ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Sekda Papua Selatan, Ferdinandus Kainakaimu mengunjungi lokasi penjara tua.
Penjara yang dijadikan sebagai tempat pengasingan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan termasuk Bung Hatta yang berlokasi di Kabupaten Boven Digoel.
Dalam kunjungan itu, Sekda Ferdinandus mengunjungi setiap ruang pengasingan dan sempat duduk di kursi yang berada di sekitar area penjara tua itu.
Dia juga mengamati tulisan berbahan cat putih di sepotong papan yang digantung persis didepan setiap ruang pengasingan.
Disela-sela kunjungan, Sekda Ferdinandus meminta agar setiap ruang pengasingan diberi nama, semisal Ruang Pengasingan Bung Hatta, begitupun dengan nama pejuang lainnya.
Dengan begitu, wisatawan yang berkunjung dapat mengetahui ruang Bung Hatta serta para tokoh kemerdekaan lainnya diasingkan diruang mana saja.
“Nama-nama tokoh pejuang kemerdekaan yang ditawan disitu juga harus ditulis satu persatu lalu diletakkan dibagian depan penjara tua tersebut,” usul Sekda Ferdinandus seperti dukutip dari Web Pemprov Papua Selatan, Minggu 3 Mei 2026.
Sekda Ferdinandus juga meminta agar dijelaskan juga nama masing-masing bahan bangunan yang digunakan untuk membangun tempat pengasingan ini.
Dengan penjelasan itu, akan sangat membantu para pengunjung untuk mengetahui secara mendalam seputar sejarah tempat pengasingan.
Di sisi lain akan menarik banyak wisatawan berkunjung ke penjara peninggalan Belanda itu.
Dari data yang diperoleh, Boven Digoel adalah kamp pengasingan dan penjara kolonial Belanda (1927-1943) di Papua Selatan yang terkenal terisolasi dan kejam, sering digunakan untuk membuang tokoh pergerakan.
Soekarno, Hatta, dan tokoh nasional lainnya pernah diasingkan di sini, menjadikan daerah ini simbol perlawanan dan penderitaan pahlawan.
Didirikan pada 18 November 1926 oleh Gubernur Jenderal de Graeff untuk mengasingkan pemberontak, terutama setelah pemberontakan PKI.
Lokasinya terletak di pinggir kota di daerah Tanah Merah, Boven Digoel, Papua Selatan. Lingkungannya sangat tidak ramah, berawa-rawa, panas, dan dipenuhi nyamuk malaria serta buaya.
Tokoh yang ditahan Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Sayuti Melik, dan Mas Marco Kartodikromo pernah ditahan di sini.
Kondisi Penjara yakni tahanan politik dipisahkan, dengan sel sempit dan pengap untuk yang dianggap keras kepala.
Namun, Boven Digoel lebih dikenal sebagai tempat “pembuangan” dimana tahanan dilepas namun tidak bisa melarikan diri karena hutan belantara.
Saat ini, lokasi tersebut menjadi tempat bersejarah dan situs wisata sejarah.
Meskipun secara historis sering dikaitkan dengan Soekarno sebagai salah satu tempat pembuangannya, tokoh-tokoh seperti Hatta menghabiskan waktu lebih lama di kamp pengasingan ini. (Redaksi)









