MANOKWARI- Koranpapua.id- Di sebuah sudut Papua Barat, di antara ruang kelas sederhana dan suara nyanyian yang mengalun setiap pagi, perbedaan tidak pernah benar-benar menjadi jarak.
Ia justru tumbuh sebagai ruang perjumpaan, tempat orang-orang belajar memahami, bukan sekadar menerima.
Di Sekolah Menengah Teologi Kristen Negeri (SMTKN) Pelita Sambab, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari, kisah tentang harmoni itu dirawat dalam keseharian.
Tidak dengan kata-kata besar, melainkan melalui sikap-sikap kecil yang berulang, yang perlahan membentuk makna.
Adalah Adwiyah Nur Soleha, seorang guru Bimbingan Konseling, yang datang membawa latar berbeda dari sebagian besar siswa.
Pada hari-hari pertamanya, ia sempat merasa asing. Lagu-lagu rohani yang dinyanyikan para siswa terdengar begitu dekat bagi mereka, namun belum sepenuhnya akrab bagi Adwiyah yang seorang muslimah.
Namun waktu, seperti biasa, bekerja dengan caranya sendiri. Ia mengikis jarak, menumbuhkan pengertian.
Melalui portal ini, Anda dapat memperoleh informasi terkini mengenai, regulasi, pendidikan keagamaan, agenda nasional, publikasi digital, serta berita Kemenag dari pusat dan daerah.
Adwiyah mulai melihat bahwa yang ia temui bukanlah perbedaan yang memisahkan, melainkan kebiasaan yang perlu dipahami.
Ia pun menyesuaikan langkahnya. Bukan dengan mengubah siapa dirinya, tetapi dengan membuka ruang untuk menerima yang lain.
Di dalam kelas, ia menanamkan nilai-nilai toleransi lewat cara yang sederhana. Ia mengajak siswa menuliskan ayat-ayat kitab suci tentang kebaikan dan kasih.
Di luar dugaan, hubungan itu tumbuh begitu hangat. Bahkan, dalam keseharian, para siswa justru kerap mengingatkannya untuk menunaikan salat.
“Itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya,” ujarnya pelan seperti dikuitp dari Humas Kemenag Papua Barat, Minggu 3 Mei 2026.
Di tempat yang sama, kisah lain berjalan dalam ritme yang berbeda. Emiria Ziliwu, guru Pengetahuan Alkitab, telah lebih dulu menapaki jalan pengabdian itu sejak 2006.
Ia datang dari Nias, membawa pengalaman panjang yang menempa keteguhan.
Bagi Emiria, mengajar bukan sekadar menyampaikan pengetahuan. Ia adalah upaya merawat harapan.
Di tengah keterbatasan tenaga pengajar dan medan yang tidak selalu mudah, ia menyaksikan sesuatu yang tidak pernah pudar: semangat belajar anak-anak Papua.
Dari sana, ia percaya, pendidikan akan selalu menemukan jalannya. Ia melihat para lulusan tidak hanya melanjutkan panggilan sebagai hamba Tuhan, tetapi juga hadir di ruang-ruang lain, termasuk dalam pemerintahan.
Bagi Emiria, itulah tanda bahwa pendidikan bekerja membantu setiap anak menemukan perannya di tengah kehidupan yang majemuk.
Di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas Kepala Sekolah Willem Buiswarin, semangat itu menemukan bentuk yang lebih terarah.
Sekolah menegaskan komitmennya pada integritas, keimanan, dan keilmuan-tiga hal yang saling menguatkan, bukan meniadakan.
Program moderasi beragama yang diinisiasi Kementerian Agama pun hadir sebagai penguat.
Guru-guru dari latar belakang agama yang berbeda dilibatkan, bukan sekadar sebagai pelengkap, tetapi sebagai bagian dari denyut kehidupan sekolah.
“Sudah sekitar tiga tahun guru Muslim turut mengabdi di sini,” katanya.
Harmoni itu terasa dalam momen-momen yang barangkali sederhana, namun sarat makna.
Saat perayaan Paskah, misalnya, para guru Muslim ikut terlibat dalam kepanitiaan.
Mereka bekerja bersama, melampaui sekat-sekat yang sering kali terasa kaku di luar sana.
Di SMTKN Pelita Sambab, apa yang diajarkan di kelas oleh Adwiyah, dan apa yang dijaga dalam ketekunan oleh Emiria, perlahan menjelma menjadi budaya.
Dari dua sosok yang datang dari latar berbeda, terajut satu pemahaman yang sama: pendidikan bukan hanya tentang pengetahuan, melainkan tentang bagaimana manusia belajar hidup bersama.
Di tempat itu, harmoni tidak dideklarasikan. Ia tumbuh diam-diam, tetapi mengakar. Dan mungkin, justru dari ruang-ruang sederhana seperti itulah, Indonesia dirawat. (Redaksi)










