TIMIKA, Koranpapua.id- Sepandai-pandai tupai melompat, sekali kelak akan jatuh juga. Pribahasa ini seperti cocok untuk KA, pelaku pembunuhan yang menewaskan korban Rehan di kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Setelah sempat membunuh Rehan pada September 2025 di Jalan Angkasa, Kecamatan Panakukang, pelaku memutuskan melarikan diri dari kejaran polisi.
Ia nekat menyebarang lautan dan akhirnya memilih Timika, Ibukota Kabupaten Mimika, Papua Tengah sebagai tempat yang nyaman untuk bersembunyi.
Selama enam bulan pelaku beraktivitas seperti layaknya orang tidak berdosa di Timika. Ia tidak menyadari bahwa semua jejak pelarian terus terpantau polisi.
Setelah memastikan semua laporan lapangan dinyatakan valit, Tim Resmob dari Polrestabes Makassar diterbangkan ke sasaran dan berhasil menangkap pelaku di Timika tanpa perlawanan, Rabu 4 Februari 2026.
Pelaku kemudian langsung diterbangkan kembali ke Makassar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Seperti diketahui, korban Rehan (22) saat itu ditemukan warga dengan kondisi bersimbah darah dan awalnya disebut sebagai korban kecelakaan.
Namun setelah polisi melakukan penyelidikan mendalam, terungkap jika Rehan merupakan korban pembunuhan.
Dari penyelidikan itulah terungkap jika pelakunya berjumlah tiga orang, dua pelaku lain terlebih dahulu sudah ditangkap.
Sementara satu lainnya melarikan diri dan kini ikut ditangkap setelah dilakukan pengejaran selama lima bulan.
“Dua pelaku sudah diamankan, sementara satu pelaku berinisial KA sempat melarikan diri dan berhasil ditangkap di Timika,” ujar Kombes Pol Arya Perdana, Kapolrestabes Makassar dalam konferensi pers di Aula Mapolrestabes Makassar, Kamis 5 Februari 2026.
Ia menjelaskan, kronologi kasus ini bermula saat seorang ibu hendak pulang ke rumah bertemu anaknya, namun ternyata anaknya ditemukan sudah bersimbah darah.
Orang sekitar awalnya mengira korban kecelakaan. Namun setelah dilakukan pemeriksaan ternyata pada tubuh korban, tepatnya di bagian ketiaknya terdapat luka tusukan.
“Awalnya dikira korban mengalami kecelakaan. Namun setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, ditemukan adanya luka tusukan di bagian ketiak,” jelasnya.
Dari situlah polisi segera membawa korban ke rumah sakit untuk dilakukan visum. Dari hasil pemeriksaan medis, diketahui bahwa korban meninggal dunia akibat penganiayaan.
Selanjutnya, Tim Resmob Polsek Panakkukang melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap para pelaku.
Meski sempat melarikan diri, pelaku terakhir akhirnya berhasil ditangkap.
“Kemarin tim Resmob melakukan pengejaran hingga ke Timika. Setelah diamankan, selanjutnya pelaku diserahkan untuk proses hukum,” kata Arya.
Dalam kasus ini polisi turut mengamankan barang bukti berupa, satu buah batu beton seukuran dua kepal tangan dewasa, satu buah ketapel besi di lilit benang warna biru.
Termasuk satu buah anak panah busur rakitan terlilit tali rapiah warna hijau, satu lembar switer warna hitam, satu lembar celana panjang warna hitam dan satu buah pisau yang memiliki sarung yang terlilit selotip hitam.
Karena kejadian berlangsung 2025 atau sebelum KUHP dan KUHAP baru berlaku, maka pelaku dijerat Pasal 458 dan 262 Ayat 1 KUHPidana dengan ancaman 14 tahun penjara. (Redaksi)










