SORONG, Koranpapua.id- Jumlah penduduk di wilayah Provinsi Papua Barat Daya (PBD) telah mengalami pegeseran cukup besar antara Orang Asli Papua (OAP) dan non-OAP.
Pada data resmi sementara per tanggal 31 Desember 2025 mencatat jumlah penduduk di Provinsi PBD sebanyak 614.415.
Dari jumlah yang tercacat itu, penduduk non-OAP mencapai 318.205 jiwa atau 51,8 persen, melampaui 21.995 dari jumlah penduduk OAP sebanyak 296.210 jiwa atau 48,2 persen.
Komposisi jumlah penduduk ini terungkap dalam acara peluncuran Buku Data Agregat OAP dan non-OAP yang dilakukan Dinas Kependudukan Catatan Sipil dan Pemberdayaan Masyarakat Kampung PBD, Kamis 15 Januari 2026 lalu.
Buku Data Penduduk OAP tersebut secara simbolis diserahkan oleh Sekda Papua Barat Daya, Yakop Kareth kepada perwakilan instansi dari masing-masing wilayah di Provinsi Papua Barat Daya.
Yakob Kareth dalam kesempatan itu mengatakan data terakhir ini merupakan hasil pendataan menyeluruh terhadap OAP di seluruh wilayah provinsi tersebut.
Proses pendataan tahap awal telah dilakukan secara bertahap sejak Juni hingga Desember 2025, dengan pengumpulan data langsung dari kelurahan serta RT dan RW, mengingat mobilitas penduduk yang terus berlangsung antarwilayah.
“Penduduk ini bergerak terus. Ada yang karena faktor keamanan di daerah lain kemudian pindah domisili ke Sorong, bahkan ada yang belum sempat terdata,” ujarnya.
Menurutnya, pendataan OAP tidak hanya berhenti pada tahap pertama, tetapi akan terus dilanjutkan sepanjang 2026.
Ini bertujuan untuk memastikan tidak ada warga OAP yang terlewat. Targetnya, seluruh OAP di Papua Barat Daya terdata lengkap berdasarkan nama dan alamat.
“Target kita seluruh penduduk OAP di Papua Barat Daya terdata by name, by address, sehingga kita benar-benar tahu jumlah dan sebarannya di kabupaten dan kota,” pungkasnya.
Yakob menyebutkan, berdasarkan data awal yang telah diluncurkan, sebaran OAP terbanyak berada di Kota Sorong. Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas masyarakat dari kabupaten lain menuju pusat kota.
Untuk daerah dengan OAP terbanyak itu Kota Sorong. Hampir di 10 distrik dan 41 kelurahan ada sebaran OAP. Banyak yang pindah ke Sorong karena aktivitas ekonomi, usaha, atau sekolah,” jelasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Dukcapil Papua Barat Daya, Nikolas Asmuruf, menyampaikan bahwa saat ini data OAP yang telah terhubung dari kabupaten/kota dan terkoneksi ke Dukcapil Pusat berjumlah 296.210 jiwa.
“Data yang sudah connect dari kabupaten kota dan langsung ke Dukcapil pusat, khusus orang asli Papua, itu 296.210. Itu yang saat ini sudah pasti,” kata Nikolas.
Ia menambahkan, terdapat tambahan sekitar 5.000 data dari Kabupaten Tambrauw yang masih dalam proses input ke dalam aplikasi, sehingga angka tersebut berpotensi meningkat setelah seluruh data masuk dan diverifikasi.
Nikolas mengakui, kendala utama pendataan terjadi di Kabupaten Tambrauw akibat keterbatasan sumber daya manusia dan jaringan internet.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dukcapil Provinsi telah menyiapkan dukungan berupa perangkat Starlink dan laptop.
“Secara Nasional, data yang dipakai dan dianggap paling akurat adalah data Dukcapil,” jelasnya. (Redaksi)










