TIMIKA, Koranpapua.id – Kenaikan harga sejumlah kebutuhan masyarakat mendorong inflasi Kabupaten Mimika, Papua Tengah, mencapai 6,18 persen pada Oktober 2026. Komoditas pangan, transportasi, dan emas perhiasan menjadi sejumlah penyumbang utama kenaikan harga tersebut.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika, inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) Oktober 2026 itu meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,55 persen.
Kenaikan harga tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) Timika yang mencapai 118,64 pada Oktober 2026, naik dari 111,74 pada Oktober 2025. Adapun inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d) tercatat sebesar 5,21 persen.
Dari berbagai kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau memberikan tekanan terbesar terhadap inflasi. Kelompok ini mengalami kenaikan harga 8,99 persen secara tahunan dengan andil inflasi mencapai 3,95 persen.
Sejumlah komoditas pangan yang berkontribusi terhadap kenaikan tersebut antara lain bayam dengan andil 0,79 persen, cabai rawit 0,54 persen, kangkung 0,51 persen, ikan kembung 0,29 persen, dan ikan cakalang 0,28 persen. Beras juga turut memberikan andil sebesar 0,26 persen.
Selain kebutuhan pangan, kenaikan biaya transportasi turut memengaruhi inflasi di Timika. Kelompok transportasi mengalami inflasi 10,56 persen dengan andil sebesar 0,93 persen.
Angkutan udara menjadi penyumbang terbesar pada kelompok ini dengan andil 0,53 persen, disusul bensin sebesar 0,19 persen.
Kenaikan cukup tinggi juga tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yakni 11,20 persen. Kelompok ini memberikan andil inflasi 0,87 persen, terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan yang menyumbang 0,82 persen.
Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami kenaikan 2,97 persen dengan andil 0,42 persen. Kenaikan harga bahan bakar rumah tangga menjadi faktor dominan pada kelompok tersebut.
Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami penurunan harga. Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami deflasi 1,27 persen, sedangkan kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun 1,68 persen dibandingkan Oktober 2025.
Tekanan kenaikan harga juga masih terlihat dalam pergerakan bulanan. Pada Oktober 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 1,19 persen.
Bayam menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar, yakni 0,58 persen, disusul kangkung 0,31 persen dan ikan cakalang 0,18 persen. Angkutan udara juga memberikan andil inflasi bulanan sebesar 0,14 persen.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan harga kebutuhan pangan dan biaya transportasi turut memengaruhi perkembangan inflasi di Timika.
Jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya, inflasi tahunan Timika pada Oktober 2026 tercatat lebih tinggi.
Pada Oktober 2025, inflasi berada di angka 1,55 persen, sedangkan pada Oktober 2024 sebesar 4,75 persen. Adapun inflasi tahun kalender pada Oktober 2025 tercatat 1,09 persen dan Oktober 2024 sebesar 3,52 persen. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru







