TIMIKA, Koranpapua.id– Speed boat bermesin 150 PK yang mengangkut sekitar 1 ton buah mangga tujuan Kabupaten Asmat tenggelam setelah diterjang ombak di perairan Manasari, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu 5 Agustus 2026.
Beruntung, setelah terombang-ambing selama satu malam di lautan, nahkoda yang berada seorang diri di atas speed boat berhasil ditemukan dalam keadaan selamat oleh Tim SAR Gabungan, Kamis 6 Agustus 2026.
Korban diketahui bernama Parlindungan Simanjuntak, yang berangkat dari Timika menuju Asmat pada Rabu 5 Agustus 2026.
Dalam perjalanan, speed boat yang dikemudikannya dihantam gelombang hingga akhirnya tenggelam di sekitar perairan Manasari.
Menerima laporan kejadian tersebut, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Timika, I Wayan Suyatna, S.H., M.M., melalui Kasubsie Operasi dan Siaga SAR Timika, Charles Y. Batlajery, S.E., langsung mengerahkan Tim SAR Gabungan untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan.
Tim SAR yang diberangkatkan pada Kamis pagi menurunkan Rigid Buoyant Boat (RBB) 600 PK dan perahu karet bermesin 25 PK.
Upaya pencarian juga didukung speed boat Papua Star dan satu speed boat bermesin 85 PK milik keluarga korban menuju lokasi kejadian.
Pencarian akhirnya membuahkan hasil. Sekitar pukul 09.00 WIT, Tim SAR Gabungan berhasil menemukan Parlindungan Simanjuntak dalam kondisi selamat.
Korban kemudian dievakuasi menuju Dermaga Basarnas Timika untuk menjalani pemeriksaan awal sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
“Korban berhasil ditemukan dalam keadaan selamat dan telah dievakuasi ke Dermaga Basarnas Timika untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga,” ujar Charles Y. Batlajery.
Dengan ditemukannya korban dan selesainya proses evakuasi, operasi pencarian dan pertolongan resmi diusulkan untuk ditutup.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi para pengguna transportasi laut agar selalu memperhatikan kondisi cuaca dan gelombang sebelum berlayar.
Hal itu mengingat perairan selatan Papua kerap mengalami perubahan cuaca yang dapat membahayakan keselamatan pelayaran.
Parlindungan Simanjuntak mengungkapkan, musibah tersebut terjadi sekitar pukul 13.00 WIT ketika dirinya mendekati Pulau Manasari. Saat itu, mesin speed boat mulai mengalami gangguan dan kondisi gelombang semakin kuat.
Ia sempat berusaha menghidupkan kembali mesin setelah hantaman gelombang pertama. Namun, hantaman gelombang berikutnya membuat speed boat kehilangan kendali hingga akhirnya terbalik.
“Ombak lagi pukul saya dua kali, yang ketiga kalinya langsung speed boot. Air masuk, langsung dia mulai tenggelam,” ungkapnya.
Setelah kapal tenggelam, ia bertahan di atas speed boat sambil menunggu pertolongan. Beruntung, telepon genggamnya masih mendapatkan jaringan sehingga ia dapat menghubungi keluarga.
“HP saya sempat dapat jaringan, saya komunikasi dengan saudara Bejo minta bantuan keluarga, kemudian disampaikan ke teman-teman komunitas Asmat dan tim Basarnas,” ujarnya. (*)
Penulis: Ril Minggu dan Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru







