TIMIKA, Koranpapua.id- Kabar duka bagi umat Katolik di tanah Papua dan sejumlah wilayah di Indonesia yang pernah menjadi tempatnya berkarya.
Pater Prof. Dr. Nico Syukur Dister OFM, meninggal dunia di Negeri Belanda di usia 87 tahun pada 11 April 2026.
Sebelum kembali ke Belanda, Pater Nico merupakan seorang imam misonaris Belanda yang mengabdi di Indonesia, khususnya di Tanah Papua selama lebih dari 40 tahun.
Pater Nico, lahir di Belanda tahun 1939. Ia menempuh pendidikan filsafat dan teologi di Belanda, Belgia, dan Jerman.
Tahun 1957, Pater Nico masuk novisiat OFM, dan ditabiskan imam pada 8 Maret 1964.
Setelah ditahbiskan ia melanjutkan pendidikan dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Leuven pada 1972.
Usai menyelesaikan pendidikannya di Universitas Leuven, Ia memilih Indonesia sebagai tempat pengabdian.
Pater Nico mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara sejak 1973, kemudian di Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik Karya Wacana sejak 1977.
Di tahun 1983, Pater Nico mengadikan diri di Sekolah Tinggi Filsafat Fajar Timur, Jayapura hingga purnakarya.
Ia mengajar banyak matakuliah teologi dan filsafat. Di bidang teologi beliau mengajar pengantar teologi, kristologi, sejarah dogma, pneumatologi.
Di bidang filsafat dia mengajar pengantar filsafat, sejarah filsafat, metafisika, filsafat manusia dan filsafat ketuhanan.
Selain mengajar ia juga menjabat sebagai ketua SFTF Fajar Timur dari 1984 hingga 1988.
Bagi umat Katolik di Papua, Pater Nico bukan hanya seorang dosen, tetapi juga sahabat dan penasehat.
Ia sangat setia dan memiliki perhatian besar terhadap sejarah misi Katolik di Tanah Papua, termasuk pentingnya menjaga warisan gedung-gedung tua yang memiliki nilai historis.
Uskup Keuskupan Jayapura Mgr. Yanuarius You mengatakan bahwa “Pastor Nico Syukur Dister adalah misionaris terakhir Fransiskan yang berjasa besar untuk STFT Fajar Timur.
“Pater Nico telah mencetak banyak orang hebat baik dalam jajaran para klerus serta awam di STFT Fajar Timur termasuk saya saat ini yang menjadi uskup pertama orang asli Papua,” kata Uskup Yanuarius.
Aktivis muda Katolik Papua, Soleman Itlay, mengenang peran besar Pater Nico dalam perjuangan menetapkan Hari Misi Katolik di Tanah Papua.
“Perjuangan kami soal penetapan Hari Misi Katolik di Tanah Papua tidak terlepas dari berkat saran dan nasihat Pater Nico,” ungkap Soleman seperti dikutip Nadipapua.com.
Ia sering berbicara soal penyelamatan terhadap sejarah misi Katolik di Tanah Papua, termasuk gedung-gedung tua yang bernilai sejarah.
Menurutnya, Pater Nico terus mendorong generasi muda agar tidak kehilangan jejak sejarah perkembangan iman Katolik di Tanah Papua.
“Dia sering memberi saran dan masukan untuk kami agar tidak kehilangan jejak sejarah iman katolik di Tanah Papua,” ujarnya.
“Sebelum pergi, Pater Nico masih aktif mengikuti diskusi kami di grup (Katolik Papua), bahkan memberikan catatan dan bobot-bobot tertentu,” lanjutnya.
Kepergian Pater Nico meninggalkan jejak mendalam bukan hanya dalam dunia akademik, tetapi juga dalam perjuangan menjaga identitas, sejarah, dan iman umat Katolik di Tanah Papua.
Pater Nico meninggalkan Papua pada 19 April 2024 dan pulang ke negara asalnya Belanda, dan setahun kemudian ia wafat. (Redaksi)










