TIMIKA, Koranpapua.id- Aksi unjuk rasa ratusan pendulang dengan memblokade Jalan Ahmad Yani-Timika selama tiga hari, sebagai buntut penutupan toko emas, mendapatkan tanggapan dari tokoh masyarakat adat Mimika.
Gery Okoare, Ketua Lembaga Masyarakat Adat Suku Kamoro (Lemasko) mengatakan, persoalan yang saat ini dihadapi pendulang sudah seharusnya mendapatkan perhatian oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika.
Gery yang juga merupakan salah satu pengusaha sukses di Mimika mengusulkan agar Pemkab Mimika dapat membentuk Perusahaan Daerah (Perusda) yang khusus menampung hasil dulang masyarakat.
Usulan Gery itu disampaikan di tengah aksi protes pendulang emas yang masih terus terjadi belakangan ini dan kerap disertai pemblokiran jalan.
“Saya minta kepada Bupati dan Wakil Bupati Mimika, Perusda itu cepat dibentuk supaya bisa beli hasil sumber daya alam yang dikelola oleh masyarakat. Ini saya lihat, emas lebih banyak, uangnya kurang,” katanya Rabu 25 Maret 2026.
Menurutnya, kehadiran Perusda menjadi solusi strategis untuk menjamin pembelian emas hasil dulang sekaligus mengelola distribusinya secara lebih terarah.
“Pemerintah harus ambil sikap itu. Jadi masyarakat kita pendulang-pendulang emasnya dibeli, itu menjadi aset atau income untuk daerah,” ujarnya.
Gery menegaskan, jika pemerintah segera menghadirkan solusi melalui Perusda, potensi konflik sosial dapat ditekan dan ekonomi masyarakat bisa kembali berjalan.
“Iya, ini emas mahal. Tidak ada masalah. Hanya yang punya uang ini harus tambah banyak bagi masyarakat. Itu sah, dia punya penghasilan banyak,” tambahnya.
Ia berharap pembentukan Perusda khusus menangani hasil dulang bisa segera direalisasikan agar aksi protes pendulang tidak terus berlanjut dan memberi kepastian ekonomi bagi mereka. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










