TIMIKA, Koranpapua.id– Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) di Timika, Kabupaten Mimika merupakan salah satu lembaga pendidikan terpadu yang berbasis asrama.
Lembaga ini mengombenasikan Kurikulum Merdeka dan Kurikulum Berbasis Kehidupan Kontekstual Papua untuk para anak didik yang bersekolah di tempat itu.
Saat ini sekolah yang dikelola oleh Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) sebagai pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI), terus melakukan inovasi pendidikan, dengan tetap fokus pada pembinaan karakter, kedisiplinan dan kompetensi global.

Sejak Juli 2024, SATP secara resmi mulai menerapkan metode Montessori secara penuh untuk siswa kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar (SD).
Program ini menjadi salah satu unggulan sekolah dalam memperkuat fondasi literasi, numerasi, sekaligus pembangunan karakter peserta didik yang seluruhnya merupakan anak asli Papua.
Disesuaikan dengan Karakteristik Anak Papua
Kepala SATP, Sonianto Kuddi, menjelaskan bahwa penerapan metode Montessori bukan keputusan instan.
Sekolah terlebih dahulu melakukan kajian mendalam terhadap karakteristik siswa yang berasal dari wilayah pegunungan dan pesisir Papua.
“Anak-anak yang belajar di SATP 100 persen asli Papua, dengan latar budaya yang khas dan beragam. Mereka memiliki motorik kinestetik yang sangat kuat dan terbiasa aktif di luar ruangan,” jelas Sonianto.
“Hal itu membuat anak-anak tidak bisa terus-menerus berada dalam pembelajaran yang bersifat abstrak dan hafalan,” ujarnya, Senin 16 Februari 2026.

Sonianto menuturkan, metode Montessori dinilai paling sesuai karena menekankan pembelajaran berbasis pengalaman langsung (learning by doing).
Anak-anak tidak sekadar menerima materi, tetapi aktif menggunakan alat peraga (aparatus) untuk memahami konsep secara konkret.
Selain itu, sebagian besar siswa SATP tidak menempuh pendidikan taman kanak-kanak sebelum masuk sekolah dasar.
Kondisi tersebut membuat sekolah yang dipimpinnya perlu menghadirkan pendekatan yang mampu menjembatani kesiapan belajar mereka.
“Dengan Montessori, kelebihan anak-anak bisa difasilitasi. Pembelajaran berpusat pada anak, disesuaikan dengan budaya, latar belakang, dan potensi mereka,” ujarnya.
Materi yang diberikan kepada anak didik juga dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari agar lebih bermakna.
Didukung 14 Guru untuk 7 Kelas
Saat ini, program Montessori di SATP didukung oleh 14 guru yang menangani tujuh kelas. Setiap kelas terdiri atas 24 hingga 27 siswa.
Sebelumnya, Montessori hanya diterapkan sebagai program pendamping di kelas reguler. Namun sejak tahun ajaran ini, metode tersebut diterapkan secara utuh dari pagi hingga siang hari.
Dalam praktiknya, proses belajar dimulai pukul 07.00 WIT. Setelah sesi pembukaan berupa meditasi singkat dan membaca cerita bersama, siswa memasuki kegiatan inti yang berlangsung hingga siang hari.
Empat Bulan Sudah Bisa Baca-Tulis-Hitung
Hasil awal penerapan metode ini mulai terlihat. Ini dapat dilihat pada penampilan siswa kelas 1 tanggal 14 Februari lalu.
Di mana anak-anak yang baru mengikuti program selama empat bulan sudah mampu menunjukkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung secara konkret.
“Persiapan mereka hanya empat bulan, dan hampir semua sudah bisa baca, tulis, dan hitung secara konkret. Ini menunjukkan metode ini lebih efektif karena sesuai dengan karakteristik mereka,” beber Sonianto.
Kepala Program Montessori SATP, Theodora K. Yanti, menambahkan bahwa penguatan literasi dimulai dari aspek bahasa lisan sebagai bagian dari early childhood education.
“Di Montessori, mereka terlibat langsung dengan lingkungan. Bahasa lisan, menyanyi, bercerita, hingga komunikasi dengan guru dan teman menjadi bagian penting untuk memperkaya kosakata mereka dalam bahasa Indonesia,” jelasnya.
Pembelajaran dilakukan secara praktik
Guru terlebih dahulu memperagakan cara menggunakan suatu alat, kemudian siswa memilih aktivitas yang ingin dikerjakan dan menyelesaikannya secara mandiri hingga tuntas.
Setelah itu, guru memberikan konfirmasi sebelum siswa beralih ke aktivitas lain.
“Semua proses tercatat detail. Kami memiliki chart record perkembangan setiap anak, semacam rekam jejak belajar harian. Penilaian bersifat deskriptif, bukan angka semata,” ungkap Theodora.
Fokus pada Kemandirian dan Karakter
Berbeda dengan pembelajaran konvensional yang cenderung instruksional dan berorientasi nilai, Montessori di SATP menekankan kemandirian, konsentrasi, serta pembentukan karakter.
Di ruang kelas, siswa diperbolehkan bergerak, berdiskusi, atau bekerja bersama teman, selama tetap mengikuti aturan yang telah disepakati. Suasana kelas tetap tenang dan kondusif.
“Yang paling terlihat perbedaannya adalah mental dan kepercayaan diri anak. Mereka belajar karena ingin dan merasa mampu, bukan karena mengejar nilai. Bahkan tanpa sistem nilai angka, mereka tetap antusias belajar,” ujar Theodora.
Dalam sistem ini, tidak ada standar seragam yang memaksa semua anak mencapai capaian yang sama dalam waktu yang sama.
Siswa yang cepat dapat melaju lebih cepat, sementara yang membutuhkan waktu lebih lama akan tetap didampingi tanpa merasa tertinggal.
“Tidak ada anak yang tertinggal. Setiap anak berjalan sesuai prosesnya. Yang terpenting, mereka benar-benar memahami, bukan sekadar menghafal,” tegasnya.
Ke depan, SATP berharap pendekatan ini dapat terus memperkuat fondasi akademik dan karakter siswa, sekaligus menjadi model pembelajaran yang relevan dengan konteks sosial dan budaya anak-anak Papua. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru








