TIMIKA, Koranpapua.id– Film Anak Teman Tegar yang mengisahkan seorang anak laki-laki asal Bandung yang berlibur di Papua, dapat menjadikan motivasi bagi generasi Papua untuk lebih mencintai alam.
Seperti salah satu kalimat yang dikutip dalam film tersebut ‘Alam ini kasih kita banyak. Tapi kita tidak boleh kasih apa-apa selain bersyukur untuk alam ini”.
Kalimat dalam film anak Teman Tegar: Maira–Whisper from Papua sepertinya menyampaikan pesan penting tentang kesadaran manusia terhadap relasi dengan alam.
Film yang disutradarai Anggi Frisca, memadukan unsur musikal dan petualangan melalui perjalanan Tegar yang diperankan M Aldifi Tegarajasa.
Tegar merupakan seorang anak laki-laki dari Bandung, yang berlibur ke kampung halaman pengasuhnya di Papua, Teh Isy yang diperankan oleh Joan Wakum.
Kedatangan Tegar ke Papua dengan harapan menyaksikan keindahan burung Cendrawasih, sekaligus menapaki jejak cerita hutan yang pernah diceritakan mendiang kakeknya.
Ketika di Papua, Tegar bertemu Maira yang diperankan Elisabet Sisauta, gadis 12 tahun dari masyarakat adat yang mengajaknya menyusuri hutan untuk melihat burung Cendrawasih.
Persahabatan Tegar dan Maira berkembang, tidak hanya mengubah cara pandang mereka satu sama lain, tetapi juga membuka perspektif baru tentang alam dan kehidupan di sekitarnya.
Namun, rasa ingin tahu mereka berubah menjadi kesadaran akan bahaya yang mengancam hutan.
Konflik meningkat ketika masyarakat adat di pedalaman ditipu oleh Bos Besar, pemilik perusahaan pembalakan untuk tambang.
Maira, satu-satunya yang bisa membaca dan menulis di kampung halamannya, berusaha menyelamatkan hutan dibantu Tegar dan Teh Isy.
Film berdurasi lebih dari 90 menit ini menyuguhkan pesona alam Papua yang luar biasa, sekaligus mengangkat isu serius seperti krisis iklim.
Deforestasi, dan konflik perebutan lahan. Meski tema berat, film dikemas ringan sehingga ramah untuk semua usia.
Produser dr. Chandra Sembiring menekankan bahwa film dapat menjadi alat edukasi dan kampanye efektif.
“Kami ingin membangun ekosistem. Setiap film adalah alat edukasi, alat kampanye, dan benih gerakan,” ujar Chandra.
Pengalaman panjang Chandra di wilayah konflik, bencana, hutan, dan gunung-gunung membuatnya melihat masyarakat adat memiliki resiliensi yang kuat, yang sering terabaikan dalam pembangunan modern.
Film ini menampilkan anak-anak sebagai subjek yang berani dan punya suara, bukan sebagai korban. Maira dan Tegar saling melengkapi karakter: Maira polos dan ceria, Tegar kalem dan reflektif.
M Aldifi Tegarajasa membawakan karakter Tegar secara natural, menekankan pentingnya mendengar dan datang tanpa merasa paling tahu.
Elisabeth menampilkan Maira dengan ekspresi kuat tanpa banyak dialog, termasuk adegan sederhana seperti mengembalikan dokumen perusahaan sebagai simbol keberanian.
Pendekatan musikal menjadi kekuatan lain film ini, memadukan dongeng, musik, dan lanskap alam sebagai satu narasi utuh.
Joan Wakum, penyanyi dan aktris asal Papua, memerankan Teh Isy sekaligus memimpin pengembangan musik.
Ia bekerja sama dengan musisi lokal dan nasional untuk menciptakan komposisi orisinal yang menggabungkan ritme tradisional Papua dengan orkestrasi sinematik.
“Saya berharap film ini bukan sekadar hiburan. Lagu-lagu dan visual yang ditampilkan adalah kebanggaan kami anak-anak Papua. Ini tradisi yang akan kami bawa ke generasi berikutnya,” kata Joan Wakum. (Redaksi)










