BOGOR, Koranpapua.id– Perubahan iklim yang terjadi di wilayah Papua mulai menunjukkan dampak serius terhadap kura-kura moncong babi di wilayah itu.
Penelitian IPB University mencatat curah hujan ekstrem dan banjir menyebabkan kegagalan peneluran di beberapa wilayah. Fenomena ini menjadi alarm bagi konservasi satwa air tawar.
Peneliti menilai tekanan lingkungan semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Upaya perlindungan membutuhkan strategi adaptif berbasis data ilmiah.
Studi yang dilakukan di kawasan Sungai Kao memperlihatkan pola gangguan habitat yang semakin kompleks. Perubahan cuaca mempengaruhi siklus reproduksi kura-kura secara langsung.
Kondisi tersebut berpotensi menurunkan populasi dalam jangka panjang. Peneliti menilai pentingnya pemantauan jangka panjang. Data tersebut akan menjadi dasar kebijakan konservasi.
Riset ini juga menyoroti perlunya keterlibatan masyarakat lokal dalam menjaga habitat. Komunitas sekitar dinilai memiliki peran strategis dalam perlindungan satwa.
Kolaborasi antara peneliti dan masyarakat dapat memperkuat pengawasan lapangan. Pendekatan partisipatif dinilai lebih efektif. Model ini mulai diterapkan dalam berbagai program konservasi.
Forum seminar konservasi di Bogor, Jumat 6 Februari 2026 menjadi ruang diskusi untuk memperkuat strategi perlindungan.
Para ahli menekankan pentingnya integrasi ilmu pengetahuan dalam kebijakan. Perubahan iklim tidak bisa dihadapi dengan pendekatan konvensional.
Dibutuhkan metode adaptif yang responsif terhadap kondisi lapangan. Penelitian menjadi fondasi utamanya.
Peneliti menilai konservasi kura-kura moncong babi harus berbasis ekosistem. Perlindungan tidak hanya fokus pada satwa, tetapi juga lingkungan sekitarnya.
Pengelolaan sungai, hutan, dan daerah peneluran menjadi satu kesatuan. Pendekatan holistik dinilai paling efektif.
Strategi ini mulai banyak diterapkan secara global. Ancaman perubahan iklim juga berdampak pada keseimbangan biodiversitas secara luas. Satwa air tawar termasuk kelompok paling rentan.
Penurunan populasi akan mempengaruhi rantai ekosistem. Karena itu, kebijakan konservasi harus lebih progresif. Dukungan lintas sektor menjadi kunci keberhasilan.
Penelitian IPB menjadi salah satu rujukan penting dalam upaya pelestarian kura-kura moncong babi.
Data yang dihasilkan membuka peluang kebijakan berbasis bukti ilmiah. Pemerintah, akademisi, dan sektor swasta diharapkan memperkuat kolaborasi.
Konservasi tidak lagi menjadi isu lokal, tetapi global. Masa depan spesies ini bergantung pada langkah yang diambil hari ini. (Redaksi








