TIMIKA, Koranpapua.id– Di tengah wilayah Papua Tengah, Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) di Timika, Kabupaten Mimika menghadirkan pengalaman belajar bertaraf Internasional.
Mendukung anak-anak untuk mahir berbicara Bahasa Inggris, lembaga sekolah ini menggandeng guru penutur dari Amerika Serikat untuk mengajar secara langsung dengan peserta didik.
Sekolah berpola asrama ini berada di bawah naungan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) dan dikelola oleh Yayasan Pendidikan Lokon (YPL), dengan pembiayaan yang bersumber dari dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI).
Kepala Sekolah SD–SMP SATP, Sonianto Kuddi, mengatakan program pembelajaran bersama native speaker tersebut dirancang khusus untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam berbahasa Inggris sejak usia dini.
“Untuk membangun kepercayaan diri anak dalam berbahasa Inggris, terutama saat berbicara langsung dengan penutur asli, kami memiliki program khusus melalui kerja sama TeachCast with Cambridge, sebelumnya dikenal sebagai TeachCast with Oxford,” ujar Sonianto, Selasa 3 Februari 2026.
Melalui program ini, peserta didik yang adalah anak-anak Amungme dan Kamoro serta lima suku kekerabatan, dapat secara langsung belajar Bahasa Inggris dengan guru penutur asli dari Amerika Serikat.
Para pengajar yang telah memiliki sertifikasi mengajar Internasional ini, berasal dari beberapa negara bagian, seperti Ohio dan Washington.
Mereka menyampaikan materi pembelajaran secara daring dengan sistem interaktif dua arah.
“Di dalam kelas tersedia kamera, mikrofon, dan speaker sehingga proses pembelajaran berlangsung layaknya tatap muka. Guru dan siswa dapat berkomunikasi langsung secara dua arah,” jelasnya.
Sonianto menambahkan, seluruh proses pembelajaran dalam program tersebut dilakukan sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris.
Para guru tidak menggunakan bahasa Indonesia sama sekali, sehingga siswa terbiasa mendengar dan memahami dialek bahasa Inggris Amerika.
“Dengan metode ini, anak-anak menjadi lebih percaya diri ketika bertemu dengan penutur asing maupun saat mendengar percakapan Bahasa Inggris,” ujarnya.

Program pembelajaran bersama native speaker ini diterapkan bagi siswa mulai kelas III SD hingga kelas IX SMP.
Setiap kelas memperoleh dua jam pelajaran setiap minggu yang dibagi dalam dua sesi pembelajaran.
Selain itu, SATP juga mengembangkan program ACE Class (Academic Class for Excellence) atau kelas internasional.
Dalam program ini, mata pelajaran Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Bahasa Inggris diajarkan sepenuhnya dalam bahasa Inggris oleh guru dari Filipina serta tenaga pendidik lokal yang kompeten.
“Setiap angkatan terdapat satu kelas ACE Class yang kami rancang untuk mempersiapkan siswa melanjutkan pendidikan ke sekolah bertaraf internasional,” jelasnya.
Dikatakan, program pembelajaran berbahasa Inggris di SATP telah berjalan selama kurang lebih empat tahun dan menunjukkan dampak signifikan terhadap perkembangan siswa, khususnya dalam hal keberanian dan kepercayaan diri berkomunikasi.
“Awalnya banyak anak yang masih malu dan takut salah. Namun setelah terbiasa, mereka menjadi lebih berani berbicara. Bagi kami, yang terpenting adalah keberanian untuk mencoba, benar atau salah itu urusan berikutnya,” kata Sonianto.
Penguatan kemampuan bahasa Inggris di SATP bahkan telah dimulai sejak kelas I SD melalui penerapan metode Montessori.
Dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari, guru membiasakan penggunaan instruksi dasar dalam bahasa Inggris.
“Sejak kelas I, anak-anak sudah diperkenalkan dengan bahasa Inggris melalui instruksi sederhana seperti help me please atau close the door please,” jelasnya.
“Dengan pembiasaan ini, sebagian siswa sudah menunjukkan kemampuan komunikasi dasar sejak kelas II dan III,” tambahnya.
Berdasarkan data pihak sekolah, jumlah siswa SATP saat ini mencapai 1.170 orang, terdiri atas 773 siswa SD dan 397 siswa SMP.
Para siswa berasal dari tujuh suku di Kabupaten Mimika, khususnya suku Amungme, Kamoro, serta lima suku kekerabatan lainnya.
Proses pembelajaran didukung oleh 83 tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru









