TIMIKA, Koranpapuaa.id- Air mata haru tak terbendung saat Wilianti Dolame (15), siswi kelas VIII Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), mengenang perjalanan awal dirinya memasuki dunia pendidikan.
Anak asli Suku Amungme asal Tembagapura, Kabupaten Mimika, ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi dan latar belakang keluarga bukanlah penghalang untuk bermimpi besar dan meraih prestasi.
Wilianti lahir dan tumbuh besar di Tembagapura dari keluarga sederhana. Sejak kecil, ia dibesarkan oleh ibunya yang berstatus sebagai orang tua tunggal.
Sosok sang ibu menjadi segalanya dalam hidupnya, sebagai ibu sekaligus ayah yang tanpa lelah berjuang memenuhi kebutuhan dan mendukung pendidikan putrinya.
“Mama jadi mama sekaligus bapak untuk saya,” ujar Wilianti saat diwawancarai dengan suara lirih, matanya berkaca-kaca Selasa 3 Februari 2026.
Sejak masih kecil Wilianti telah memendam keinginan kuat untuk bersekolah di Sekolah Asrama Taruna Papua di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Sekolah berpola asrama tersebut dikenal memiliki berbagai program pembelajaran unggulan berstandar internasional.
SATP merupakan sekolah milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) yang dikelola oleh Yayasan Pendidikan Lokon (YPL), dengan pembiayaan bersumber dari dana kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI).
Namun keinginan itu sempat tertunda. Sang ibu menahan Wilianti karena merasa usia anaknya belum cukup.
Hingga beberapa tahun kemudian, dengan keyakinan dan doa, ibunya akhirnya mengantar langsung Wilianti mendaftar dan masuk ke SATP.
Pesan sang ibu sederhana namun penuh makna, sekolah dengan sungguh-sungguh, jangan membuat masalah, dan jangan pernah menyerah.
Pesan itulah yang terus dipegang teguh oleh Wilianti hingga kini.
Dari jenjang SD hingga saat ini duduk di bangku SMP kelas VIII, Wilianti menjalani pendidikan dengan penuh disiplin dan semangat juang.
Ia mengakui perjalanan yang dilaluinya tidak mudah, namun ia percaya Tuhan selalu menyertainya.
“Perjalanan ini sudah sangat jauh menurut saya. Saya bersyukur karena Tuhan tidak pernah meninggalkan saya,” tuturnya.
Kerja keras dan ketekunannya pun membuahkan hasil. Baru-baru ini, Wilianti terpilih mengikuti Program Bina Talenta Indonesia di bidang coding.
Setelah menjalani masa persiapan selama tiga bulan, ia dinyatakan lolos dan berkesempatan mengikuti kegiatan offline di Medan, Sumatera Utara.
Perjalanan tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi Wilianti.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia naik pesawat dan menginjakkan kaki di kota-kota besar seperti Makassar, Jakarta, hingga Medan.
“Dulu saya hanya bisa lihat di film. Sekarang Tuhan jawab doa saya,” katanya penuh haru.
Tak hanya memperoleh sertifikat di bidang coding, Wilianti juga meraih penghargaan sebagai peserta dengan kamar putri terbaik berdasarkan penilaian kebersihan dan kedisiplinan.
Ia mengaku kebiasaan hidup teratur dan bertanggung jawab itu terbentuk dari pendidikan asrama yang telah ia jalani sejak SD.
Ke depan, Wilianti menyimpan mimpi besar. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan SMA di Lokon Santo Nikolaus Tomohon.
Selepas SMA, ia bercita0cita dapat melanjutkan kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Impian akhirnya adalah menjadi seorang dokter.
“Di kampung saya, di Suku Amungme, fasilitas kesehatan masih sangat terbatas. Saya ingin menjadi dokter supaya bisa membantu masyarakat di sana,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Kisah Wilianti Dolame menjadi gambaran nyata bahwa dengan dukungan orang tua, pendidikan yang tepat, serta iman dan ketekunan, anak-anak Papua mampu melangkah jauh dan bersaing di tingkat nasional.
Sebuah kisah inspiratif dari tanah Amungsa bumi Kamoro, yang mengajarkan bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari kesederhanaan dan perjuangan. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










