NABIRE, Koranpapua.id- Wilayah Provinsi Papua Tengah berada di posisi strategis Nasional yang menyimpan kompleksitas persoalan keamanan dan sosial dan memiliki nilai strategis tinggi sekaligus tantangan besar.
Apalagi wilayah Papua Tengah didukung dengan keunikan geografis, mulai dari garis pantai di wilayah utara dan selatan, kawasan pegunungan di bagian tengah, hingga keberadaan Pegunungan Jaya Wijaya dan tambang Grasberg.
Dengan adanya potensi tersebut, secara tidak langsung menempatkan Papua Tengah sebagai ikon strategis nasional yang menuntut penanganan persoalan keamanan dan sosial secara komprehensif.
Hal itu diungkapkan Brigjen TNI I Ketut Mertha Gunarda, Danrem 173/PVB Nabire pada kegiatan Gelar Operasi Kamtibmas 2026 dan Analisis serta Evaluasi (Anev) Triwulan IV 2025 di Aula Wicaksana Laghawa, Polres Nabire, Papua Tengah, Senin 26 Januari 2026.
Perwira Bintang Satu ini menegaskan, masyarakat Papua mengalami lompatan peradaban yang sangat cepat, dari kehidupan tradisional menuju era teknologi dan arus informasi.
Perubahan ekstrem ini memicu ketimpangan adaptasi sosial yang berdampak pada berbagai persoalan, termasuk konflik adat serta respons masyarakat yang tidak seragam terhadap kehadiran aparat negara.
Dalam konteks ancaman modern, Gunarda menegaskan bahwa stabilitas negara tidak lagi hanya diuji melalui perang terbuka.
Tetapi juga dapat dilemahkan dari dalam melalui konflik sosial yang berkepanjangan.
Oleh karena itu, peran TNI di Papua Tengah tidak semata menjaga pertahanan negara, melainkan juga melakukan pembinaan teritorial dengan pendekatan sosial, budaya, dan psikologis.
Ia menekankan pentingnya kerja bersama lintas sektor antara TNI, Polri, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga media.
Ini bertujuan agar stabilitas keamanan dan kesejahteraan masyarakat Papua Tengah dapat terwujud secara berkelanjutan. (Redaksi)










