ADVERTISEMENT
Kamis, September 10, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Headline

Tolak Ekspansi Sawit di Papua, Sawit Watch: Jalan Pintas Berisiko Tinggi, Ancaman Bencana Ekologis dan Konflik Agraria

"Bencana ekologis di Sumatera adalah peringatan keras. Rencana ekspansi sawit di Papua adalah bencana yang tertunda. Pemerintah diminta mendengarkan sains dan suara masyarakat demi kebijakan yang benar-benar menjamin keselamatan rakyat”.

18 Desember 2025
0

Perkebunan sawit di Indonesia. (foto:ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

BOGOR, Koranpapua.id- Rencana Presiden Prabowo membuka perkebunan kelapa sawit berskala besar di Papua, mendapatkan penolakan dari berbagai pihak.

Sawit Watch, salah satu organisasi yang tegas menyatakan penolakan terhadap rencana ekspansi perkebunan kelapa sawit skala besar di Papua, dengan alasan sebagai bagian dari pengembangan Bahan Bakar Minyak (BBM) energi alternatif.

ADVERTISEMENT

Organisasi ini menilai kebijakan tersebut sebagai strategi ‘jalan pintas’ yang berisiko tinggi memicu bencana ekologis baru, konflik agraria, serta memperdalam krisis pangan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Rencana ekspansi tersebut sejalan dengan target ekstensifikasi lahan sawit hingga 600.000 hektare pada 2026 dan kebijakan mandatori B50.

Baca Juga

Tiga Petugas Tewas Ditembak OTK Saat Distribusi Bahan Pangan di Jayawijaya

Cegah Campak, Warga Mawokauw Jaya Didorong Lengkapi Imunisasi Anak

Namun, Sawit Watch menegaskan Papua bukanlah solusi energi.

“Rencana ini sangat berbahaya, mengancam kelestarian hutan hujan tropis terakhir di Indonesia,” ujar Direktur Eksekutif Sawit Watch, Achmad Surambo dalam keterangannya seperti dilansir, Kamis 18 Desember 2025.

“Ini juga mengabaikan pelajaran pahit dari krisis lingkungan yang kini melanda Sumatera,” timpal Achmad Surambo.

Menurutnya, strategi ekspansi sawit di Papua tidak memiliki dasar ekologis maupun tata ruang yang memadai.

Analisis Sawit Watch berbasis riset Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH) menunjukkan total potensi lahan sawit yang sesuai dan optimal di Pulau Papua hanya sekitar 290.837 hektare.

Sementara itu, luas perkebunan sawit eksisting pada 2022 telah mencapai 290.659 hektare-hampir menyentuh kapasitas ekosistem ideal.

Lebih jauh, Sawit Watch mencatat sekitar 75.308 hektare kebun sawit eksisting di Papua berada di wilayah dengan Variabel Pembatas, seperti hutan primer, kawasan konservasi, Key Biodiversity Area (KBA), serta habitat burung cenderawasih.

“Kondisi ini menunjukkan situasi yang sudah sangat krusial. Penambahan lahan baru berpotensi melampaui daya dukung lingkungan,” jelas Surambo.

Risiko sosial juga dinilai tak kalah serius, Sawit Watch memperingatkan ekspansi di Papua berpotensi memicu gelombang konflik agraria baru.

Data organisasi ini mencatat sedikitnya 1.126 konflik di sektor perkebunan sawit di Indonesia, melibatkan 385 perusahaan dan 131 grup usaha.

“Masyarakat adat Papua, dengan hak ulayatnya, akan menjadi korban utama kriminalisasi dan kekerasan dalam skema ekstensifikasi ini,” tegas Surambo.

Sawit Watch juga menyoroti pengalaman Sumatera sebagai cermin kegagalan tata kelola sawit.

Lebih lanjut dikatakan bahwa, krisis iklim dan bencana ekologis yang terjadi di Sumatera merupakan bukti nyata pelanggaran daya dukung lingkungan.

Pembukaan lahan baru di Papua sama artinya dengan menghancurkan ekosistem penting bagi Indonesia dan dunia secara permanen.

Dari sisi ekonomi, Sawit Watch menilai pemerintah keliru dalam kalkulasi kebijakan.

Berdasarkan risetnya, skenario ekspansi sawit tanpa moratorium diproyeksikan menghasilkan dampak negative.

Baik terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga minus Rp30,4 triliun pada 2045 akibat membengkaknya biaya sosial, penanganan bencana, dan hilangnya jasa lingkungan.

Sebaliknya, skema moratorium permanen yang disertai Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) justru diperkirakan memberi output PDB positif hingga Rp30,5 triliun dan menyerap sekitar 827 ribu tenaga kerja hingga 2045.

Atas dasar itu, Sawit Watch mendesak Presiden Prabowo mengambil langkah korektif:

Pertama, membatalkan rencana ekspansi sawit di Papua dan target ekstensifikasi 600.000 hektare, serta mengalihkan fokus ke intensifikasi melalui PSR yang masif dan berkeadilan.

Kedua, menerbitkan kembali Peraturan Presiden tentang moratorium izin sawit baru secara permanen, disertai audit menyeluruh terhadap seluruh izin perkebunan, khususnya di wilayah dengan variabel pembatas di Sumatera dan Papua.

Ketiga, memperkuat perlindungan hak masyarakat adat melalui pengakuan dan penetapan wilayah adat, serta penyelesaian konflik agraria yang sudah ada.

“Bencana ekologis di Sumatera adalah peringatan keras. Rencana ekspansi sawit di Papua adalah bencana yang tertunda,” tegas Surambo.

la meminta pemerintah mendengarkan sains dan suara masyarakat demi kebijakan yang benar-benar menjamin keselamatan rakyat serta keberlanjutan ekonomi jangka panjang. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Polisi Beberkan Kronologi Penembakan Tiga Pegawai Dinas Pertanian di Jayawijaya

Polisi Beberkan Kronologi Penembakan Tiga Pegawai Dinas Pertanian di Jayawijaya

10 September 2026
Tiga Petugas Tewas Ditembak OTK Saat Distribusi Bahan Pangan di Jayawijaya

Tiga Petugas Tewas Ditembak OTK Saat Distribusi Bahan Pangan di Jayawijaya

9 September 2026
Cegah Campak, Warga Mawokauw Jaya Didorong Lengkapi Imunisasi Anak

Cegah Campak, Warga Mawokauw Jaya Didorong Lengkapi Imunisasi Anak

9 September 2026
Hari Keempat Pencarian, Empat Korban Perahu Ketinting di Asmat Belum Ditemukan

Hari Keempat Pencarian, Empat Korban Perahu Ketinting di Asmat Belum Ditemukan

9 September 2026
Dana Desa Dipangkas, Program Prioritas Mawokauw Jaya Tetap Berjalan

Dana Desa Dipangkas, Program Prioritas Mawokauw Jaya Tetap Berjalan

9 September 2026
Dana Desa Dipangkas, Penerima BLT di Mawokauw Jaya Berkurang Jadi 14 KK

Dana Desa Dipangkas, Penerima BLT di Mawokauw Jaya Berkurang Jadi 14 KK

9 September 2026

POPULER

  • APELCAMI Soroti Peserta Pelatihan OAP, Nama Peserta 2025 Kembali Muncul

    APELCAMI Soroti Peserta Pelatihan OAP, Nama Peserta 2025 Kembali Muncul

    616 shares
    Bagikan 246 Tweet 154
  • Bermodal Nomor Togel, 3 Pelaku Hipnotis Korban dan Kuras Uang di Sentani

    575 shares
    Bagikan 230 Tweet 144
  • Tiga Petugas Tewas Ditembak OTK Saat Distribusi Bahan Pangan di Jayawijaya

    557 shares
    Bagikan 223 Tweet 139
  • Dana Pembangunan TK Fajar Baru Muare Mimika Disorot, Bendahara dan Kepala Sekolah Beda Keterangan

    554 shares
    Bagikan 222 Tweet 139
  • Polisi Beberkan Kronologi Penembakan Tiga Pegawai Dinas Pertanian di Jayawijaya

    543 shares
    Bagikan 217 Tweet 136
  • YLBH Papua Tengah Apresiasi Polres Mimika dan TNI Tertibkan 9 Warga di Kwamki Narama

    538 shares
    Bagikan 215 Tweet 135
  • 18 Koordinator KONI Distrik Dibentuk, Merlyn Dorong Pembinaan Atlet Mimika hingga Kampung

    529 shares
    Bagikan 212 Tweet 132
Next Post
Ribuan Umat Katolik Papua Nugini Rayakan Petrus To Rot sebagai Santo Pertama Pribumi

Ribuan Umat Katolik Papua Nugini Rayakan Petrus To Rot sebagai Santo Pertama Pribumi

Ribuan Umat Katolik Papua Nugini Rayakan Petrus To Rot sebagai Santo Pertama Pribumi

Pasar Murah di Mimika Bantu Warga Hadapi Tekanan Inflasi Jelang Nataru

Ribuan Umat Katolik Papua Nugini Rayakan Petrus To Rot sebagai Santo Pertama Pribumi

Satgas Korpasgat Perkuat Keamanan dan Layanan Bandara Sinak Menjelang Natal dan Tahun Baru

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id