Oleh: Daniela Angelica Souisa
Mahasiswi Semester 3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prodi Hubungan Internasional UNCEN Jayapura, Papua
DALAM beberapa tahun terakhir, dinamika keamanan di kawasan Indo-Pasifik mengalami perubahan yang sangat signifikan, ditandai dengan meningkatnya intensitas persaingan strategis antara kekuatan besar dunia.
Ketegangan tersebut tidak hanya tercermin melalui manuver diplomatik dan ekonomi, tetapi juga melalui pembentukan aliansi-aliansi militer baru yang berpotensi mengubah peta geopolitik kawasan.
Pembentukan AUKUS (pakta keamanan antara Amerika Serikat, Inggris, dan Australia) menandai babak baru rivalitas AS–Tiongkok di Indo-Pasifik
Dengan pakta ini juga menunjukkan bahwa persaingan keduanya telah memasuki tahap serius namun tetap dikemas secara “elegan” melalui kerja sama teknologi militer berkelas tinggi.
AUKUS tidak sekadar aliansi biasa, karena melibatkan transfer teknologi kapal selam nuklir, integrasi intelijen, serta kolaborasi dalam kecerdasan buatan dan keamanan siber, yang secara signifikan meningkatkan posisi Australia sebagai aktor militer regional.
Dari sudut geopolitik, langkah ini jelas dapat dibaca sebagai upaya menyeimbangkan atau bahkan menahan ekspansi pengaruh Tiongkok, terutama di Laut Tiongkok Selatan.
Sementara Tiongkok memandang AUKUS sebagai ancaman stabilitas regional dan pemicu potensi perlombaan senjata baru.
Akibatnya, tensi di Indo-Pasifik kian terasa melalui meningkatnya manuver militer, latihan bersama, dan retorika diplomatik dari kedua pihak.
Dalam konteks ini, Indo-Pasifik tidak lagi sekadar wilayah geografis, melainkan arena kompetisi geopolitik paling panas abad ke-21.
Di mana AS berupaya mempertahankan dominansinya melalui penguatan sekutu, sedangkan Tiongkok memperluas pengaruhnya lewat ekonomi dan kekuatan militer.
Kondisi tersebut menempatkan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pada posisi yang dilematis karena ingin menjaga stabilitas dan independensi, tetapi tidak bisa sepenuhnya menghindar dari tekanan dua kekuatan besar.
Oleh karena itu, negara-negara ASEAN ke depan perlu lebih vokal dalam memperkuat arsitektur keamanan regional agar tidak hanya menjadi penonton dalam rivalitas dua raksasa tersebut. (Redaksi)










