TIMIKA, Koranpapua.id- Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Kodap XV Ngalum Kupel, meminta diplomat Papua merdeka bersatu melakukan lobi politik ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara anggota PBB.
Lobi tersebut terkait dengan konflik bersenjata antara pihak TPNPB dengan militer Indonesia, yang telah memakan banyak korban jiwa dan harta benda di seluruh Tanah Papua.
TPNPB Kodap XV Ngalum Kupel yang bermarkas di Wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, juga menyerukan kepada seluruh diplomat dan organisasi sipil di manapun berada untuk bersatu.
TPNPB Kodap XV Ngalum Kupel juga menyerukan agar para pihak yang berjuang untuk kemerdekaan Papua menghentikan membuat polemik baru di media-media sosial yang dapat menghancurkan citra bangsa Papua.
“Hentikan menyerang tuan Sebby Sambom dan Komnas TPNPB, dan segera saling memaafkan demi perjuangan bangsa Papua,” tulis TPNPB Kodap XV Ngalum Kupel dalam siaran pers, Minggu 16 November 2025.
Dalam siaran pers tersebut disampaikan bahwa, sudah banyak anggota TPNPB dan warga sipil yang menjadi korban. Untuk itu, para pihak hentikan membuat polemik baru dalam perjuangan.
“Segera bersatu. Sebab apa yang mereka perjuangkan bukan untuk TPNPB merdeka, tetapi atas dasar sejarah dan rakyat Papua,” demikian kutipan lain dalam siaran pers tersebut.
TPNPB Kodap XV Ngalum Kupel meminta semua organisasi sipil yang sedang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Papua di dalam dan luar negeri, termasuk yang berada di Tanah Papua, agar segera bersatu menghentikan penjajahan Indonesia di atas Tanah Papua.
Karena menurut TPNPB Kodap XV Ngalum Kupel, selama empat tahun perang antara TPNPB dengan militer Indonesia, telah mengakibatkan banyak korban jiwa di Pegunungan Bintang.
Selama empat tahun juga ribuan warga sipil yang melarikan diri ke hutan masih bertahan di sana, tanpa adanya bantuan kemanusiaan dari Palang Merah Internasional.
“Sehingga seluruh diplomat Papua di seluruh dunia segera bersatu, melakukan lobi internasional agar terjadi intervensi PBB terkait konflik bersenjata yang menelan banyak korban jiwa dan harta benda di Tanah Papua.” (Redaksi)










