TIMIKA, Koranpapua.id – Mahalnya biaya transportasi udara menjadi salah satu kendala utama pengiriman logistik ke Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Untuk mengangkut barang seberat 670 kilogram, pemerintah distrik harus menyiapkan anggaran sekitar Rp80 juta.
Kepala Distrik Jila, Enos Lokobal, mengatakan biaya tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya yang masih berkisar Rp40 juta lebih. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut memengaruhi tarif sewa helikopter yang menjadi salah satu pilihan transportasi menuju wilayah itu.
“Biaya pengiriman barang ke Jila cukup tinggi. Untuk 670 kilogram, anggarannya sekitar Rp80 juta,” kata Enos kepada Koranpapua.id di Timika, Jumat 23 Oktober 2026.
Menurut Enos, pengiriman logistik masih menunggu jadwal penerbangan helikopter yang direncanakan berlangsung pekan depan. Pelaksanaannya harus menyesuaikan kapasitas angkut dan ketersediaan anggaran.
Selain helikopter, pengiriman menggunakan pesawat kecil melalui penerbangan carter membutuhkan biaya sekitar Rp38 juta. Logistik yang dikirim tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat Jila, tetapi juga warga di Distrik Hoya dan Alamat.
Di luar persoalan transportasi, pemulihan keamanan menjadi hal penting agar distribusi kebutuhan pokok dan pelayanan pemerintahan dapat berjalan lebih lancar.
Enos mengatakan, masyarakat bersama tokoh pemuda, tokoh agama, dan tokoh masyarakat menyatakan kesiapan untuk menandatangani jaminan keamanan sebagai bentuk dukungan terhadap pemulihan situasi di Jila.
Ia berharap dukungan tersebut dapat membantu menciptakan kondisi yang kondusif sehingga aktivitas pemerintahan, penyaluran kebutuhan masyarakat, dan pembangunan dapat berjalan lebih baik.
Di tengah keterbatasan akses transportasi dan telekomunikasi, pemerintah distrik juga berupaya memperluas akses komunikasi bagi warga.
Salah satunya dengan memanfaatkan dana program padat karya untuk membeli perangkat internet satelit Starlink.
Menurut Enos, akses internet diharapkan membantu masyarakat berkomunikasi dengan wilayah lain, terutama ketika keterbatasan infrastruktur masih menjadi tantangan.
Ia berharap pemulihan keamanan dan perbaikan akses transportasi dapat berjalan beriringan.
Dengan begitu, kebutuhan masyarakat serta pelayanan pemerintahan di Jila, Hoya, dan Alamat bisa terpenuhi dengan lebih baik. (*)
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru









