TIMIKA, Koranpapua.id – Pendakwah Habib Husein Ja’far mengajak masyarakat Kabupaten Mimika, Papua Tengah, merawat keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun daerah dan menjaga persatuan.
Menurut dia, perbedaan suku, agama, dan budaya bukan ancaman, melainkan potensi besar yang dapat mendorong kemajuan apabila dikelola dengan sikap saling menghormati.
Pesan tersebut disampaikan Habib Husein saat menghadiri Tabligh Akbar di Gedung Eme Neme Yauware, Timika, Kamis 15 Oktober 2026.
“Keragaman itu kalau tidak dijaga justru bisa menjadi bencana bagi kita. Tetapi kalau dijaga dengan baik, keragaman justru menjadi potensi untuk memajukan kabupaten ini,” ujarnya.
Habib Husein mengingatkan, persoalan intoleransi tidak boleh dipandang sebagai masalah kecil yang hanya menyangkut hubungan antarindividu atau kelompok tertentu.
Jika dibiarkan, sikap intoleran dapat meluas dan memengaruhi kehidupan sosial, dinamika politik, keamanan, hingga stabilitas ekonomi daerah.
Karena itu, menurut dia, menjaga toleransi merupakan tanggung jawab bersama yang berkaitan langsung dengan masa depan Mimika.
Kerukunan bukan sekadar menciptakan suasana damai, tetapi juga membangun fondasi agar masyarakat dapat hidup berdampingan dan bekerja sama untuk memajukan daerah.
Ia menegaskan, toleransi tidak cukup berhenti sebagai slogan atau pesan yang disampaikan dalam kegiatan keagamaan. Nilai tersebut harus tercermin dalam tindakan sehari-hari.
“Mulai dari menghormati umat agama lain yang menjalankan ibadah dan merayakan hari besarnya, menjaga hubungan baik dengan sesama warga, hingga membangun kerja sama tanpa mempersoalkan perbedaan latar belakang,” imbuhnya.
Dalam pandangannya, Mimika memiliki potensi besar untuk memperlihatkan bahwa keberagaman dapat berjalan seiring dengan persaudaraan.
Kehadiran masyarakat dari berbagai latar belakang dalam Tabligh Akbar menjadi salah satu gambaran bahwa ruang kebersamaan dapat tumbuh di tengah perbedaan.
Habib Husein juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam memperkuat budaya toleransi. Pemerintah, ulama, tokoh lintas agama, masyarakat sipil, dan media dinilai memiliki peran strategis dalam menyebarkan pemahaman tentang pentingnya hidup berdampingan secara damai.
Dia berharap pesan perdamaian terus disampaikan melalui berbagai ruang komunikasi, termasuk media digital.
Dengan demikian, praktik baik kehidupan antarumat beragama di Mimika tidak hanya terpelihara di tingkat lokal, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat di daerah lain.
Habib Husein turut mengapresiasi upaya Pemerintah Kabupaten Mimika dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Menurut dia, komitmen merawat keberagaman perlu terus diperkuat agar perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi dasar untuk membangun solidaritas dan kemajuan bersama.
Sementara itu, Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa keberagaman merupakan identitas sekaligus kekuatan daerah.
Ia mengingatkan seluruh masyarakat bahwa Mimika adalah rumah bersama yang harus dijaga dan dibangun secara kolektif.
“Mimika rumah kita. Artinya, Mimika adalah tempat kita semua datang dan tinggal. Karena itu, kita harus bersama-sama menjaga dan membangun rumah kita ini,” tegas Johannes.
Ia menilai sikap saling menghormati dan menjaga kekompakan menjadi kunci untuk mempertahankan keharmonisan masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan, perbedaan diharapkan menjadi modal untuk mendukung pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (*)
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru









