TIMIKA, Koranpapua.id– Bupati Mimika, Johannes Rettob, bersama Wakil Bupati Emanuel Kemong memaparkan capaian kinerja satu tahun kepemimpinan mereka dalam refleksi pembangunan daerah.
Kegiatan ini dirangkaikan dengan silaturahmi Halalbihalal Idulfitri 1447 Hijriah digelar di Gedung Eme Neme Yauware, Rabu 25 Maret 2026.
Dalam pemaparanya Johannes Rettob mengakui perjalanan pembangunan selama setahun terakhir bukanlah hal mudah. Meski demikian, ia bersyukur berbagai tantangan dapat dilalui bersama.
Ia menegaskan bahwa arah pembangunan tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah daerah, lanjutnya, terus berupaya menurunkan angka kemiskinan, meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), mengurangi pengangguran, serta memperbaiki layanan kesehatan.
Data yang dipaparkan menunjukkan adanya tren positif. IPM Mimika meningkat dari 7,5 pada 2024 menjadi 7,7 pada akhir 2025. Persentase penduduk miskin juga turun dari 14,15 persen menjadi 13,8 persen.
Di sektor ekonomi, pertumbuhan mengalami lonjakan dari 4,80 persen menjadi 6,5 persen. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) turut meningkat dari Rp122 triliun pada 2024 menjadi Rp140,52 triliun pada 2025.
“Artinya perputaran ekonomi di Mimika cukup besar, meskipun masih didominasi sektor pertambangan,” ujar Bupati.
Selain itu, inflasi daerah berhasil ditekan dari 3,99 persen pada 2024 menjadi 2,23 persen pada 2025. Namun, pada Februari 2026 sempat mengalami kenaikan menjadi 4,31 persen akibat pengaruh global.
Di bidang kesehatan, upaya penurunan stunting juga menunjukkan hasil. Secara nasional, angka stunting turun dari sekitar 27 persen menjadi 22 persen.
Pemerintah daerah, kata Bupati, terus melakukan berbagai intervensi untuk menekan angka tersebut.
Ia menegaskan bahwa seluruh capaian ini merupakan bagian dari komitmen mewujudkan masyarakat Mimika yang adil dan sejahtera.
Senada dengan itu, Wakil Bupati Emanuel Kemong mengakui bahwa padatnya aktivitas dalam menangani berbagai persoalan daerah sempat mengurangi intensitas komunikasi publik.
Meski demikian, Emanuel Kemong memastikan hubungan kepemimpinan mereka tetap solid hingga saat ini.
“Jangan mendoakan agar kami berjarak. Kami berdua tetap bersama seperti yang bapak-ibu lihat hari ini. Kami tetap bersinergi dengan Forkopimda, tokoh lintas agama, dan seluruh masyarakat,” kata Emanuel.
Ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan Rettob–Kemong terbuka terhadap masukan dan kritik dari masyarakat, selama bersifat membangun.
“Jika ada persoalan, mari berdiskusi. Kami terbuka menerima kritik yang konstruktif dan memberikan solusi, bukan kritik yang tanpa arah,” pungkasnya. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru







