TIMIKA, Koranpapua.id– Setelah beroperasi selama 26 tahun sejak berdiri tahun 1999, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika, kini mulai berbenah.
Langkah pembenahan rumah sakit yang bernaung di bawah Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), dilakukan dengan penyusunan Rencana Induk Pengembangan (RIP) dan penetapan pengelola baru RSMM.
Penyusunan RIP dan penetapan pengelolah rumah sakit yang bernaung di bawah bendera YPMAK selaku pengelola Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI), ditargetkan dapat rampung dalam waktu tiga bulan ke depan.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan kick off seleksi pengelola dan penyusunan RIP RSMM yang digelar di salah satu hotel di Timika, Senin 16 Februari 2026.

Ketua Tim Seleksi sekaligus Wakil Ketua Pengurus YPMAK Bidang Perencanaan Program, Feri Magai Uamang, mengatakan pihaknya telah menunjuk PT Ligar Mandiri Indonesia sebagai konsultan pendamping.
Penunjukan PT Ligar Mandiri dilakukan melalui proses seleksi ketat sejak April 2025.
Dari 58 pendaftar, tersisa tiga besar dan akhirnya ditetapkan satu konsultan terpilih.
“Hari ini kita mulai proses penyusunan master plan sekaligus tahapan seleksi pengelola baru,” ujar Feri.
Ia menegaskan, sesuai Perjanjian Kerja Sama (PKS), seluruh tahapan ditargetkan selesai dalam tiga bulan.
Dengan demikian, RSMM segera memiliki blueprint pengembangan jangka pendek, menengah, dan panjang, serta mitra pengelola baru.
Ketua Pembina YPMAK, Engel Enoch, menekankan bahwa proyek ini bersifat strategis, karena RSMM merupakan rumah sakit pertama di Mimika yang berdiri sejak 1999.
RSMM ini hadir jauh sebelum rumah sakit pemerintah dan fasilitas kesehatan lainnya ada di Timika.
Menurut Engel, sektor kesehatan merupakan salah satu program prioritas YPMAK selain pendidikan dan ekonomi, yang didanai melalui Dana Kemitraan PTFI.
Ketiga sektor tersebut menyerap sekitar 80 persen alokasi dana kemitraan.
“Pengelolaan dengan anggaran besar harus dilakukan secara profesional dan berorientasi pada keberlanjutan. Kami akan memonitor ketat progresnya sesuai timeline,” tegasnya.
Saat ini, pengelolaan RSMM masih diperpanjang bersama Yayasan Caritas Timika hingga Desember 2026.
Engel berharap sebelum masa kontrak berakhir, blueprint dan proses seleksi pengelola baru sudah tuntas sehingga tahapan transisi dapat segera dilakukan.
Vice President Community Development PTFI, Nathan Kum, mengapresiasi proses panjang yang telah ditempuh YPMAK.
Ia menilai pembenahan RSMM penting mengingat perkembangan fasilitas kesehatan di Timika yang semakin pesat.
“Kalau prosesnya matang, hasilnya akan baik. Kita semua harus mendukung agar tugas ini selesai tahun ini,” ujarnya.
Perwakilan PT Ligar Mandiri Indonesia, Budi Prayogi, menjelaskan bahwa tim konsultan akan memulai dengan pemetaan kondisi eksisting RSMM.
Termasuk mengidentifikasi persoalan utama, lalu merumuskan solusi strategis dan kriteria mitra pengelola yang tepat.
Sementara itu, Ketua Pengurus YPMAK, Dr. Leonardus Tumuka, menegaskan bahwa setelah hampir tiga dekade berdiri, RSMM membutuhkan reformasi system dan infrastruktur.
Termasuk reformasi pola pelayanan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya Amungme, Kamoro, dan lima suku kekerabatan di Mimika.
“Kita ingin ada reformasi pelayanan, bukan hanya pada aspek kuratif, tetapi juga berdampak pada perubahan pola hidup masyarakat,” pesan Leonardus.
Ia berharap melalui proses seleksi dan penyusunan RIP ini, RSMM dapat kembali menjadi rumah sakit rujukan utama yang profesional, kompetitif, dan tetap berpihak pada masyarakat asli Mimika.
“Tujuan akhirnya adalah peningkatan kualitas layanan kesehatan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi masyarakat,” tandasnya. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










