SENTANI, Koranpapua.id– Kasus kematian seorang ibu atas nama Irene Sokoy (31) bersama bayi dalam kandungannya, Senin 17 November 2025, kini viral dan menjadi berita utama hampir di semua media.
Irene bersama calon bayinya meninggal dunia di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, saat menjalani proses persalinan, dan diduga sempat mengalami penolakan oleh sejumlah rumah sakit dengan berbagai alasan.
Kejadian yang menimpa Irene, warga Sentani ketika saat akan melahirkan anak ketiganya itu, kini menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan menjadi potret buram pelayanan kesehatan di Papua.
Terkait dengan kasus ini, Dinas Kesehatan Papua akan segera mengaudit kasus kematian Irene Sokoy beserta bayinya di RSUD Yowari, Kabupaten Jayapura.
Hal ini disampaikan oleh drg Maryen Braweri, Direktur RSUD Yowari, guna memastikan bahwa seluruh prosedur pelayanan medis telah dijalankan sesuai standar.
Dalam pernyataannya melalui pesan singkat, drg Maryen menegaskan bahwa audit ini merupakan langkah resmi pemerintah daerah.
“Audit ini untuk memastikan seluruh prosedur pelayanan dijalankan sesuai standar dan mengklarifikasi rangkaian kejadian yang dialami pasien sebelum meninggal,” ujar Maryen dalam keterangannya, Jumat 21 November 2025.
Hasil audit nantinya akan diumumkan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua setelah semua proses pemeriksaan medis, analisis layanan, dan klarifikasi dari tenaga kesehatan selesai dilakukan.
Sementara itu, pihak keluarga korban melalui Ivon Kabey, ipar dari Irene Sokoy, menyatakan bahwa terdapat dugaan keterlambatan pelayanan serta penolakan rujukan di beberapa rumah sakit di Kota Jayapura.
“Kami tiba di RSUD Yowari pukul 15.00 WIT dengan status pasien pembukaan enam dan ketuban pecah, tetapi proses persalinan tidak kunjung ditangani karena dugaan bayi berukuran besar, yakni empat kilogram,” jelasnya.
Kondisi Irene semakin memburuk, namun surat rujukan baru selesai mendekati tengah malam, dan ambulans terlambat tiba pukul 01.22 WIT.
Rujukan ke RS Dian Harapan dan RS Abe ditolak karena ruangan penuh serta renovasi fasilitas.
Sementara RS Bayangkara meminta uang muka Rp4 juta. Saat menuju RS Dok II, Irene meninggal di perjalanan pukul 05.00 WIT. (Redaksi)










