TIMIKA, Koranpapua.id – Ketua YPMAK Dr Leonardus Tumuka mendorong alumni penerima beasiswa dana kemitraan agar tidak hanya mengandalkan lowongan kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha dengan memanfaatkan potensi ekonomi lokal di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Menurut Leonardus, Mimika memiliki kekayaan alam yang dapat dikembangkan menjadi sumber penghidupan masyarakat. Namun, potensi tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal jika hanya dibiarkan tanpa inisiatif dan kerja nyata untuk mengelolanya.
Pesan itu disampaikan Leonardus dalam workshop Perkumpulan Alumni Penerima Beasiswa Dana Kemitraan (Papeda) YPMAK bertema “Eksistensi Alumni untuk Masa Depan Ketenagakerjaan di Tanah Amungsa Bumi Kamoro” di salah satu hotel di Timika, Rabu 21 Oktober 2026.
Dia menilai, tantangan ketenagakerjaan perlu dijawab dengan memperluas pilihan, bukan semata-mata menunggu tersedianya pekerjaan formal. Alumni dapat mengambil bagian dengan mengembangkan usaha di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan pengelolaan hasil laut.
Ia mencontohkan potensi sagu, petatas, singkong, keladi, ikan, dan kepiting yang dapat menjadi sumber ekonomi apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.
“Kita berdiri di tanah yang kaya, bukan berarti kita harus sombong dan hidup dalam kesombongan atas semua kekayaan yang ada,” kata Leonardus.
Menurut dia, kekayaan alam harus diikuti kemauan untuk mengembangkan usaha dan menjaga keberlanjutan sumber daya. Inisiatif tersebut tidak harus dimulai dalam skala besar. Usaha kecil yang dikelola secara konsisten pun berpeluang tumbuh dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
“Jangan berharap yang besar, tapi kecil itu piara dia sampai jadi besar, lalu jadi berkat untuk banyak orang,” ujarnya.
Leonardus juga menekankan bahwa pendidikan yang diperoleh melalui dukungan beasiswa harus menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Karena itu, alumni diharapkan menjadi bagian dari solusi atas persoalan pembangunan, baik melalui pekerjaan, kewirausahaan maupun keterlibatan dalam pengembangan ekonomi masyarakat.

Untuk mendukung upaya tersebut, ia meminta Papeda mendata alumni secara menyeluruh, mulai dari persebaran tempat tinggal hingga pekerjaan yang dijalani.
Pendataan juga perlu menjangkau alumni di wilayah pesisir dan pedalaman, termasuk mereka yang belum memperoleh kesempatan kerja.
Menurut Leonardus, informasi tersebut penting untuk mengetahui kondisi alumni sekaligus memperkuat peran perkumpulan dalam menghubungkan lulusan dengan peluang kerja dan usaha.
YPMAK sendiri terus mengambil bagian dalam pengembangan masyarakat melalui dana kemitraan PT Freeport Indonesia, terutama di bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Namun, berbagai persoalan di Mimika membutuhkan keterlibatan lebih luas, termasuk dari para alumni.
Pandangan tersebut sejalan dengan pesan Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Fransiskus Bokeyau, yang hadir mewakili pemerintah daerah dalam workshop tersebut.
Fransiskus mengatakan, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kelulusan atau gelar akademik. Ilmu pengetahuan, keterampilan, karakter, dan pengalaman yang diperoleh harus dapat diterapkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Alumni diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang kerja, mengembangkan usaha, menghadirkan inovasi-inovasi, serta mengambil peran strategis dalam berbagai sektor pembangunan,” kata Fransiskus.
Ia menambahkan, persoalan ketenagakerjaan tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha dan industri, lembaga pendidikan, YPMAK, PT Freeport Indonesia, serta organisasi alumni. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru









