TIMIKA, Koranpapua.id – Ketua Komisi II DPRK Mimika, Dolfin Beanal, mengecam pelayanan terhadap warga Suku Kamoro dari Kampung Pomako dan Pulau Karaka yang mengikuti Festival Seni Budaya Mimika 2026. Puluhan warga dilaporkan terpaksa tidur di emperan toko dan kesulitan mendapatkan makanan, tempat mandi serta fasilitas sanitasi.
Dolfin menilai kondisi tersebut memprihatinkan dan menjadi catatan serius bagi penyelenggara karena masyarakat adat merupakan bagian penting dari kekayaan budaya yang dirayakan dalam festival.
“Kondisi ini memalukan. Saya kecewa dengan cara dinas terkait melayani masyarakat adat. Jangan hanya melibatkan mereka pada momen tertentu, lalu mengabaikan kebutuhan dan martabat mereka,” tegasnya.
Pantauan koranpapua, Kamis (8/10/2026) pagi, warga tidur beralaskan karton, bekas spanduk dan tikar seadanya di Jalan Yos Sudarso, Timika. Sejumlah ibu membersihkan tempat bermalam, sementara anak-anak masih berada dalam gendongan.
Yosep Kamenaru dari Sanggar Pokai mengatakan rombongannya membawa anyaman dan ukiran khas Kamoro untuk ditampilkan. Namun selama empat hari di Timika, mereka kesulitan mendapatkan tempat menginap, makanan, serta fasilitas mandi dan sanitasi.
“Kalau mau mandi atau buang hajat, kami jalan ke keluarga di Gorong-gorong. Panitia juga tidak siapkan kami makan,” ujarnya.
Yulianus Mikamaniyu juga mengaku membiayai sendiri bahan bakar perahu dari Pulau Karaka ke Pomako sebelum menumpang truk ke Timika. Hingga menjelang penutupan, mereka belum mendapat kepastian transportasi untuk pulang.
Sementara Maria Salome Minayau mengatakan keluarganya kesulitan mendapatkan makanan selama berada di Timika. Mereka terpaksa membeli gorengan, bahkan anak-anak sempat tidak mendapatkan makanan.
Menanggapi kondisi tersebut, Dolfin mendesak dinas terkait bertanggung jawab dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat adat yang terlibat dalam kegiatan budaya terpenuhi, termasuk tempat istirahat, makanan, sanitasi dan transportasi.
Menurutnya, penghormatan terhadap masyarakat adat tidak cukup melalui pertunjukan seni, tarian, anyaman dan ukiran, tetapi harus diwujudkan melalui perhatian nyata terhadap kebutuhan dan martabat mereka.
Dolfin meminta kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan festival budaya ke depan lebih terencana, khususnya bagi masyarakat pesisir yang membutuhkan perjalanan dan biaya khusus menuju Timika.
“Jangan sampai budaya dibanggakan di atas panggung, sementara pemilik budaya justru tidur di emperan toko,” tegasnya.
Penulis: Ril Minggu
Editor: Marthen LL Moru







