TIMIKA, Koranpapua.id- Ratusan massa yang tergabung dalam Front Rakyat Papua (FRP) menggelar aksi demo damai di Timika, Rabu 7 April 2026.
Sejak pagi hari massa mulai berkumpul di sekitaran Bundaran Eme Neme Yauware, Jalan Budi Utomo dan menyampaikan sejumlah tuntutan.
Massa kemudian melakukan long march ke gedung DPR Kabupaten Mimika di Jalan Cenderawasih.
Dalam aksi tersebut massa juga membawa sejumlah spanduk yang bertuliskan menolak investasi, termasuk menolak militerisme di Papua.
Adapun sejumlah tuntutan yang disampaikan dalam aksi tersebut yakni, mulai dari persoalan buruh, lingkungan, masyarakat adat, hingga kondisi rakyat kecil.
Massa aksi menyoroti PT Freeport, MRP dan pengembalian Otonomi Khusus (Otsus), serta hak menentukan nasib sendiri.
Wegobi Pigai dalam orasinya menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bentuk kekecewaan dan perlawanan terhadap berbagai kebijakan yang dinilai belum berpihak kepada rakyat Papua.
“Kami turun hari ini untuk menyuarakan bahwa tanah ini adalah milik kami. 59 tahun sudah Freeport hadir, tetapi rakyat masih hidup dalam kesulitan. Kami minta keadilan, kami minta hak kami dikembalikan,” tegas Wegobi.
Untuk mengamankan pelaksanaan aksi demo tersebut, sebanyak 300 personel gabungan TNI dan Polri disiagakan.
Aparat keamanan melakukan pengaturan di sejumlah titik guna memastikan kegiatan berjalan aman dan lancar.
Kapolres Mimika, AKBP Billyandha Hildiario Budiman, menyampaikan bahwa pengamanan dilakukan secara terpadu oleh personel Polres Mimika bersama unsur TNI dari Yonif, Kodim, serta Brimob Batalyon B.
“Untuk kegiatan hari ini, kami dari Polres Mimika bersama TNI dan Brimob melaksanakan pengamanan aksi unjuk rasa pada 7 April 2026 dengan sasaran di Kantor DPRK Kabupaten Mimika,” ujarnya.
Ia menjelaskan, total 300 personel ditempatkan di empat titik yang menjadi lokasi kumpul massa sebelum bergerak menuju DPRK.
Kepolisian juga telah berkoordinasi dengan pihak DPRK Mimika untuk menerima perwakilan massa aksi guna menyampaikan aspirasi secara langsung.
“Kami harapkan pelaksanaan aksi hari ini dapat berjalan aman dan tertib serta tidak mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat, khususnya di Kabupaten Mimika,” tambahnya.
Dalam pengamanan tersebut, seluruh personel diinstruksikan mengedepankan pendekatan humanis, dan untuk massa aksi di himbau untuk menyampaikan aspirasi dengan baik.
“Kami menekankan pendekatan humanis dalam pelayanan. Selain itu, kami mendorong agar aspirasi disampaikan melalui audiensi dengan DPRK agar dapat tersalurkan dengan baik dan menghindari potensi gangguan keamanan,” pungkasnya. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










