TIMIKA, Koranpapua.id-Timika Inside Festival of Art (TIFA) kembali menorehkan prestasi membanggakan.
Untuk ketiga kalinya secara berturut-turut sejak 2024, event seni dan budaya kebanggaan Papua Tengah ini masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, program unggulan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Hal itu disampaikan Art Director sekaligus Founder Tifa Raya, Alfo Smith, dalam konferensi pers yang berlangsung di Sekretariat Tifa Raya, Jalan Irigasi Timika, Selasa 26 Januari 2026.
Alfo juga membocorkan sejumlah konsep besar yang akan diusung pada TIFA 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 2–4 Juli 2026.
Ia menyebutkan, capaian tersebut sebagai buah dari kerja konsisten dan kolaboratif selama bertahun-tahun.
“Puji Tuhan sekali tiga tahun berturut-turut, mulai dari 2024, 2025, 2026, TIFA masuk di Karisma Event Nusantara, salah satu program unggulan dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia,” ujar Alfo.
Kolaborasi Nasional hingga Internasional
Alfo menegaskan, TIFA 2026 tidak sekadar menjadi panggung seremonial, melainkan ruang strategis untuk membawa seni dan budaya Papua ke level yang lebih luas.
“TIFA ini bukan pementasan seni biasa atau seremonial biasa, tetapi akan menarik perhatian publik terkait panggung pertunjukan daerah yang akan dibawa ke kancah lebih jauh lagi, ke kancah nasional dan internasional,” katanya.
TIFA 2026 akan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan berbagai instansi dan komunitas kreatif di seluruh Indonesia.
Mulai dari pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, hingga kementerian di tingkat pusat.
Panitia bahkan berharap Kementerian Pariwisata RI dapat hadir langsung dalam rangkaian kegiatan.
“Kalau tahun kemarin sudah dihadiri oleh Wakil Menteri Kebudayaan, kita rencana tahun ini beliau juga harus hadir supaya membuka sekaligus menutup rangkaian event TIFA 2026,” kata Alfo.
Hadirkan Duta TIFA Berpasangan
Meski tetap mempertahankan kekhasan tahun-tahun sebelumnya, TIFA 2026 menghadirkan sejumlah inovasi. Salah satunya perubahan konsep Papua Culture Week.
“Basically bakal akan sama saja, namun yang berbeda adalah tahun ini kita sudah mengubah Papua Culture Week,” jelas Alfo.
Perubahannya kata Alto, jika beberapa tahun terakhir berjalan hanya dengan fashion show, kali ini dibuat dalam bentuk pageant atau akan memilih duta-duta TIFA yang akan berpasangan.
Konsep duta berpasangan ini diharapkan mampu memperkuat daya dorong promosi TIFA ke tingkat nasional. Selain itu, Karnaval Mimpi dan Talingkar Cinta tetap dipertahankan.
Program Talingkar Cinta yang mengangkat nilai estetika anyaman rambut diharapkan terus menjadi simbol kecantikan alami masyarakat Papua.
“Kita berharap dengan Talingkar Cinta atau anyaman rambut juga akan menjadi satu payung besar terhadap kecantikan saudara-saudara yang berambut gelombang, keriting, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Papua Plus Size hingga Dukungan Wamen Ekraf
Dikatakan, program Papua Plus Size kembali hadir dan mendapat dukungan langsung dari Wakil Menteri Ekonomi Kreatif.
“Papua Plus Size ini kebetulan kemarin kita sudah ketemu dengan Ibu Irene Umar selaku Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, dan beliau sangat respons sekali dengan kegiatan-kegiatan TIFA,” ungkap Alfo.
Dukungan juga datang dari berbagai pihak strategis, termasuk Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto.
Api Perdamaian, Konsep Baru TIFA 2026
Meski sebagian besar program telah dikenal publik, TIFA 2026 tetap menyiapkan gagasan baru yang masih dirahasiakan, salah satunya konsep Api Perdamaian.
“Jadi sebagai pemimpin atau pemangku kebijakan dari seluruh Indonesia mereka pegang obor sebagai simbol kekuatan dan keberanian sebagai bentuk perdamaian dari seluruh nusantara yang ada di Kabupaten Mimika,” kata Alfo.
Tema besar TIFA 2026 sendiri adalah “Tong Satu, Tong Kuat, Bersama Indonesia, Bersama Papua, Tong Menggerakkan dan Mengulik Prestasi.”
Satu-satunya Wakil Papua Tengah di KEN 2026
Ketua Umum Tifa Raya, Dina Merani, menegaskan bahwa TIFA masih menjadi satu-satunya event dari Papua Tengah yang lolos KEN 2026.
“Tahun ini, Karisma Event Nusantara ada 125 event. Dan salah satu dari Papua Tengah itu masih tetap TIFA,” ujarnya.
Ia berharap ke depan semakin banyak event dari Papua Tengah yang mampu menembus KEN. Dina juga menegaskan ambisi besar TIFA 2026 untuk naik kelas menjadi event internasional.
“Tahun ini kita mau buat menjadi event yang bertaraf internasional, di mana kita akan berkolaborasi dengan seniman-seniman atau teman-teman kreatif dari luar negeri,” katanya.
Kolaborasi lintas negara akan melibatkan seni ukir, batik Papua, hingga fashion show bersama seniman mancanegara.
“Bukan kita pergi ke sana, tapi kita mendatangkan seniman-seniman itu ke Timika,” tegas Dina.
Media Pembelajaran bagi Daerah Lain
Dalam konferensi pers tersebut, hadir pula perwakilan dari Maluku Tenggara, yakni panitia Kei Art Festival 2025.
Kehadiran mereka bukan hanya sebagai pendukung, tetapi juga untuk belajar langsung dari pelaksanaan TIFA.
“Jadi memang sengaja kita datangkan mereka ini supaya mereka bisa belajar langsung di lapangan terkait penanganan event-event besar,” kata Alfo.
Perwakilan Maluku Tenggara, Ateng Letsoin, menyebut kehadiran mereka untuk berpartisipasi sekaligus menyerap pengalaman.
“Tujuannya kami ke sini untuk berpartisipasi mengikuti serta mendukung event TIFA dan juga untuk sama-sama belajar menambah wawasan,” ujarnya.
Harapan Para Duta TIFA
Duta TIFA 2025, Acha, berharap TIFA 2026 dapat berlangsung lebih meriah.
“Mungkin untuk harapan saya sebagai Duta TIFA 2025, event TIFA 2026 di tahun ini bisa lebih baik. Tahun ini lebih ramai dari sebelumnya,” katanya.
Sementara Duta TIFA 2023, Ocean Chelsy Nusi, berharap cuaca mendukung dan generasi duta berikutnya semakin siap membawa TIFA ke level nasional.
“Harapan untuk Duta TIFA selanjutnya lebih semangat, lebih belajar, lebih belajar lagi untuk ikut event nasional melalui TIFA.”
Dengan dukungan lintas sektor dan ambisi internasional, TIFA 2026 diproyeksikan menjadi momentum penting bagi Mimika dan Papua Tengah untuk menegaskan diri sebagai pusat pergerakan seni dan budaya di Indonesia. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru







