TIMIKA, Koranpapua.id– Peristiwa gugurnya Praka Anumerta Satria Tino Taopan pada Kamis 8 Januari 2026 masih menyisahkan berbagai cerita.
Termasuk dektik-detik terakhir putra Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, terkena peluru Organisasi Papua Merdeka (OPM) saat kontak tembak di kampung Yumogaru, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan.
Kapten Infanteri Desta, perwakilan Yonif 100/Bukit Barisan yang mengatarkan jenazah almarhum dari Papua ke kampung halamannya di Jalan Salak, Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, sempat menyampaikan detik-detik terakhir Praka Satria bertugas.
Dikatakan, hari itu di Kampung Yumogaru, Nduga mendarat helikopter untuk mendistribusikan logistik berupa bahan makanan ke pos penjagaan.
Seperti biasa setiap kedatangan helikopter, prajurit TNI yang bertugas di wilayah itu, pasti melakukan pengamanan di sekitar tempat helikopter mendarat.
Namun, pada saat bersamaan, kelompok OPM sudah terlebih dahulu menghincar wilayah itu.
Kontak tembak pun terjadi, dan saat Praka Satria yang sedang berjuang melindungi teman-temannya dari serangan OPM, terkena peluru dan gugur di medan tugas.
Kelompok bersenjata disebut sempat merampas senjata dan perlengkapan militer milik korban.
Meski tidak menjelaskan secara keseluruan peristiwa itu, namun Kapten Desta menuturkan bahwa, Praka Satria yang telah dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral Dua (Kopda), telah menjalankan tugas negara dengan penuh tanggung jawab dan gugur secara terhormat.
Sementara itu, Komandan Kodim 1604/Kupang, Letkol Infanteri Kadek Abriawan, menyebut Kopda Satria sebagai prajurit terbaik.
Kopda Satria telah mengorbankan jiwa raganya demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Ia meninggal secara terhormat di medan tugas. Ini merupakan risiko yang dihadapi setiap prajurit TNI dalam mengemban tugas negara,” ujar Kadek.
Sebagai bentuk penghormatan tertinggi, TNI berencana memakamkan Kopda Satria secara militer di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dharmaloka, Kota Kupang.
Dijemput Ribuan Warga Kupang
Jenazah Kopda Satria tiba di Kupang menggunakan pesawat Lion Air sekitar pukul 23.45 WITA pada Jumat 9 Januari 2026.
Jenazah anggota TNI itu diberangkatkan dari Papua dan sempat transit di Makassar serta Surabaya sebelum tiba di Bandara El Tari Kupang.
Suasana haru menyelimuti Terminal Kargo Bandara El Tari Kupang saat penjemputan.
Ribuan warga memadati area Bandara untuk menyambut jenazah Praka Satria Taopan.
Setibanya di bandara, peti jenazah yang telah diselimuti bendera Merah Putih disambut dengan upacara penjemputan militer.
Sejumlah anggota TNI dengan langkah tegap memikul peti jenazah dari terminal kargo menuju mobil ambulans yang telah disiapkan untuk mengantar jenazah ke rumah duka.
Isak tangis keluarga dan pelayat pecah saat peti jenazah dibawa keluar dari area bandara. Tampak kepadatan massa terlihat di sepanjang ruas jalan menuju terminal.
Ratusan kendaraan roda dua dan roda empat ikut dalam pengantaran hingga menyebabkan arus lalu lintas tersendat.
Dari bandara, jenazah langsung diantar ke rumah duka dengan pengawalan ketat aparat TNI.
Jenazah tiba di rumah duka di Jalan Salak, Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, sekitar pukul 00.45 Wita.
Sejak Jumat sore, ratusan pelayat yang terdiri dari keluarga, kerabat, dan warga sekitar telah memadati lokasi untuk menanti kedatangan jenazah.
Suasana haru kembali menyelimuti rumah duka saat peti jenazah diturunkan dan dibawa masuk ke rumah duka oleh sejumlah anggota TNI.
Satria Taopan diketahui merupakan anggota Satgas Pamtas Mobile Yonif 100/Prajurit Setia Kodam I/Bukit Barisan (Yonif 100/PS Dam I/BB).
Ayah dan ibu almarhum histeris menyambut kepulangan putra mereka. Sambil memeluk erat peti jenazah yang berbalut bendera merah putih, keduanya terus memanggil nama sang anak dengan suara bergetar.
Diiringi isak tangis pilu keluarga yang turut menyelimuti suasana duka malam itu, ayah almarhum, Dominggus Taopan, mengenang Kopda Satria.
Menurutnya, Kopda Satria sebagai sosok yang ramah, murah senyum, dan mudah bergaul. Di mana pun berada, almarhum selalu memiliki banyak teman.
“Dia itu senyum terus. Duduk di mana saja pasti cepat akrab. Kalau cuti, teman-temannya datang dari mana-mana,” katanya.
Almarhum resmi menjadi prajurit TNI AD sejak 2018. Sebelum diterima, Praka Satria harus mengikuti seleksi TNI AD hingga 9 kali.
“Dia tidak pernah menyerah. Sembilan tes baru lulus,” ujar Dominggus dengan bangga.
Bahkan, saat pelantikan di Bali, almarhum secara khusus meminta kedua orang tuanya untuk hadir.
Kopda Satria yang juga pernah menjalani misi perdamaian PBB di Kongo selama satu tahun, telah berencana untuk menikah tahun 2026 ini.
Rencana pertemuan keluarga dengan orangtua calon istrinya bahkan sudah dibicarakan untuk pertengahan tahun.
“Kami sudah rencana ketemu keluarga calon di bulan Juni,” katanya. Selamat Jalan Kusuma Bangsa (Redaksi)










