ADVERTISEMENT
Jumat, Oktober 2, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Agama

Pesta Babi, Papua, dan Paradoks Pembangunan Modern

Pesta Babi mengingatkan bahwa krisis lingkungan bukan sekadar soal kampanye digital, melainkan tentang keberanian mempertanyakan model pembangunan itu sendiri.

10 Mei 2026
0
Pesta Babi, Papua, dan Paradoks Pembangunan Modern

Nonton bareng film Pesta Babi di Universitas Mataram (Unram), yang di-inisiasi sejumlah organisasi mahasiswa dibubarkan oleh pihak kampus pada 7 Mei 2026 (Foto: Ist/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

Oleh: dr. Tjatur Prijambodo,M.Kes

Mahasiswa Doktoral Pasca Sarjana Unair

ADVERTISEMENT

NONTON BARENG (NoBar) film Pesta Babi di Universitas Mataram (Unram), yang di-inisiasi sejumlah organisasi mahasiswa dibubarkan oleh pihak kampus pada 7 Mei 2026. Kenapa harus dibubarkan?

Advertisement. Scroll to continue reading.

Film dokumenter Pesta Babi menghadirkan satu pertanyaan yang menampar logika pembangunan modern: bagaimana mungkin negara berbicara tentang kesejahteraan sambil menghancurkan ruang hidup masyarakatnya sendiri?

Baca Juga

Tekan Kecelakaan, Dishub Bintuni Sasar Pelajar hingga Pengemudi Angkutan

DPR Ketok Palu, Suyudi Ario Seto Gantikan Listyo Sigit sebagai Kapolri

Film ini tidak hanya bercerita tentang Papua, tetapi juga tentang kontradiksi besar abad ke-21, ketika hutan ditebang atas nama kemajuan, sementara manusia perlahan kehilangan akar ekologis dan kemanusiaannya.

Papua, selama ini dikenal sebagai benteng terakhir hutan tropis Indonesia. Namun, data terbaru menunjukkan ancaman yang semakin serius.

Menurut Global Forest Watch, sejak 2001 hingga 2025 Papua telah kehilangan ratusan ribu hektare tutupan hutan, dan sekitar 92% kehilangan tersebut terjadi di hutan alam primer.

Bahkan laporan Status Deforestasi Indonesia 2025 menunjukkan Papua mengalami lonjakan deforestasi (hilangnya hutan secara permanen) paling drastis di Indonesia: dari sekitar 17 ribu hektare pada 2024 menjadi lebih dari 77 ribu hektare pada 2025.

Ironisnya, sebagian besar pengalih-fungsian hutan itu dilakukan demi proyek pangan, perkebunan, industri ekstraktif, dan pembangunan infrastruktur.

Negara menyebutnya ‘strategi ketahanan nasional’, tetapi masyarakat adat melihatnya sebagai penghilangan identitas.

Bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar aset ekonomi, melainkan ruang spiritual, sumber pangan, sekolah budaya, dan penghubung dengan leluhur.

Di sinilah paradoks Pesta Babi terasa sangat kuat. Modernitas datang membawa jalan raya, investasi, dan mesin industry.

Tetapi pada saat yang sama, menciptakan keterasingan ekologis. Hutan dipandang hanya sebagai angka produksi, bukan lagi sebagai organisme hidup.

Kritik semacam ini pernah disampaikan filsuf Jerman, Martin Heidegger.

Dimana Heidegger menyebut manusia modern terjebak dalam enframing, cara berpikir yang melihat alam hanya sebagai ‘cadangan sumber daya’ untuk dieksploitasi. Akibatnya, manusia kehilangan relasi sakral dengan alam.

Yang menarik, masyarakat adat Papua justru menawarkan konsep keberlanjutan yang lebih futuristik dibanding sistem industri modern.

Mereka hidup dengan prinsip keseimbangan: mengambil seperlunya dan menjaga keberlangsungan generasi berikutnya.

Di tengah krisis iklim global, pola hidup yang dahulu dianggap ‘terbelakang’, kini justru menjadi model ekologis yang relevan.

Generasi muda hari ini sering berbicara tentang green lifestyle, energi terbarukan, dan keberlanjutan di media sosial.

Namun Pesta Babi mengingatkan bahwa krisis lingkungan bukan sekadar soal kampanye digital, melainkan tentang keberanian mempertanyakan model pembangunan itu sendiri.

Sebab, percuma berbicara tentang ‘masa depan hijau’ jika hutan adat terus dikorbankan demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Pada akhirnya, Pesta Babi bukan hanya film documenter, tetapi menjadi alarm moral. Sebuah pengingat bahwa ketika manusia memutus hubungan dengan hutan, sesungguhnya ia sedang memutus hubungan dengan dirinya sendiri.

Bisakah Paradoks antara pembangunan dan eksploitasi hutan, dihentikan?

Bisakah pembungkaman ruang diskusi seperti dalam kasus pembubaran Nobar Film Pesta Babi diakhiri? Jawabnya, bisa. Dengan apa? Membangun model ‘pembangunan dialogis’.

Pembangunan tidak hanya berbasis investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melibatkan masyarakat adat, akademisi, aktivis lingkungan, dan warga lokal dalam proses pengambilan keputusan.

Kampus seharusnya menjadi ruang diskusi terbuka, bukan ruang yang alergi terhadap kritik. Film, diskusi, dan forum ilmiah justru dapat menjadi media literasi sosial yang sehat.

Filsuf Hans Jonas pernah mengingatkan melalui principle of responsibility bahwa kemajuan teknologi dan pembangunan harus disertai tanggung jawab moral terhadap generasi mendatang.

Dengan kata lain, pembangunan yang benar bukan hanya yang menghasilkan keuntungan hari ini, tetapi juga menjaga kehidupan esok hari. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Satgas Damai Cartenz Bagikan 500 Tas Sekolah kepada Siswa di Mimika

Satgas Damai Cartenz Bagikan 500 Tas Sekolah kepada Siswa di Mimika

2 Oktober 2026
Pemkab Mimika Gelontorkan Rp10,43 Miliar Bangun Sejumlah Fasilitas Kepolisian

Pemkab Mimika Gelontorkan Rp10,43 Miliar Bangun Sejumlah Fasilitas Kepolisian

2 Oktober 2026
Benyamin R. Magal Pimpin Caretaker KNPI Papua Tengah, Konsolidasi Pemuda Jadi Fokus

Benyamin R. Magal Pimpin Caretaker KNPI Papua Tengah, Konsolidasi Pemuda Jadi Fokus

2 Oktober 2026
YPMAK Kucurkan Rp1 Miliar, Bantu Pembangunan Kantor Klasis Angaiya

YPMAK Kucurkan Rp1 Miliar, Bantu Pembangunan Kantor Klasis Angaiya

2 Oktober 2026
Tekan Kecelakaan, Dishub Bintuni Sasar Pelajar hingga Pengemudi Angkutan

Tekan Kecelakaan, Dishub Bintuni Sasar Pelajar hingga Pengemudi Angkutan

1 Oktober 2026
DPR Ketok Palu, Suyudi Ario Seto Gantikan Listyo Sigit sebagai Kapolri

DPR Ketok Palu, Suyudi Ario Seto Gantikan Listyo Sigit sebagai Kapolri

1 Oktober 2026

POPULER

  • Massa KNPB Geruduk DPRK Mimika, Bawa Sejumlah Tuntutan

    Massa KNPB Geruduk DPRK Mimika, Bawa Sejumlah Tuntutan

    579 shares
    Bagikan 232 Tweet 145
  • Maikel Edwar Tewas, Irvan Patah Tangan dalam Kecelakaan di Jalan Budi Utomo Ujung Timika

    558 shares
    Bagikan 223 Tweet 140
  • Pria 25 Tahun Tewas dalam Dugaan Penganiayaan, Parang dan Anak Panah Diamankan Polisi

    558 shares
    Bagikan 223 Tweet 140
  • Dinkes Mimika Terbitkan Edaran Kabut Asap, Perkuat Kewaspadaan ISPA

    552 shares
    Bagikan 221 Tweet 138
  • KNPB Bawa Tuntutan Konflik Papua hingga Referendum ke DPRK Mimika, Begini Respons DPRK

    536 shares
    Bagikan 214 Tweet 134
  • Ketua OSIS SMPN 1 Mapurujaya Ajak Siswa Hidup Sehat lewat Edukasi PHBS Dinkes Mimika

    532 shares
    Bagikan 213 Tweet 133
  • Kapal LCT Cahaya Permata Hati Tenggelam di Puriri, 8 Orang Dicari Tim SAR

    529 shares
    Bagikan 212 Tweet 132
Next Post
Enam Gubernur dan 42 Bupati se-Papua Raya Kumpul di Timika, Ini yang Dibahas

Enam Gubernur dan 42 Bupati se-Papua Raya Kumpul di Timika, Ini yang Dibahas

Mahasiswa Dogiyai Turun ke Jalan, Desak Usut Tuntas Kasus Kekerasan Bersenjata di Tanah Papua

Mahasiswa Dogiyai Turun ke Jalan, Desak Usut Tuntas Kasus Kekerasan Bersenjata di Tanah Papua

Pengamanan Areal Freeport Berganti ke Yonif 133/Yudha Sakti

Pengamanan Areal Freeport Berganti ke Yonif 133/Yudha Sakti

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id