TIMIKA, Koranpapua.id– Kapolres Mimika, AKBP Billiyandha Hildario Budiman, menegaskan aksi pemalangan jalan oleh ratusan pendulang emas di Timika dipicu oleh ketidakpastian penjualan hasil dulang.
Kapolres berpendapat untuk mengatasi persoalan ini, perlu segera dicarikan solusi melalui dialog bersama pemerintah.
“Intinya mereka menanyakan kepastian, kapan toko atau pembeli emas ini bisa menerima hasil dulang mereka,” ujarnya menanggapi aksi pemalangan Jalan Ahmat Yani oleh ratusan pendulang, sejak Selasa 24 Maret hingga Rabu 25 Maret 2026.
Aksi pemalangan di Jalan Ahmad Yani, tepatnya mulai dari pertigaan Kantor Polisi Militer (POM) hingga tembusan Gorong-gorong, selain memblokade jalan, massa juga melakukan pembakaran ban sebagai bentuk protes.
Kapolres menjelaskan bahwa persoalan ini tidak hanya terjadi di Mimika, tetapi juga telah menjadi isu nasional.
Karena itu, pihak kepolisian mengambil langkah fasilitasi agar permasalahan dapat dibahas secara resmi bersama pemerintah daerah.
“Kami sudah menyarankan kepada koordinator aksi untuk menyurat kepada kami. Nanti akan kami fasilitasi ke pemerintah, dalam hal ini DPRK, agar dilakukan audiensi dan ditemukan solusi,” jelasnya.
Menurutnya, salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah menghadirkan wadah seperti koperasi agar hasil dulang masyarakat memiliki kepastian penyerapan.
Ia juga menekankan bahwa persoalan ini berkaitan langsung dengan kebutuhan hidup masyarakat, sehingga harus ditangani secara bijak.
Menanggapi aksi pemalangan yang kerap berulang dan mengganggu masyarakat umum, Kapolres mengimbau para pendulang agar tidak melakukan tindakan anarkis.
“Polisi bukan musuh, kami adalah mitra. Aspirasi bisa disampaikan tanpa harus anarkis, karena semua bisa didiskusikan untuk mencari solusi terbaik,” tegasnya.
Pihak kepolisian berharap dalam waktu dekat dapat memfasilitasi pertemuan antara perwakilan pendulang dan pemerintah daerah guna mendapatkan solusi yang adil dan berkelanjutan.
Untuk diketahui ratusan warga yang menggantungkan hidup dari aktivitas dulang tradisional itu memblokade Jalan Ahmad Yani, karena dipicu oleh kekecewaan terhadap satu toko emas yang belum juga membeli hasil dulangan mereka.
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru










