TIMIKA, Koranpapua.id – Mimika memiliki potensi ekonomi di luar sektor pertambangan yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Sejumlah komoditas pertanian, perkebunan, dan perikanan, mulai dari cabai, sagu, kopi robusta hingga udang dan kepiting bakau, dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan.
Potensi tersebut terungkap dalam kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Distrik Mimika Timur, Mimika Barat, dan Agimuga, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Hasil kajian itu dipaparkan dalam seminar akhir yang digelar Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Mimika di Kantor Bapenda, Kamis 15 Oktober 2026.
Anggota tim penyusun kajian BRIN, Solicha Vicky Budiawati, mengatakan penelitian selama tiga bulan itu dilakukan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan sekaligus memetakan peluang dan kendala pengembangannya.
Kajian tersebut mencakup lima subsektor, yakni hortikultura, tanaman pangan, perkebunan, perikanan tangkap, dan perikanan darat. Hasilnya diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan arah pengembangan komoditas lokal.
Dari hasil pemetaan, cabai berpotensi dikembangkan di ketiga distrik. Salak dan pisang juga memiliki peluang sebagai komoditas buah.
Sementara itu, sagu menjadi salah satu komoditas potensial di Mimika Timur, kelapa di Mimika Barat, dan kopi robusta di Agimuga. Ubi jalar dan singkong juga dinilai berpeluang dikembangkan sebagai sumber pangan sekaligus komoditas ekonomi masyarakat.
Di sektor perikanan, Mimika Timur memiliki potensi bawal hitam, udang, dan kepiting bakau.
Menurut Solicha, komoditas lokal tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh, termasuk menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, peningkatan produktivitas dan kualitas menjadi hal penting agar produk lokal mampu bersaing.
“Untuk saat ini, potensi ekspor terutama pada sektor perikanan. Namun, jika produktivitas dan standar mutunya ditingkatkan, komoditas lainnya juga berpeluang dikembangkan,” ujar Solicha.
Dorong Ekonomi Tak Bergantung pada Tambang
Pelaksana Tugas Kepala BRIDA Mimika, Darius Sabon, mengatakan pengembangan komoditas unggulan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar potensi yang telah dipetakan dapat ditindaklanjuti menjadi program nyata.
Menurut dia, pemerintah daerah perlu menyelaraskan program dengan PT Freeport Indonesia, Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), organisasi perangkat daerah (OPD), perguruan tinggi, pelaku usaha, serta pemangku adat.
Untuk memperkuat kerja sama tersebut, BRIDA mengusulkan pembentukan forum Mimika Agro Maritim Summit pada 2027.
Forum ini diharapkan menjadi wadah untuk mengevaluasi program yang telah berjalan, mengidentifikasi kendala, dan merumuskan langkah bersama dalam mengembangkan komoditas unggulan daerah.
“Tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus berkolaborasi,” kata Darius.
Ia menegaskan, pengembangan pertanian, perkebunan, dan perikanan menjadi salah satu upaya memperkuat diversifikasi ekonomi Mimika agar tidak terlalu bergantung pada sektor pertambangan.
Dengan mengembangkan potensi tersebut, Mimika diharapkan memiliki sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih beragam, sekaligus membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Darius mengatakan hasil kajian BRIN harus ditindaklanjuti oleh OPD teknis sesuai dengan kewenangannya, bukan sekadar menjadi dokumen rekomendasi.
“Jangan sampai hasil kajian ini hanya menjadi dokumen. Kami akan mengawal agar rekomendasinya dapat diimplementasikan oleh OPD teknis,” ujarnya. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru








