Oleh: Gabriel Zezo, Pemerhati Sosial
Tinggal di Timika, Kabupaten Mimika
SITUASI yang berkembang belakangan ini di Mimika menunjukkan bahwa dinamika birokrasi adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Aksi sejumlah ASN yang menyampaikan tuntutan terkait hak-hak mereka dalam proses rolling jabatan merupakan bagian dari ekspresi dalam sistem pemerintahan.
Namun demikian, dinamika tersebut hendaknya tidak berkembang menjadi ruang yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan yang justru dapat merusak tatanan kepemimpinan daerah.
Isu yang beredar mengenai adanya upaya menjatuhkan Sekretaris Daerah, bahkan dikaitkan dengan kabar keretakan antara Bupati dan Wakil Bupati, perlu disikapi dengan bijak dan tidak reaktif.
Dalam praktik pemerintahan, seringkali informasi yang beredar tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan, melainkan dibentuk oleh kepentingan tertentu.
Di sinilah pentingnya kejernihan berpikir dan kedewasaan dalam menyikapi setiap perkembangan.
Bupati Mimika, Johannes Rettob, tentu memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi berbagai dinamika politik dan birokrasi.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk memilah mana aspirasi yang tulus dan mana yang berpotensi menjadi provokasi.
Seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk mendengar, tetapi juga harus mampu menyaring setiap masukan dengan kebijaksanaan.
Keputusan untuk menempatkan Sekretaris Daerah dari anak negeri, khususnya dari tanah Komoro, adalah langkah yang patut diapresiasi.
Kebijakan tersebut bukan sekadar penempatan jabatan, melainkan simbol kepercayaan kepada masyarakat adat sebagai bagian penting dalam struktur pemerintahan.
Karena itu, hubungan yang harmonis antara Bupati dan Sekda harus dijaga sebagai fondasi stabilitas pemerintahan.
Upaya adu domba yang berpotensi memecah hubungan tersebut harus diwaspadai sejak dini.
Sejarah telah memberikan pelajaran bahwa konflik di tingkat elite akan berdampak langsung pada terhambatnya pembangunan dan pelayanan publik.
Masyarakat tidak menginginkan energi pemerintah habis pada persoalan internal, sementara kebutuhan dasar rakyat menuntut perhatian serius.
Kita semua tentu tidak melupakan fase-fase sulit yang pernah dihadapi, ketika tekanan dan isu yang beredar hampir menggoyahkan kepemimpinan.
Namun berkat keteguhan, doa, serta nilai-nilai yang hidup dari leluhur tanah Komoro, setiap ujian dapat dilewati.
Pengalaman itu semestinya menjadi pengingat bahwa persatuan adalah kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan pembangunan.
Saat ini, yang dibutuhkan oleh Mimika adalah kesejukan dalam berpikir dan ketenangan dalam bertindak.
ASN diharapkan tetap menyampaikan aspirasi secara bijak dan sesuai mekanisme.
Sementara para pemimpin diharapkan tetap solid dan tidak mudah terpengaruh oleh bisikan yang berpotensi memecah belah.
Mimika adalah rumah bersama. Menjaga harmoni di dalamnya bukan hanya tanggung jawab pemimpin, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan dan niat baik, setiap dinamika dapat diarahkan menjadi energi positif untuk membawa Mimika menuju masa depan yang lebih baik. (Redaksi)










