NABIRE, Koranpapua.id- Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diingatkan agar program pemenuhan gizi mencangkapu kelompok 3B yakni, ibu hamil (Bumil), ibu menyusui dan Balita.
Hal itu disampaikan Irjen Pol Jermias Rontini, Kapolda Papua Tengah saat melakukan kunjungan ke Dapur SPPG 003 Siriwini-Nabire, Senin 16 Maret 2026.
“SPPG itu tidak hanya menyasar siswa sekolah, tetapi juga kepada kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan Balita. Ini penting agar mereka juga merasakan dampak dari program ini,” ujar Jermias.
Dikatakan, saat ini SPPG masih melakukan proses pendataan terhadap calon penerima manfaat dari kelompok tersebut agar dapat dimasukkan dalam program pelayanan gizi
Mendukung itu, Polda Papua Tengah terus memberikan perhatian terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua Tengah, khususnya Kabupaten Nabire.
Kunjungan Kapolda Jermias tersebut juga untuk meninjau kondisi SPPG setelah adanya laporan dugaan keracunan makanan di Nabire.
Karenanya pada kesempatan itu, Kapolda Jermias sekaligus mengingatkan setiap pengelola SPPG untuk menjaga kebersihan dapur.
Termasuk memastikan mekanisme operasional berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Operasional dapur pelayanan gizi harus memberikan dampak maksimal bagi para penerima manfaat, sekaligus mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Kapolda Jermias juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap proses distribusi makanan dari dapur pelayanan gizi guna mengantisipasi kemungkinan terjadi permasalahan di kemudian hari.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Papua Tengah Marsel Asyerem mengatakan terdapat sejumlah laporan gejala, seperti diare, muntah, dan pusing dialami beberapa orang.
Gejala-gejala itu dirasakan setelah mereka mengonsumsi makanan dari program MBG yang berasal dari dapur SPPG Lani.
“Laporan sementara ada 23 orang yang mengalami gejala tersebut, namun sebagian besar yang mengalami gejala adalah orang yang mengonsumsi makanan basah MBG yang dibawa pulang,” jelasnya.
Menurutnya, seharusnya makanan basah dalam program MBG dikonsumsi langsung di sekolah dan dilarang dibawa pulang karena berpotensi mengalami penurunan kualitas atau basi.
Saat ini, mereka sedang mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan di Nabire. (Redaksi)










