DEIYAI, Koranpapua.id- Bandara Kapiraya di Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika, Papua Tengah menjadi satu dari 11 Bandara yang ditutup sementara oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
Penutupan Bandara Kapiraya sebagai imbas dari peristiwa penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menewaskan Pilot dan Co-Pilot Smart Air di Bandara Korowai Batu, Boven Digoel, Rabu 11 Februari 2026.
Terkait penutupan Bandara Kapiraya, Bupati Deiyai Melkianus Mote mengajukan surat permohonan kepada Menteri Perhubungan Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara untuk membuka kembali operasional bandara.
Menurutnya, pembukaan akses Bandara Kapiraya untuk mendukung proses penyelesaian konflik tapal batas wilayah antara Kabupaten Deiyai dan Kabupaten Mimika yang sempat memanas beberapa waktu terakhir.
Dalam surat Nomor 553/026/BUP/II/2026 tertanggal 18 Februari 2026, Bupati Deiyai menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten telah membentuk Tim Harmonisasi Penanganan Konflik Kapiraya.
Tim tersebut melibatkan unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, dan tokoh masyarakat. Tim ini yang nanti bekerja mempercepat penyelesaian konflik tapal batas wilayah di Kapiraya.
Termasuk dalam pengiriman bahan makanan, obat-obatan, serta mobilisasi tim yang telah dibentuk.
“Kami sudah membentuk Tim Harmonisasi untuk konflik di Kapiraya. Giliran kami mau kirim tim ke Kapiraya untuk membawa bahan makanan dan obat-obatan, akses udara dibatasi,” tegas Bupati Melkianus.
Kondisi geografis Distrik Kapiraya yang sulit dijangkau melalui jalur darat menjadi pertimbangan utama pemerintah daerah untuk meminta pembukaan kembali akses udara.
Pemkab Deiyai berharap permohonan tersebut mendapat perhatian khusus guna mempercepat pemulihan keamanan, pelayanan publik, serta distribusi bantuan kemanusiaan.
Melalui surat yang ditembuskan kepada Menteri Dalam Negeri, Gubernur Provinsi Papua Tengah, dan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Papua Tengah. (Redaksi)









