ADVERTISEMENT
Senin, Februari 16, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Budaya

Dari Luka ke Karya: Mama Paskalina Menenun Harapan Lewat Sanggar Janda Papurara

8 November 2025
0
Dari Luka ke Karya: Mama Paskalina Menenun Harapan Lewat Sanggar Janda Papurara

Mama Paskalina Utappo pendiri Sanggar Janda Papurara. (foto:Hayun Nuhuyanan/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

Karya tangan Mama Paskalina kini tidak hanya dikenal di Mimika. Anyamannya telah menembus pasar hingga Tembagapura dan bahkan ke Amerika Serikat.

TIMIKA, Koranpapua.id- Seni merupakan cerminan jiwa manusia dan sering kali menjadi sumber inspirasi yang tak terbatas.

Melalui kisah-kisah tentang seni yang pernah dilalui seseorang, kita dapat memahami lebih dalam tentang proses kreatif, perjuangan dan keindahan yang dihasilkan seorang seniman.

ADVERTISEMENT

Berikut kisah inspiratif yang dilakoni mama Paskalina Utappo, perempuan tangguh asal Suku Kamoro yang kini berdiri tegak di tengah karyanya sendiri.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Dulu, Mama Paskalina Utappo hanya bisa menatap dari jauh setiap kali sanggar budaya menolak keinginannya untuk bergabung.

Baca Juga

Tiga Pemain PFA Ikuti Elite Camp di Austria, Tony Wenas: Freeport Dukung Penuh Talenta Muda Sepak Bola Papua

Imbas Penembakan Pilot Smart Air, Satgas Korpasgat Pegang Kendali Operasional Bandara Korowai Batu

Kini mama Paskalina boleh sedikit mengangkat kepalanya. Ia berhasil memimpin Sanggar Janda Papurara, yang didirikan sendiri tahun 2023.

Wadah ini sebagai simbol keberanian, kemandirian, dan cinta terhadap budaya leluhurnya.

Nama Papurara dalam bahasa Kamoro berarti “terombang-ambing tanpa kepastian.” Kata itu menggambarkan perasaan terdalam Paskalina setelah berkali-kali mengalami penolakan.

Tapi dari ketidakpastian itu, lahir kekuatan baru – kekuatan seorang perempuan yang menolak menyerah.

“Sudah banyak kali saya mau gabung sanggar lain, tapi tidak diterima. Akhirnya saya bilang ke anak, sudah, kita bikin sendiri saja,” kisah Mama Paskalina sambil tersenyum mengenang awal mula perjuangannya.

Dengan tekad dan dukungan dua anaknya, Mama Paskalina mulai menenun asa dari helai demi helai daun pandan yang dikeringkan di bawah matahari.

Awalnya, hasil anyamannya hanya dititipkan di toko kecil. Tak disangka, karya tangannya laku keras, bahkan ada yang dibeli dengan harga hingga Rp1 juta.

Dari sana, langkahnya kian mantap. Ia resmi membentuk sanggar sendiri, mulai mengajak perempuan lain bergabung.

Saat ini sudah ada 18 anggota aktif bersama dirinya memproduksi beragam kerajinan khas Kamoro.

“Saya senang, sekarang sudah punya sanggar sendiri. Kita kerja sama-sama seperti keluarga, saling bantu,” tuturnya.

Karya tangan Mama Paskalina kini tidak hanya dikenal di Mimika. Anyamannya telah menembus pasar hingga Tembagapura dan bahkan ke Amerika Serikat.

Setiap bulan, sanggar ini mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp5 juta, cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anak.

Produk yang dihasilkan pun beragam, mulai dari anyaman kecil seharga Rp100 ribu, hingga karya besar bernilai Rp300 ribu.

Semua dibuat dengan proses tradisional — direbus, dikeringkan, dan dirangkai dengan sabar.

Namun bagi Mama Paskalina, nilai sejati dari sanggarnya bukan sekadar uang.

Ia ingin menjadikan Sanggar Janda Papurara sebagai ruang aman bagi perempuan Kamoro untuk berkarya dan mempertahankan budaya mereka.

“Saya mau pemerintah bantu kami supaya budaya ini tidak hilang. Kami mau anak-anak muda juga ikut belajar,” pintanya.

Pelestarian Budaya yang Terancam Punah

Antonius Mumu Kare, pengrajin senion Kamoro.

Kegigihan Mama Paskalina sejalan dengan suara pengrajin senior Kamoro, Antonius Mumu Kare, yang telah menekuni seni ukir kayu sejak usia delapan tahun – selama 34 tahun.

Ia khawatir generasi muda kini semakin jauh dari akar budaya.

“Ini budaya dari moyang. Bapak mati, tinggalkan ke anak. Tapi sekarang yang kerja tinggal orang-orang tua. Anak-anak muda jarang sekali,” kata Antonius dengan nada prihatin.

Menurutnya, seni ukir kayu dan kerajinan Kamoro adalah identitas yang tak boleh pudar. Ia berharap anak-anak muda mulai terlibat, agar warisan leluhur tidak hilang ditelan zaman.

“Anak muda harus bangkit. Sudah banyak yang sebenarnya bisa, tapi perlu dorongan,” ujarnya tegas.

Baik Paskalina maupun Antonius sama-sama menjadi wajah perjuangan budaya Kamoro di tengah arus modernisasi.

Keduanya membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga tentang melawan rasa putus asa dan berdiri di atas kaki sendiri.

Karena bagi Paskalina dan Antonius, karya seni yang  dilakoni adalah merupakan salah satu cara untuk mengekperasikan perasaan mereka dan terhubung dengan leluhur. (*)

Penulis: Hayun Nuhuyanan

Editor: Marthen LL Moru

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Tiga Pemain PFA Ikuti Elite Camp di Austria, Tony Wenas: Freeport Dukung Penuh Talenta Muda Sepak Bola Papua

Tiga Pemain PFA Ikuti Elite Camp di Austria, Tony Wenas: Freeport Dukung Penuh Talenta Muda Sepak Bola Papua

16 Februari 2026
Imbas Penembakan Pilot Smart Air, Satgas Korpasgat Pegang Kendali Operasional Bandara Korowai Batu

Imbas Penembakan Pilot Smart Air, Satgas Korpasgat Pegang Kendali Operasional Bandara Korowai Batu

16 Februari 2026
Konflik Kwamki Narama, Korban Berjatuhan, APH Diminta Tegas Lakukan Penindakan Hukum

FKDM Mimika Optimis Pemkab Tiga Kabupaten Mampu Tangani Konflik Kapiraya, TNI-Polri Diharapkan Berikan Dukungan Penuh

16 Februari 2026
Raja Charisson Sinurat, Pelajar Papua Barat Daya Sabet Juara Dunia Matematika Tahun 2026

Raja Charisson Sinurat, Pelajar Papua Barat Daya Sabet Juara Dunia Matematika Tahun 2026

16 Februari 2026
Benahi RSMM, YPMAK Gandeng PT Ligar Mandiri Susun Blueprint Pengembangan

Benahi RSMM, YPMAK Gandeng PT Ligar Mandiri Susun Blueprint Pengembangan

16 Februari 2026
Pria Paruh Baya Ditemukan Meninggal Gantung Diri di Rumahnya di SP 1 Timika

Pria Paruh Baya Ditemukan Meninggal Gantung Diri di Rumahnya di SP 1 Timika

16 Februari 2026

POPULER

  • Pemprov Papua Tata Ulang SDM Pendidik, Guru yang Bekerja di Kantor Pemerintahan Dikembalikan ke Sekolah

    Pemprov Papua Tata Ulang SDM Pendidik, Guru yang Bekerja di Kantor Pemerintahan Dikembalikan ke Sekolah

    820 shares
    Bagikan 328 Tweet 205
  • Satgas ODC Pastikan Pilot dan Co Pilot Smart Air Tewas Ditembak Usai Mendarat di Korowai

    612 shares
    Bagikan 245 Tweet 153
  • Aksi Cepat Tim Babat: Lima Pelaku Begal di Timika Diringkus, Semua Berstatus Pelajar

    604 shares
    Bagikan 242 Tweet 151
  • Dari Rp14 Ribu ke Pj Sekda Mimika: Perjalanan Inspiratif Putra Kamoro Abraham Keteyau

    590 shares
    Bagikan 236 Tweet 148
  • Konflik Kapiraya Memanas, Kantor Distrik dan 18 Rumah Warga Terbakar

    559 shares
    Bagikan 224 Tweet 140
  • Sosok Elkius Kobak, Pimpinan KKB yang Diduga Dalangi Penembakan Pesawat Smart Air

    549 shares
    Bagikan 220 Tweet 137
  • Gubernur Meki Nawipa Instruksikan Tiga Bupati Bentuk Tim Tangani Konflik Kapiraya

    548 shares
    Bagikan 219 Tweet 137
Next Post
HUT ke-74, IBI Mimika Tegaskan Komitmen Majukan Kesehatan Ibu dan Anak Menuju Indonesia Emas 2045

HUT ke-74, IBI Mimika Tegaskan Komitmen Majukan Kesehatan Ibu dan Anak Menuju Indonesia Emas 2045

Realisasi APBD Mimika 2025 Baru 51 Persen, Bupati Akui Banyak Pekerjaan Masih Berjalan

Pemkab Mimika Percepat Peresmian Fasilitas Dasar di Wilayah Pedalaman, Berikut Pernyataan Bupati Johannes Rettob

Cegah Stunting : Fondasi Masa Depan Anak Indonesia

Cegah Stunting : Fondasi Masa Depan Anak Indonesia

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id