Oleh: Jessica Elisabeth Putri Djoudi Moru
Mahasiswa S1 Psikologi, Universitas Negeri Surabaya
PERNAHKAH kamu merasa tertinggal ketika melihat teman sebaya mulai meraih sesuatu dalam hidupnya? Ada yang berhasil menggapai impian, ada yang aktif mengikuti berbagai kegiatan, dan ada pula yang terlihat sudah memiliki gambaran tentang masa depannya. Sementara itu, kamu masih berusaha memahami apa yang sebenarnya kamu inginkan.
Semakin bertambah usia, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul. Apakah pilihan yang diambil sudah tepat? Apakah kita berada di jalan yang benar? Atau justru sedang membuang waktu ketika orang lain sudah melangkah lebih jauh?
Perasaan seperti ini bisa muncul ketika kita mulai membandingkan perjalanan hidup sendiri dengan pencapaian orang lain. Terlebih ketika media sosial membuat kita mudah melihat berbagai keberhasilan teman sebaya. Tanpa sadar, kita mulai mengukur perkembangan diri berdasarkan sesuatu yang sebenarnya tidak selalu menggambarkan keseluruhan kehidupan orang lain.
Namun, apakah belum mengetahui arah hidup berarti kita gagal menjadi dewasa?
Ketika Bertumbuh Terasa Seperti Perlombaan
Sejak kecil, kita terbiasa mengenal berbagai target dalam kehidupan. Ada usia untuk masuk sekolah, lulus, melanjutkan pendidikan, dan mulai membangun karier. Meskipun tidak semua orang mengikuti urutan yang sama, lingkungan terkadang membuat kita merasa harus mencapai sesuatu pada waktu tertentu.
Akibatnya, ketika belum memiliki rencana yang jelas, kita bisa merasa tertinggal. Ketika pilihan yang diambil berbeda dari teman sebaya, kita mulai meragukan diri sendiri. Bahkan, tidak jarang kita memilih sesuatu bukan karena benar-benar menginginkannya, melainkan karena takut dianggap tidak memiliki masa depan.
Padahal, perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai urutan yang kita bayangkan. Ada orang yang menemukan minatnya sejak dini, tetapi ada pula yang baru memahaminya setelah mencoba berbagai pengalaman. Sebagian orang merasa yakin dengan pilihan kariernya, sementara yang lain masih mempertimbangkan beberapa kemungkinan.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa proses mengenali diri sendiri tidak selalu berlangsung dengan cara yang sama. Menentukan arah hidup bukan hanya tentang memilih pekerjaan atau mencapai target tertentu, tetapi juga memahami nilai-nilai yang kita anggap penting, hal-hal yang diminati, dan kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani.
Erik Erikson dan Proses Menemukan Identitas
Dalam psikologi perkembangan, persoalan tersebut dapat dipahami melalui teori perkembangan psikososial Erik Erikson. Ia menjelaskan delapan tahap perkembangan psikososial sepanjang kehidupan manusia. Setiap tahap memiliki tantangan yang berkaitan dengan perkembangan diri dan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya.
Salah satu tahap yang terkenal adalah identity versus role confusion, atau identitas versus kebingungan peran. Tahap ini terutama berkaitan dengan masa remaja, ketika seseorang mulai mempertanyakan siapa dirinya, apa yang diyakininya, serta peran apa yang ingin dijalani dalam kehidupan.
Pertanyaan seperti “Apa yang sebenarnya aku inginkan?”, “Apa yang penting bagiku?”, dan “Aku ingin menjadi orang seperti apa?” merupakan bagian dari proses pencarian identitas.
Proses ini tidak selalu berhenti ketika seseorang melewati masa remaja. Memasuki perguruan tinggi, menghadapi lingkungan baru, dan mulai mempertimbangkan karier dapat membuat seseorang kembali mengevaluasi pilihan serta pemahamannya tentang diri sendiri.
Misalnya, seorang mahasiswa yang sejak sekolah bercita-cita menekuni bidang tertentu mungkin mulai mempertanyakan pilihannya setelah menjalani perkuliahan. Ia kemudian menemukan minat baru atau menyadari bahwa hal yang dahulu dianggap penting ternyata tidak lagi sesuai dengan dirinya.
Perubahan tersebut tidak otomatis berarti ia gagal mengenali diri sendiri. Pengalaman baru justru dapat menjadi kesempatan untuk mengeksplorasi pilihan dan membangun pemahaman yang lebih matang mengenai identitasnya.
Media Sosial dan Kebiasaan Membandingkan Diri
Proses pencarian identitas juga berlangsung di tengah lingkungan sosial yang terus berubah. Salah satu hal yang dapat memengaruhinya adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, termasuk melalui media sosial.
Penelitian Noon dan rekan-rekannya (2021) yang melibatkan remaja dan dewasa awal di Rumania dan Serbia mengkaji hubungan perbandingan sosial di Instagram dengan proses perkembangan identitas. Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan tersebut berbeda menurut usia dan proses identitas yang diteliti. Perbandingan sosial dapat mendorong seseorang untuk lebih memikirkan dirinya sendiri dan mengeksplorasi identitas, tetapi pengaruhnya tidak selalu sama bagi setiap individu.
Temuan ini memberikan sudut pandang yang menarik. Melihat pencapaian orang lain tidak selalu berdampak buruk. Kita bisa memperoleh inspirasi, mengenali minat baru, atau menemukan tujuan yang sebelumnya tidak terpikirkan. Namun, perbandingan juga dapat membuat kita mempertanyakan pilihan sendiri apabila pencapaian orang lain dijadikan ukuran mutlak keberhasilan.
Masalahnya bukan karena orang lain terlihat lebih maju, melainkan ketika kita mulai menganggap bahwa perjalanan mereka merupakan standar yang wajib kita ikuti.
Padahal, unggahan di media sosial hanya memperlihatkan sebagian dari kehidupan seseorang. Kita mungkin melihat keberhasilannya tanpa mengetahui proses, keraguan, atau kesulitan yang menyertainya. Karena itu, membandingkan keseluruhan perjalanan diri sendiri dengan potongan kehidupan orang lain dapat menghasilkan penilaian yang tidak seimbang.
Belum Menemukan Jawaban Bukan Berarti Gagal
Menurut Erik Erikson, perkembangan manusia berlangsung melalui delapan tahap psikososial, yang masing-masing memiliki tantangan dalam membentuk diri dan menghadapi kehidupan.
Salah satunya adalah identity vs. role confusion, yaitu tahap ketika seseorang berusaha menemukan jati diri dan menentukan arah hidupnya. Namun, proses mengenal diri tidak selalu selesai pada satu tahap atau berjalan sesuai harapan.
Merasa bingung tentang masa depan bukan berarti kita gagal berkembang. Kita masih bisa mencoba hal baru, mengevaluasi pilihan, dan belajar dari pengalaman untuk memahami apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri.
Pada akhirnya, kita tidak harus memiliki semua jawaban sekarang. Setiap orang memiliki perjalanan dan waktu yang berbeda untuk menemukan arah hidupnya.
Sebab, bertumbuh bukan tentang siapa yang paling cepat menemukan tujuan, melainkan tentang bagaimana kita terus belajar memahami diri sendiri dan menentukan kehidupan yang ingin kita jalani. (Redaksi)








