TIMIKA, Koranpapua.id – Konflik antarwarga Kampung Fanamo dan Kampung Omawita, Distrik Mimika Timur Jauh, Kabupaten Mimika, membuat pelayanan pendidikan dan kesehatan di kedua kampung tersebut terganggu.
Para guru dan tenaga kesehatan (nakes) untuk sementara dievakuasi ke Timika demi menghindari dampak lanjutan konflik. Mereka akan kembali ke kampung setelah situasi dinyatakan aman.
Kapolsek Mimika Timur Iptu Alex Soumilena mengatakan, guru dan nakes telah meninggalkan Fanamo dan Omawita sejak beberapa hari terakhir.
“Petugas nakes dan guru-guru sudah naik ke Timika. Mereka menunggu urusan selesai dan kedua kepala kampung menjamin kepada mereka bahwa mereka aman,” kata Alex saat dikonfirmasi, Rabu 7 Oktober 2026.
Evakuasi tersebut berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Sejumlah sekolah, mulai dari tingkat TK, SD hingga SMP di kedua kampung, sementara tidak menjalankan aktivitas seperti biasa karena para guru meninggalkan lokasi.
“Di Kampung Fanamo dan Omawita semua,” ujar Alex.
Gangguan serupa terjadi pada pelayanan kesehatan. Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Marselino Mameyau membenarkan seluruh tenaga kesehatan di wilayah tersebut telah ditarik sementara ke Timika.
Marselino mengatakan, pihaknya masih memastikan jumlah nakes yang dievakuasi melalui Kepala Puskesmas. Dengan seluruh tenaga kesehatan ditarik, pelayanan kesehatan di lokasi untuk sementara tidak berjalan.
“Ya jelas, kosong karena tenaga kesehatan ditarik semua,” katanya.
Menurut Marselino, Dinas Kesehatan masih menunggu kepastian keamanan sebelum mengembalikan nakes ke Fanamo dan Omawita. Kepala Puskesmas diminta mengecek kondisi lapangan dan berkoordinasi dengan Polsek Mimika Timur.
“Kalau sudah aman berarti bisa turun tenaga kesehatan. Tapi kita harus pastikan dengan Polsek Mimika Timur,” ujarnya.
Di sisi lain, polisi masih menangani konflik yang terjadi antara warga kedua kampung. Sebanyak delapan orang telah diamankan untuk dimintai keterangan. Polisi juga mendalami dugaan provokasi serta sejumlah barang bukti yang ditemukan dalam kejadian tersebut.
Alex menjelaskan, persoalan awalnya berkaitan dengan ketegangan antarpelajar mengenai keberadaan SMP Negeri Omauga di wilayah Kampung Omawita.
Muncul anggapan sekolah tersebut merupakan milik salah satu kampung, meski siswa yang bersekolah berasal dari kedua kampung. Persoalan kemudian berkembang dari saling ejek antarpelajar hingga melibatkan orang tua dan warga.
Polisi berupaya mempertemukan kedua kepala kampung untuk mencari penyelesaian. Pertemuan yang semula dijadwalkan Rabu ditunda karena Kepala Sekolah SMP Negeri Omauga berhalangan hadir.
“Besok baru kami bertemu,” kata Alex.
Polisi berharap persoalan tersebut segera diselesaikan agar situasi kembali aman. Dengan demikian, guru dan tenaga kesehatan dapat kembali ke Fanamo dan Omawita untuk melanjutkan pelayanan pendidikan dan kesehatan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika Antonius Welerubun belum memberikan keterangan terkait kondisi kegiatan belajar mengajar di kedua kampung tersebut. (*)
Penulis: Hayun Nuhuyanan
Editor: Marthen LL Moru









