TIMIKA, Koranpapua.id- Peningkatan cuaca ekstrem di sejumlah daerah secara signifikan akhir-akhir ini perlu menjadi perhatian Pemerintah Daerah (Pemda) di seluruh Indonesia.
Pemda perlu melakukan koordinasi dengan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Koordinasi ini bertujuan agar tidak menimbulkan bencana lebih jauh. Pemda juga dapat memperkuat dan mempersiapkan mitigasi terkait perubahan iklim tersebut.
Permintaan koordinasi ini disampaikan Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti melalui siaran pers yang diterima Redaksi Koranpapua.id, Selasa 7 Mei 2024.
“Saya mendorong agar segera dilakukan mitigasi kebencanaan dan langkah mitigasi lainnya untuk mencegah terjadinya bencana yang bisa saja memakan korban jiwa,” kata LaNyalla.
LaNyalla menyampaikan hal tersebut usai menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) 2024 yang diadakan oleh Kementerian PPN/Bappenas, di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Senin 6 Mei 2024.
Bentuk bencana dari peningkatan suhu, menurut LaNyalla adalah kekeringan dan hujan ekstrem. Hal itulah yang harus diantisipasi secara cepat supaya tidak meluas.
“Pemerintah daerah sebaiknya intens berkomunikasi dengan BRIN dan BMKG yang memang lembaga ahli di bidang teknologi dan cuaca,” tandasnya.
Dengan demikian Pemda dan masyarakat mempunyai kesiapsiagaan dan kesadaran akan perkembangan cuaca terbaru. “Dari situlah kita semua memiliki pemahaman akan dampak terburuk,” pesannya.
LaNyalla menyampaikan perlunya informasi prakiraan cuaca menjadi kebutuhan informasi sehari-hari. Sebab selama ini masyarakat masih mengesampingkannya.
“Sejauh ini memang masyarakat belum begitu peduli dengan informasi terkait cuaca. Makanya pemerintah juga perlu menyosialisasikan pentingnya informasi prakiraan cuaca,” sarannya.
Kemudian membekali masyarakat dengan kemampuan respons dan kemampuan untuk mengatasinya jika ada warning.
Seperti diketahui BRIN menemukan adanya peningkatan signifikan cuaca ekstrem di Indonesia. Hal itu berdasarkan kajian perubahan iklim (2021-2050) khusus wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI) menggunakan teknik dynamic downscaling resolusi tinggi.
BRIN mencatat, sejak September hingga saat ini, kenaikan suhu per bulan rata-rata mencapai 1,5 derajat celcius. (Redaksi)










