ADVERTISEMENT
Selasa, Oktober 20, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Cuaca

Bahaya Kabut Asap: Anak dan Lansia Perlu Perlindungan Ekstra

Partikel halus dalam asap dapat mengganggu paru-paru dan jantung. Kenali kelompok rentan, pahami angka kualitas udara, dan lakukan langkah perlindungan sejak dini.

20 Oktober 2026
0
Bahaya Kabut Asap: Anak dan Lansia Perlu Perlindungan Ekstra

Ilustrasi keluarga mendampingi anak dan lansia dengan pelindung pernapasan di tengah kabut asap. Kelompok rentan membutuhkan perhatian ekstra saat kualitas udara memburuk. (foto :Ilustrasi AI/koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

Tim Promosi Kesehatan

TIMIKA, Koranpapua.id – Kabut asap tidak hanya mengaburkan pandangan. Partikel kecil yang ikut masuk saat kita bernapas dapat mengganggu kesehatan, bahkan ketika mata tidak melihat debu di udara.

Bahaya kabut asap perlu mendapat perhatian lebih pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru dan jantung. Mereka membutuhkan perlindungan tambahan ketika kualitas udara memburuk.

Bagi keluarga, langkah awal perlindungan dimulai dengan mengenali risiko. Jangan menunggu anggota keluarga mengalami sesak sebelum mengurangi paparan asap.

Baca Juga

Mimika Susun RAD TBC 2026–2030, Perkuat Deteksi Dini

FKDM Mimika Salurkan 2.000 Masker untuk Lindungi Wartawan dan Pelajar dari Polusi Udara

Mengapa Anak dan Lansia Lebih Rentan?

Anak-anak masih menjalani proses pertumbuhan, termasuk perkembangan paru-paru. Karena itu, orang tua perlu membatasi paparan asap dan memperhatikan perubahan kondisi pernapasan mereka.

Anak yang memiliki asma membutuhkan perhatian khusus. Asap dapat memperburuk keluhan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Utamakan tempat dengan udara lebih bersih daripada mengandalkan masker semata.

Sementara itu, lansia dan penderita penyakit kronis dapat menghadapi risiko yang lebih besar akibat polusi partikel. Pada orang dengan penyakit jantung, peningkatan paparan PM2.5 dapat memicu gangguan kardiovaskular.

Keluarga perlu memastikan penderita penyakit kronis memiliki obat rutin dan mengikuti rencana pengobatan dari tenaga kesehatan. Jika keluhan memburuk, segera cari pertolongan.

Mengenal PM10, PM2.5, dan PM1

Particulate matter atau PM merupakan campuran partikel padat dan tetesan cairan kecil yang melayang di udara. Sumbernya beragam, mulai dari debu jalan, aktivitas konstruksi, emisi kendaraan, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Angka setelah huruf PM menunjukkan batas ukuran partikelnya. Satu mikrometer setara dengan sepersejuta meter.

Jenis partikelUkuranHal yang perlu dipahami
PM10Diameter hingga 10 mikrometerDapat masuk ke sistem pernapasan. Kelompok ini juga mencakup partikel yang lebih kecil.
PM2.5Diameter hingga 2,5 mikrometerDapat mencapai bagian dalam paru-paru dan berdampak pada kesehatan paru serta jantung.
PM1Diameter hingga 1 mikrometerMerupakan bagian dari kelompok PM2.5, bukan kelompok yang sepenuhnya terpisah.

PM10 tidak selalu berhenti di hidung atau tenggorokan. Partikel berukuran kecil dapat masuk lebih jauh ke paru-paru. Besarnya risiko juga bergantung pada konsentrasi, lama paparan, komposisi partikel, dan kondisi kesehatan seseorang.

Kenali Keluhan, Jangan Tunggu Sesak Berat

Paparan asap dapat menyebabkan mata perih, tenggorokan terasa tidak nyaman, batuk, mengi, dan kesulitan bernapas. Pada penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asap dapat memperberat gejala.

Keluhan tersebut perlu perhatian, tetapi batuk setelah menghirup asap tidak otomatis berarti seseorang mengalami infeksi. Tenaga kesehatan perlu menilai penyebabnya berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan.

Segera cari pertolongan medis apabila seseorang mengalami sesak berat atau nyeri dada. Orang tua juga perlu segera membawa anak untuk mendapat pemeriksaan jika anak kesulitan bernapas atau tampak sangat lemah.

Pahami ISPU agar Tidak Salah Membaca Angka

Informasi kualitas udara membantu keluarga menentukan kegiatan harian. Di Indonesia, masyarakat dapat menggunakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebagai acuan.

Peraturan Menteri LHK Nomor 14 Tahun 2020 mengatur ISPU. Lima kategorinya meliputi baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, dan berbahaya.

Nilai ISPUKategoriWarna
1–50BaikHijau
51–100SedangBiru
101–200Tidak sehatKuning
201–300Sangat tidak sehatMerah
Di atas 300BerbahayaHitam

Nilai ISPU berbeda dengan konsentrasi PM2.5.

Konsentrasi menunjukkan jumlah partikel dalam udara dengan satuan mikrogram per meter kubik atau µg/m³. Sementara itu, ISPU merupakan hasil konversi konsentrasi pencemar menjadi nilai indeks.

Tabel konversi yang menyertai materi ini menggunakan konsentrasi rata-rata 24 jam. Karena itu, jangan langsung menyamakan angka PM2.5 sesaat dengan angka ISPU. Perhatikan satuan, waktu pengukuran, dan lokasi stasiun sebelum menarik kesimpulan tentang kondisi udara.

Lima Langkah Mengurangi Bahaya Kabut Asap

1. Batasi kegiatan di luar ruangan

Kurangi perjalanan yang tidak mendesak dan tunda olahraga luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Beri perhatian khusus pada aktivitas anak, lansia, dan anggota keluarga dengan penyakit kronis.

2. Jaga udara di dalam rumah

Tutup pintu dan jendela ketika asap dari luar masuk. Jika tersedia, gunakan penyaring udara yang sesuai dengan ukuran ruangan. Hindari merokok, membakar dupa, atau aktivitas lain yang menambah polusi di dalam rumah.

Tetap perhatikan suhu ruangan. Jika rumah menjadi terlalu panas atau asap terus masuk, cari tempat yang lebih sejuk dengan udara lebih bersih.

3. Pilih pelindung pernapasan yang tepat

Jika harus keluar, gunakan respirator seperti N95 yang menutup hidung dan mulut secara rapat. Celah di sekitar wajah dapat mengurangi perlindungannya.

Masker kain dan masker medis tidak memberikan perlindungan setara terhadap partikel halus asap. Respirator juga tidak menyaring seluruh gas berbahaya sehingga pengguna tetap perlu membatasi paparan.

Untuk anak, jangan menganggap respirator dewasa pasti cocok. Ukuran dan kerapatan sangat menentukan efektivitasnya. Jangan memasangkan masker pada anak di bawah usia dua tahun, utamakan lingkungan dengan udara lebih bersih.

4. Siapkan obat rutin dan rencana pertolongan

Penderita asma, PPOK, dan penyakit kronis lainnya perlu mengikuti petunjuk tenaga kesehatan. Pastikan obat tersedia dan anggota keluarga mengetahui langkah yang harus mereka lakukan ketika gejala memburuk.

5. Pantau kualitas udara dan kondisi keluarga

Periksa informasi dari stasiun pemantauan terdekat melalui kanal resmi. Sesuaikan kegiatan dengan kondisi udara, lalu perhatikan apakah anggota keluarga mulai batuk, mengi, atau mengalami gangguan pernapasan.

Udara yang tampak lebih jernih belum tentu bebas dari partikel halus. Kebiasaan memantau kualitas udara dan mengurangi paparan membantu keluarga mengambil tindakan sebelum keluhan menjadi berat.

 

Sumber :

  • Sumber 1: Artikel Resmi Kementerian Kesehatan
    Setiaji, B. (2026, September 6). Karhutla di Indonesia: Saat asap datang, kita siap. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/karhutla-di-indonesia-saat-asap-datang-kita-siap/
  • Sumber 2: Publikasi Kualitas Udara BMKG Bariri
    Administrator. (2026, Februari 6). Particulate matter. Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). https://gaw-bariri.bmkg.go.id/publikasi/gawsarium/410-particulate-matter
  • Sumber 3: Peraturan Menteri (Regulasi Hukum)
    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. (2020). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2020 tentang Indeks Standar Pencemar Udara.
  • Sumber 4: Informasi/Publikasi Umum BMKG
    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (n.d.). Informasi dan publikasi kualitas udara.

 

Penulis : Tim Promosi Kesehatan Kabupaten Mimika

Editor : Marthen L L Moru

 

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

Anggota DPR Papua Tengah Nancy Raweyai: Pendidikan Kunci Perubahan di Mimika

Anggota DPR Papua Tengah Nancy Raweyai: Pendidikan Kunci Perubahan di Mimika

20 Oktober 2026
Bahaya Kabut Asap: Anak dan Lansia Perlu Perlindungan Ekstra

Bahaya Kabut Asap: Anak dan Lansia Perlu Perlindungan Ekstra

20 Oktober 2026
Satgas Pasgat Gagalkan Pengiriman 36 Botol Miras Ilegal ke Oksibil

Satgas Pasgat Gagalkan Pengiriman 36 Botol Miras Ilegal ke Oksibil

20 Oktober 2026
Pemkab Mimika Dorong Perencanaan Kampung Berbasis Kebutuhan Warga

Pemkab Mimika Dorong Perencanaan Kampung Berbasis Kebutuhan Warga

20 Oktober 2026
DPMK Mimika Dorong 133 Kampung Susun Program Prioritas 2027

DPMK Mimika Dorong 133 Kampung Susun Program Prioritas 2027

20 Oktober 2026
Mimika Susun RAD TBC 2026–2030, Perkuat Deteksi Dini

Bapenda Mimika Siapkan Ranperbup, Lindungi Hak Wajib Pajak

20 Oktober 2026

POPULER

  • Pastor Ditemukan Tak Sadarkan Diri di Dasar Kolam Renang Kuala Kencana, Nyawanya Tak Tertolong

    Pastor Ditemukan Tak Sadarkan Diri di Dasar Kolam Renang Kuala Kencana, Nyawanya Tak Tertolong

    645 shares
    Bagikan 258 Tweet 161
  • Gaji ASN Lewat Kopdes, BPKAD Mimika Tunggu Aturan Resmi

    615 shares
    Bagikan 246 Tweet 154
  • Kepala Puskesmas Atuka Apresiasi Monev Dinkes Mimika, Dorong Perbaikan Layanan

    518 shares
    Bagikan 207 Tweet 130
  • DPMK Mimika Dorong 133 Kampung Susun Program Prioritas 2027

    513 shares
    Bagikan 205 Tweet 128
  • Waspada Influenza! Kenali 8 Gejala dan Cara Mencegahnya

    513 shares
    Bagikan 205 Tweet 128
  • Polisi Amankan 12 Motor Diduga Hasil Curanmor di Mimika, Dua Remaja Ditangkap

    512 shares
    Bagikan 205 Tweet 128
  • Eme Neme Yauware Memanggil: Seruan Mengakhiri Perang Dari Tugu Perdamaian Kota Timika

    536 shares
    Bagikan 214 Tweet 134
Next Post
Anggota DPR Papua Tengah Nancy Raweyai: Pendidikan Kunci Perubahan di Mimika

Anggota DPR Papua Tengah Nancy Raweyai: Pendidikan Kunci Perubahan di Mimika

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id