SYDNEY, Koranpapua.id– Film dokumenter Pesta Babi yang disutradarai oleh jurnalis Dandhy Laksono dan diproduseri oleh jurnalis Victor Mambor, melukiskan perjuangan masyarakat adat di bagian selatan Papua dalam mempertahankan tanah leluhur mereka.
Meskipun film dokumenter Pesta Babi bercerita tentang Indonesia namun film ini justru lebih dahulu tayang di Sydney alih-alih Jakarta.
Setelah pertama kali diputar di Papua, film “Pesta Babi” juga ditayangkan melalui rangkaian acara nonton bareng (Nobar) dan diskusi di berbagai tempat, termasuk di Selandia Baru dan Australia (Sydney).
Menurut Dandhy, pemutaran film kali ini, yaitu pada tanggal 13 Maret 2026 lalu, lebih merupakan pra-screening di mana feedback masih berlangsung.
Mengutip SBS.Com- Pesta Babi menyorot kekhawatiran dan keresahan tentang proyek pembukaan lahan di Papua Barat untuk berbagai kepentingan agribisnis.
Termasuk penanaman tebu yang sebagian hasil panennya akan digunakan untuk bahan bakar bio ethanol.
Dokumenter tersebut menampilkan suara-suara dari masyarakat adat Papua yang merasa bahwa mereka tidak ingin proyek tersebut berlangsung di tanah adat mereka.
Mereka lebih ingin hidup dengan alam yang lestari, dengan sungai yang jernih dan bahan pangan tradisional mereka.
Nama Pesta Babi sendiri mengacu pada upacara tradisional besar melibatkan berbagai klan dalam suku Muyu Papua.
Keberlangsungan pesta babi sangat tergantung pada keadaan alam di sekitar klan-klan yang terlibat.
Pasalnya, untuk mengadakan upacara pesta babi ini, diperlukan persiapan bertahun-tahun.
Di mana babi-babi yang akan dimasak dan disantap dalam upacara dibiarkan berkeliaran di hutan sekitar sampai tiba waktunya disembelih.
Dalam proses ini tersirat rasa hormat antara satu klan dan klan lain karena masing-masing memiliki wilayah dan babi nya sendiri.
Patrick Earle, Direktur Eksekutif Diplomacy Training Program, yaitu program pelatihan bagi kawasan Asia Pasifik yang terafiliasi dengan fakultas Hukum University of New South Wales juga memberikan komentar.
Ia menyatakan bahwa organisasinya menganggap pemutaran film ini sangat relevan dengan misi mereka terkait hak masyarakat adat.
Earle juga mengakui bahwa ada hal-hal yang baru dipelajarinya dalam film ini seperti hubungan antara konsumsi gula di Australia dengan Pembukaan lahan di Papua untuk perkebunan tebu.
Dian Anggreini, seorang mahasiswa Indonesia yang saat ini sedang menimba ilmu di University of New South Wales, adalah salah satu penonton yang hadir dalam pemutaran film Pesta Babi di Sydney.
Ia mengaku terharu melihat ketulusan masyarakat adat Papua dalam mencintai alam. (Redaksi)










