TIMIKA, Koranpapua.id- Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus (Otsus) Papua melakukan pertemuan dengan Presiden Direktur (Presdir) PT Freeport Indonesia (PTFI).
Pertemuan yang berlangsung di Pacific Century Place, Jakarta Selatan, Senin 16 Maret 2026, dihadiri Ketua Komite Eksekutif Papua Velix Vernando Wanggai.
Hadir juga Paulus Waterpauw, Ali Hamdan Bogra, Ignatius Yogo Triyono, John Gluba Gebze, Ari Sihasale, dan sejumlah staf terkait.
Salah satu agenda dalam pertemuan itu yakni, membahas sinergi pembangunan jangka panjang di Papua, termasuk penyelarasan antara Rencana Induk Percepatan Pembangunan Papua (RIPPP) 2022–2041.
Agenda yang dibahas sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2023 dengan rencana jangka panjang PT Freeport Indonesia hingga tahun 2041 bahkan 2061.
Velix Vernando Wanggai mengatakan, pertemuan ini menjadi langkah awal dalam membangun kolaborasi strategis antara Komite Eksekutif Papua dan PT Freeport Indonesia sebagai mitra pembangunan di wilayah Papua.
“Kita membahas grand design pembangunan Papua ke depan, mulai dari pendidikan, kesehatan hingga penguatan ekonomi masyarakat,” ujar Velix seperti dikutip Rabu 18 Maret 2026.
Dalam sektor pendidikan, dibahas program Papua Cerdas yang mencakup pengembangan sekolah sepanjang hari (full day school).
Termasuk pembangunan sekolah berasrama (boarding school), hingga rencana pembangunan perguruan tinggi bertaraf internasional.
Sementara di sektor kesehatan, membahas penguatan layanan kesehatan di wilayah terpencil, termasuk pembangunan Puskesmas serta rencana pembangunan dua rumah sakit guna meningkatkan akses layanan kesehatan bagi masyarakat Papua.
Selain itu, agenda Papua Produktif juga menjadi fokus pembahasan, terutama terkait penguatan peran masyarakat asli Papua dalam kegiatan investasi.
Termasuk pengembangan kawasan ekonomi, serta keterlibatan dalam rantai pasok bisnis PT Freeport Indonesia.
Sebagai tindak lanjut, Komite Eksekutif Papua dan PTFI berencana menyusun nota kesepahaman (MoU) yang mencakup peta jalan (roadmap) kolaborasi periode 2026–2029, serta indikasi program strategis jangka panjang hingga tahun 2041.
Velix menegaskan pentingnya pendekatan baru dalam investasi di Papua yang lebih inklusif dengan mengutamakan keterlibatan masyarakat asli Papua serta peran pemerintah daerah.
“Ke depan harus ada cara baru dalam investasi di Papua, dengan mengutamakan orang asli Papua serta pemerintah daerah,” tegasnya.
Paulus Waterpauw menambahkan bahwa diskusi bersama direksi PTFI berlangsung konstruktif dan mencakup berbagai isu strategis, termasuk potensi pemanfaatan material sisa tambang (tailing) yang dinilai masih memiliki nilai ekonomi.
“Dari sisi investasi, ada potensi yang bisa kita dorong, termasuk pengelolaan sisa hasil tambang yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan pendidikan melalui konsep sekolah berasrama guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Papua.
Paulus Waterpauw menekankan pentingnya menjaga stabilitas keamanan di wilayah operasional PT Freeport Indonesia agar aktivitas perusahaan dapat berjalan optimal. (Redaksi)








