ADVERTISEMENT
Senin, Agustus 17, 2026
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
Koran Papua
No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto
ADVERTISEMENT
Home Kesehatan

Virus ASF di Timika Makin Ganas, Ribuan Ekor Babi Mati, Disnak-Keswan Kuburkan Secara Massal

Media penyebaran virus selain lewat manusia juga melalui lalat, burung dan tikus, kotoran ternak babi itu sendiri dengan masa inkubasi bertahan selama setahun.

16 Februari 2024
0
Virus ASF di Timika Makin Ganas, Ribuan Ekor Babi Mati, Disnak-Keswan Kuburkan Secara Massal

Excavator menggali lubang untuk menguburkan babi yang mati di lahan milik Pemkab Mimika, Jumat 16 Februari 2024. (Foto : Redaksi/Koranpapua.id)

Bagikan ke FacebookBagikan ke XBagikan ke WhatsApp

TIMIKA, Koranpapua.id- Virus African Swine Fever (ASF) semakin ganas menyerang ternak babi di Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Akibatnya ribuan ekor babi milik peternak mati.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak-Keswan) Kabupaten Mimika mengambil kebijakan menguburkan semua babi yang mati secara massal, Kamis 15 Februari 2024.

ADVERTISEMENT

Lokasi penguburan berada di lahan milik pemerintah Kabupaten Mimika yang jauh dari pemukiman warga, sehingga sangat aman untuk ternak babi yang masih sehat.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Berdasarkan data Disnak-Keswan untuk hari Kamis 15 Februari 2024 telah menguburkan 1.176 ekor, dan pada hari Jumat 16 Februari 2024 terdapat 586 ekor milik peternak di Jalan Pisang, Kelurahan Timika Jaya SP2, Arena Lama dan Sam Ratulangi.

Baca Juga

54 Paskibra Mimika Dikukuhkan, Johannes Rettob: Kehormatan Ini Harus Jadi Kekuatan

Di Tengah Pegunungan Papua, Satgas Pasgat Mulia Salurkan Harapan Nyata Lewat Donor Darah HUT ke-81 RI

drh. Sabelina Fitriani, M.Si, Kepala Disnak-Keswan menjelaskan, ternak babi yang mati dikubur secara massal oleh dinas, sementara selebihnya yang tidak terdata dikuburkan oleh masyarakat sendiri.

Karena jumlah babi yang mati jumlah sangat banyak, maka liang kuburnya digali sedalam tujuh meter, selanjutnya ditimbun dengan tanah menggunakan excavator.

Sabelina menghimbau kepada masyarakat pemilik ternak, yang babinya masih dalam kondisi sehat untuk diberikan suntikan serum ScoVet ASF dan vaksin hogkolera untuk mencegah dan antibodi.

Ia menyebutkan populasi ternak babi di Mimika sekarang tersisa 11.800 ekor. Tingginya populasi ini dimasa puncak ASF sehingga biosekuriti kebersihan kandang sangat penting diperhatikan.

Kandang harus disemprot dengan desinfektan, lantai disikat menggunakan baiklin dan sabun. Melarang atau membatasi orang untuk keluar masuk area kandang.

“Apalagi orang yang dari kandang sudah terserang ASF. Itu sangat cepat menular ke babi yang lain,” jelas Sabelina kepada wartawan di lokasi penguburan ternak babi, Jumat 16 Februari 2024.

Dikatakan, larangan orang keluar masuk bebas di kandang, karena virus yang menempel pada baju akan mudah pindah ke ternak babi.

Hal itu bisa mengakibatkan kondisi babi yang awalnya terlihat sehat, dan hanya berselang beberapa waktu bisa langsung mati. Ini dikarenakan virus ASF sekarang makin ganas.

“Yang awalnya babinya terlihat sehat tapi sekarang babinya mati. Virus menempel di baju saat masuk di kandang virusnya menyebar ke babi,” paparnya.

Media penyebaran virus selain lewat manusia juga melalui lalat, burung dan tikus, kotoran ternak babi itu sendiri dengan masa inkubasi bertahan selama setahun.

“Kencing babi juga mengandung virus. Babi mati dan kandang belum steril maka babinya mati lagi kalau dimasukan babi. Virus bertahan enam bulan sampai setahun,” tandasnya.

Kepada peternak, Sabelina mengingatkan untuk hentikan lalulintas ternak. Jangan memindahkan babi ke kandang lain meskipun sudah lama kosong.

Kandang yang kosong secara rutin disemprot dengan disifektan, disikat menggunakan bayclean dan sabun.

“Kami harap para peternakan bersabar dengan situasi ini. Babinya yang masih bertahan dikasih serum ScoVet ASF dan vaksin kolera supaya antibodinya tetap stabil,” saran Sabelina.

Ia mengakui saat ini pihaknya kewalahan untuk turun melayani peternak karena keterbatasan petugas.

Untuk itu, kepada peternak, Sabelina meminta bagi yang bisa menyuntik sendiri silahkan datang ke kantor untuk mengambil serum dan vaksin kolera.

Begitu juga bagi yang belum bisa menyuntik sendiri, dapat menghubungi petugas untuk sama-sama turun menyuntik.

“Petugas terbatas sehingga kita tidak bisa datang ke kandang satu persatu. Peternakan yang bisa menyuntik sendiri kami siapkan peralatannya,” katanya. (Redaksi)

Cek juga berita-berita Koranpapua.id di Google News

Baca Artikel Lainnya

54 Paskibra Mimika Dikukuhkan, Johannes Rettob: Kehormatan Ini Harus Jadi Kekuatan

54 Paskibra Mimika Dikukuhkan, Johannes Rettob: Kehormatan Ini Harus Jadi Kekuatan

16 Agustus 2026
72 Anggota Paskibra PTFI Dikukuhkan, Siap Kibarkan Merah Putih di Kuala Kencana

Di Tengah Pegunungan Papua, Satgas Pasgat Mulia Salurkan Harapan Nyata Lewat Donor Darah HUT ke-81 RI

16 Agustus 2026
Duka Gempa Flores, Flobamora Mimika Buka Donasi: “Saatnya Kita Bergerak untuk Saudara di NTT”

72 Anggota Paskibra PTFI Dikukuhkan, Siap Kibarkan Merah Putih di Kuala Kencana

16 Agustus 2026
Duka Gempa Flores, Flobamora Mimika Buka Donasi: “Saatnya Kita Bergerak untuk Saudara di NTT”

Duka Gempa Flores, Flobamora Mimika Buka Donasi: “Saatnya Kita Bergerak untuk Saudara di NTT”

16 Agustus 2026
Tujuh Personel Polisi Dilaporkan Terluka dalam Demo Protes Penempatan Militer di Papua 

Tujuh Personel Polisi Dilaporkan Terluka dalam Demo Protes Penempatan Militer di Papua 

16 Agustus 2026
Kunker di Papua Tengah, Yorrys Rawayei: Serap Aspirasi untuk Didorong ke Pemerintah Pusat

Yorrys Raweyai: Keberhasilan Otsus Tidak Cukup Diukur dari Besarnya Anggaran, Tapi Manfaat yang Dirasakan Masyarakat 

16 Agustus 2026

POPULER

  • Percepat Pembangunan Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Papua Tengah, Pempus Gelontorkan Rp 355,36 Miliar 

    Percepat Pembangunan Kantor Pusat Pemerintahan Provinsi Papua Tengah, Pempus Gelontorkan Rp 355,36 Miliar 

    908 shares
    Bagikan 363 Tweet 227
  • “Kami Siap Perang” KKB Ingatkan Tidak Boleh Gelar Perayaan HUT RI ke-81 di Kota Wamena

    679 shares
    Bagikan 272 Tweet 170
  • Aksi Gerakan Seribu Rupiah: Dinsos Mimika Minta Rekomendasi, APELCAMI Pertanyakan Dasar Hukumnya 

    590 shares
    Bagikan 236 Tweet 148
  • YPMAK Dorong Pokja Tinggalkan Program Padat Karya, Fokus ke Usaha Produktif dan Berkelanjutan

    573 shares
    Bagikan 229 Tweet 143
  • 13 Kantor Pemerintah di Puncak Dirusak dan Dibakar: Komisi II DPR RI  Desak Mendagri segera Turun Tangan 

    557 shares
    Bagikan 223 Tweet 139
  • Awalnya Sempat Pesimis: Gladys Manuella Aibekob, Wakili Papua Tengah Kibarkan Merah Putih di Istana Negara 

    554 shares
    Bagikan 222 Tweet 139
  • TPS Liar Dirubah Menjadi Jadi Taman Bunga, RT 04 Wanagon Sulap Titik Kumuh Jadi Ruang Cantik 

    552 shares
    Bagikan 221 Tweet 138
Next Post
Virus ASF Tidak Menular ke Manusia, Kerugian Ekonomi Miliaran Rupiah

Virus ASF Tidak Menular ke Manusia, Kerugian Ekonomi Miliaran Rupiah

Alokasi APBN 2024 untuk Mimika dan Puncak Rp4,2 Triliun

Alokasi APBN 2024 untuk Mimika dan Puncak Rp4,2 Triliun

Cacar Monyet Merebak di Indonesia, Reynol: Dinkes Mimika Terima Arahan Kemenkes 

Reynold Ubra Tegaskan Kasus Lumpuh Layuh di Timika Belum KLB Polio, Dinkes Keluarkan Surat Edaran

Koran Papua

© 2024 Koranpapua.id

Menu

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Ikuti Kami

No Result
View All Result
  • Papua
  • Nusantara
  • Politik
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Opini
  • Pendidikan
  • Foto

© 2024 Koranpapua.id