Tim Promosi Kesehatan
TIMIKA, Koranpapua.id – Kabut asap tidak hanya mengaburkan pandangan. Partikel kecil yang ikut masuk saat kita bernapas dapat mengganggu kesehatan, bahkan ketika mata tidak melihat debu di udara.
Bahaya kabut asap perlu mendapat perhatian lebih pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru dan jantung. Mereka membutuhkan perlindungan tambahan ketika kualitas udara memburuk.
Bagi keluarga, langkah awal perlindungan dimulai dengan mengenali risiko. Jangan menunggu anggota keluarga mengalami sesak sebelum mengurangi paparan asap.
Mengapa Anak dan Lansia Lebih Rentan?
Anak-anak masih menjalani proses pertumbuhan, termasuk perkembangan paru-paru. Karena itu, orang tua perlu membatasi paparan asap dan memperhatikan perubahan kondisi pernapasan mereka.
Anak yang memiliki asma membutuhkan perhatian khusus. Asap dapat memperburuk keluhan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Utamakan tempat dengan udara lebih bersih daripada mengandalkan masker semata.
Sementara itu, lansia dan penderita penyakit kronis dapat menghadapi risiko yang lebih besar akibat polusi partikel. Pada orang dengan penyakit jantung, peningkatan paparan PM2.5 dapat memicu gangguan kardiovaskular.
Keluarga perlu memastikan penderita penyakit kronis memiliki obat rutin dan mengikuti rencana pengobatan dari tenaga kesehatan. Jika keluhan memburuk, segera cari pertolongan.
Mengenal PM10, PM2.5, dan PM1
Particulate matter atau PM merupakan campuran partikel padat dan tetesan cairan kecil yang melayang di udara. Sumbernya beragam, mulai dari debu jalan, aktivitas konstruksi, emisi kendaraan, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Angka setelah huruf PM menunjukkan batas ukuran partikelnya. Satu mikrometer setara dengan sepersejuta meter.
| Jenis partikel | Ukuran | Hal yang perlu dipahami |
|---|---|---|
| PM10 | Diameter hingga 10 mikrometer | Dapat masuk ke sistem pernapasan. Kelompok ini juga mencakup partikel yang lebih kecil. |
| PM2.5 | Diameter hingga 2,5 mikrometer | Dapat mencapai bagian dalam paru-paru dan berdampak pada kesehatan paru serta jantung. |
| PM1 | Diameter hingga 1 mikrometer | Merupakan bagian dari kelompok PM2.5, bukan kelompok yang sepenuhnya terpisah. |
PM10 tidak selalu berhenti di hidung atau tenggorokan. Partikel berukuran kecil dapat masuk lebih jauh ke paru-paru. Besarnya risiko juga bergantung pada konsentrasi, lama paparan, komposisi partikel, dan kondisi kesehatan seseorang.
Kenali Keluhan, Jangan Tunggu Sesak Berat
Paparan asap dapat menyebabkan mata perih, tenggorokan terasa tidak nyaman, batuk, mengi, dan kesulitan bernapas. Pada penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asap dapat memperberat gejala.
Keluhan tersebut perlu perhatian, tetapi batuk setelah menghirup asap tidak otomatis berarti seseorang mengalami infeksi. Tenaga kesehatan perlu menilai penyebabnya berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan.
Segera cari pertolongan medis apabila seseorang mengalami sesak berat atau nyeri dada. Orang tua juga perlu segera membawa anak untuk mendapat pemeriksaan jika anak kesulitan bernapas atau tampak sangat lemah.
Pahami ISPU agar Tidak Salah Membaca Angka
Informasi kualitas udara membantu keluarga menentukan kegiatan harian. Di Indonesia, masyarakat dapat menggunakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebagai acuan.
Peraturan Menteri LHK Nomor 14 Tahun 2020 mengatur ISPU. Lima kategorinya meliputi baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, dan berbahaya.
| Nilai ISPU | Kategori | Warna |
|---|---|---|
| 1–50 | Baik | Hijau |
| 51–100 | Sedang | Biru |
| 101–200 | Tidak sehat | Kuning |
| 201–300 | Sangat tidak sehat | Merah |
| Di atas 300 | Berbahaya | Hitam |
Nilai ISPU berbeda dengan konsentrasi PM2.5.
Konsentrasi menunjukkan jumlah partikel dalam udara dengan satuan mikrogram per meter kubik atau µg/m³. Sementara itu, ISPU merupakan hasil konversi konsentrasi pencemar menjadi nilai indeks.
Tabel konversi yang menyertai materi ini menggunakan konsentrasi rata-rata 24 jam. Karena itu, jangan langsung menyamakan angka PM2.5 sesaat dengan angka ISPU. Perhatikan satuan, waktu pengukuran, dan lokasi stasiun sebelum menarik kesimpulan tentang kondisi udara.
Lima Langkah Mengurangi Bahaya Kabut Asap
1. Batasi kegiatan di luar ruangan
Kurangi perjalanan yang tidak mendesak dan tunda olahraga luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Beri perhatian khusus pada aktivitas anak, lansia, dan anggota keluarga dengan penyakit kronis.
2. Jaga udara di dalam rumah
Tutup pintu dan jendela ketika asap dari luar masuk. Jika tersedia, gunakan penyaring udara yang sesuai dengan ukuran ruangan. Hindari merokok, membakar dupa, atau aktivitas lain yang menambah polusi di dalam rumah.
Tetap perhatikan suhu ruangan. Jika rumah menjadi terlalu panas atau asap terus masuk, cari tempat yang lebih sejuk dengan udara lebih bersih.
3. Pilih pelindung pernapasan yang tepat
Jika harus keluar, gunakan respirator seperti N95 yang menutup hidung dan mulut secara rapat. Celah di sekitar wajah dapat mengurangi perlindungannya.
Masker kain dan masker medis tidak memberikan perlindungan setara terhadap partikel halus asap. Respirator juga tidak menyaring seluruh gas berbahaya sehingga pengguna tetap perlu membatasi paparan.
Untuk anak, jangan menganggap respirator dewasa pasti cocok. Ukuran dan kerapatan sangat menentukan efektivitasnya. Jangan memasangkan masker pada anak di bawah usia dua tahun, utamakan lingkungan dengan udara lebih bersih.
4. Siapkan obat rutin dan rencana pertolongan
Penderita asma, PPOK, dan penyakit kronis lainnya perlu mengikuti petunjuk tenaga kesehatan. Pastikan obat tersedia dan anggota keluarga mengetahui langkah yang harus mereka lakukan ketika gejala memburuk.
5. Pantau kualitas udara dan kondisi keluarga
Periksa informasi dari stasiun pemantauan terdekat melalui kanal resmi. Sesuaikan kegiatan dengan kondisi udara, lalu perhatikan apakah anggota keluarga mulai batuk, mengi, atau mengalami gangguan pernapasan.
Udara yang tampak lebih jernih belum tentu bebas dari partikel halus. Kebiasaan memantau kualitas udara dan mengurangi paparan membantu keluarga mengambil tindakan sebelum keluhan menjadi berat.
Sumber :
- Sumber 1: Artikel Resmi Kementerian Kesehatan
Setiaji, B. (2026, September 6). Karhutla di Indonesia: Saat asap datang, kita siap. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan RI. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/karhutla-di-indonesia-saat-asap-datang-kita-siap/ - Sumber 2: Publikasi Kualitas Udara BMKG Bariri
Administrator. (2026, Februari 6). Particulate matter. Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). https://gaw-bariri.bmkg.go.id/publikasi/gawsarium/410-particulate-matter - Sumber 3: Peraturan Menteri (Regulasi Hukum)
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. (2020). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 14 Tahun 2020 tentang Indeks Standar Pencemar Udara. - Sumber 4: Informasi/Publikasi Umum BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (n.d.). Informasi dan publikasi kualitas udara.
Penulis : Tim Promosi Kesehatan Kabupaten Mimika
Editor : Marthen L L Moru








